Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Maulid Nabi: Dari Sultan Irak hingga Tradisi di Tanah Jawa

Findika Pratama • Rabu, 3 September 2025 | 15:00 WIB
Sejarah Maulid Nabi: Dari Sultan Irak hingga Tradisi di Tanah Jawa
Sejarah Maulid Nabi: Dari Sultan Irak hingga Tradisi di Tanah Jawa

BLITAR – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sudah berabad-abad dipraktikkan umat Islam di berbagai penjuru dunia. Meski kini identik dengan pengajian, tumpeng, dan shalawatan, sejarah Maulid Nabi ternyata berakar dari tradisi istana Islam di Timur Tengah.

Catatan sejarah menyebutkan, Maulid Nabi pertama kali dipopulerkan oleh Sultan Al-Muzaffar di Irak pada abad ke-13. Kala itu, ia mengadakan perayaan besar untuk menghormati kelahiran Rasulullah. Rakyat miskin diberi makan, anak yatim disantuni, dan para ulama diundang untuk berceramah.

Dari Irak, tradisi ini menyebar ke berbagai negeri muslim, termasuk ke Nusantara. Di Jawa, Maulid Nabi kemudian berpadu dengan budaya lokal. Tradisi sekaten, grebeg maulud, hingga arak-arakan tumpeng adalah wujud akulturasi Islam dengan kearifan lokal.

Para wali di Tanah Jawa memanfaatkan Maulid Nabi sebagai media dakwah. Dengan menggabungkan shalawat, gamelan, dan pasar rakyat, ajaran Islam bisa diterima masyarakat yang kala itu masih kental dengan budaya Hindu-Buddha. Hingga kini, sekaten di Yogyakarta dan Surakarta masih berlangsung setiap Rabiul Awal.

Namun, sejarah Maulid Nabi juga tidak lepas dari perdebatan. Sebagian ulama menilai perayaan ini adalah bentuk bid’ah, karena tidak pernah dilakukan di masa Rasulullah maupun sahabat. Pandangan ini banyak dianut kelompok salafi yang ingin kembali ke praktik Islam awal.

Meski begitu, ulama besar lain seperti Imam Jalaluddin As-Suyuthi membela tradisi Maulid. Dalam karyanya, ia menjelaskan bahwa memperingati kelahiran Nabi dengan membaca shalawat dan berbagi makanan termasuk amal baik yang dicintai Allah.

Di Nusantara, mayoritas organisasi Islam menerima peringatan Maulid. Nahdlatul Ulama (NU) menjadikannya bagian penting dari kalender keagamaan. Sementara Muhammadiyah lebih menekankan peringatan kelahiran Nabi dengan pengajian dan kajian sejarah Rasulullah.

“Maulid bukan sekadar seremonial. Ia adalah sarana untuk mengingat perjuangan Rasulullah dan menghidupkan semangat meneladani akhlaknya,” kata KH Anwar, salah satu pengasuh pesantren di Blitar.

Dalam praktiknya, Maulid Nabi di Indonesia punya banyak variasi. Ada yang fokus pada pengajian kitab Barzanji, ada pula yang menekankan sedekah dan santunan sosial. Semua itu berpijak pada semangat mencintai Nabi dan menebarkan manfaat bagi sesama.

Ahli sejarah Islam, Ali Ahmad, menyebut perbedaan pandangan soal Maulid Nabi justru menjadi bukti kekayaan tradisi Islam. “Di satu sisi ada yang menolak, di sisi lain ada yang mengembangkan. Umat bisa belajar bahwa Islam memberi ruang bagi keragaman ijtihad,” ujarnya.

Di Blitar, peringatan Maulid biasanya dipusatkan di masjid-masjid besar. Ribuan jamaah berkumpul, mendengarkan ceramah tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW. Tidak jarang, acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan bangsa dan daerah.

Masyarakat percaya, Maulid Nabi membawa berkah tersendiri. Tak hanya doa, mereka juga meyakini keberkahan dari makanan yang dibagikan. Bahkan tradisi “ngalap berkah” dari tumpeng Maulid masih hidup hingga sekarang.

Tradisi ini menggambarkan betapa dalamnya cinta umat kepada Rasulullah. Bagi mereka, memperingati kelahiran Nabi bukan sekadar ritual, tapi bentuk syukur atas hadirnya sosok pembawa cahaya Islam.

Seiring perkembangan zaman, Maulid Nabi di Indonesia juga dikemas lebih modern. Beberapa komunitas pemuda membuat acara festival islami, lomba hadrah, hingga konten dakwah digital bertema sejarah Nabi. Semua ini menunjukkan bahwa Maulid bisa terus beradaptasi.

Meski ada perdebatan, semangat cinta Rasulullah tetap menjadi titik temu. Umat Islam bisa berbeda cara memperingatinya, tapi tujuannya sama: meneladani akhlak Nabi.

“Selama tidak melanggar syariat, Maulid bisa jadi momentum positif. Jangan sampai perbedaan cara membuat kita terpecah,” pesan KH Anwar.

Kini, setiap bulan Rabiul Awal, Blitar dan daerah lain di Indonesia selalu semarak. Dari desa hingga kota, umat Islam menyatukan hati dalam shalawat dan doa. Tradisi ini menjadi jembatan antara sejarah panjang Islam dan kehidupan masyarakat modern.

Maulid Nabi pun terbukti bukan hanya warisan sejarah, tapi juga ruang untuk memperkuat identitas keagamaan dan kebudayaan bangsa. Dari Irak hingga Jawa, dari istana sultan hingga mushala desa, Maulid terus hidup sebagai bukti cinta kepada Rasulullah.

Editor : Anggi Septian A.P.
#maulid nabi #sejarah islam #Tradisi Jawa