BLITAR – Setiap bulan Rabiul Awal, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW hampir tak pernah absen dari masjid hingga mushala di Indonesia. Namun di balik semarak shalawat dan pengajian, perdebatan tentang hukum Maulid Nabi masih terus berlangsung.
Sebagian ulama dan ormas Islam menganggap Maulid Nabi sebagai sarana menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah. Mereka menilai, tradisi ini bisa menjadi media dakwah yang menyatukan umat.
Namun di sisi lain, ada juga kelompok yang menolak. Mereka berargumen bahwa Maulid Nabi tidak pernah dilakukan Rasulullah maupun para sahabat, sehingga dianggap bid’ah.
Di Blitar sendiri, peringatan Maulid Nabi selalu dipenuhi jamaah. Dari anak-anak hingga orang tua ikut larut dalam lantunan shalawat. Meski begitu, sebagian masyarakat tetap bertanya-tanya: apakah perayaan ini benar-benar dianjurkan agama?
KH Abdullah, pengasuh salah satu pesantren di Kabupaten Blitar, menegaskan Maulid Nabi punya nilai positif. “Intinya adalah mengingat perjuangan Nabi dan meneladani akhlaknya. Kalau isinya pengajian, shalawat, dan sedekah, itu jelas baik,” katanya.
Ia mengutip pendapat ulama besar Imam Jalaluddin As-Suyuthi yang membolehkan perayaan Maulid. Dalam kitabnya, Imam Suyuthi menulis bahwa bersyukur atas kelahiran Nabi adalah amal saleh yang mendatangkan pahala.
Berbeda dengan pandangan itu, kelompok salafi-wahabi menolak tegas peringatan Maulid. Mereka berargumen bahwa menambah ritual baru dalam agama sama saja dengan membuat bid’ah. Pandangan ini kerap menimbulkan perdebatan di masyarakat.
“Kalau Rasulullah dan sahabat tidak pernah merayakan, berarti itu bukan bagian dari syariat. Umat cukup meneladani Nabi setiap hari, bukan dengan seremonial tahunan,” kata Ustaz Ahmad, salah satu tokoh yang menolak tradisi Maulid.
Perbedaan pendapat ini sebenarnya sudah berlangsung berabad-abad. Namun di Indonesia, mayoritas ormas Islam memilih jalur moderat. Nahdlatul Ulama (NU) bahkan menjadikan Maulid sebagai momen penting dalam kalender keagamaan.
Muhammadiyah memiliki pendekatan berbeda. Meski tidak menolak, mereka menekankan bahwa Maulid Nabi sebaiknya diisi dengan kajian sejarah Rasulullah dan penguatan akhlak umat, bukan sekadar seremonial.
Pengamat Islam, Nur Hidayat, menilai perdebatan soal Maulid akan terus ada. “Keduanya punya dalil masing-masing. Tantangannya adalah bagaimana umat tidak terpecah karena perbedaan pandangan,” jelasnya.
Di lapangan, masyarakat justru cenderung lebih fleksibel. Bagi mereka, Maulid Nabi bukan soal hukum fikih semata, melainkan momentum kebersamaan. Dari santunan anak yatim, pembagian nasi berkat, hingga doa bersama, semua dianggap sarana untuk meraih berkah.
Tradisi Maulid di Blitar, misalnya, masih lestari hingga kini. Jamaah tumplek blek di masjid-masjid besar, membawa tumpeng dan makanan untuk dibagikan. Bahkan ada desa yang menggelar kirab budaya, menandakan kuatnya perpaduan antara ajaran Islam dan kearifan lokal.
Sosiolog dari UIN Malang, Anis Shobirin, menyebut Maulid Nabi sebagai ekspresi budaya religius. “Kalau dilarang total, itu sama saja memutus identitas keagamaan masyarakat. Yang penting adalah menjaga substansi agar tidak berlebihan,” katanya.
Perdebatan soal bid’ah atau tidak memang tidak mudah diselesaikan. Tetapi menurut para tokoh moderat, Maulid bisa dijadikan sarana mempererat ukhuwah. Selama acaranya diisi dengan kebaikan, tradisi ini tetap sejalan dengan nilai-nilai Islam.
KH Abdullah bahkan menegaskan, cinta umat kepada Rasulullah tidak boleh dibatasi. “Mau peringatan di masjid, di rumah, atau di alun-alun, semua sah-sah saja. Asal tujuannya jelas: meneladani Nabi,” tegasnya.
Sementara itu, kelompok yang menolak Maulid mengingatkan umat agar tidak larut dalam euforia. Mereka menekankan pentingnya kembali kepada Alquran dan Sunnah tanpa menambah ritual baru.
Meski berbeda pandangan, di akar rumput masyarakat lebih memilih jalan tengah. Peringatan Maulid dijadikan ajang silaturahmi, sedekah, dan menghidupkan kembali sirah Nabi Muhammad SAW.
Pada akhirnya, pro-kontra Maulid Nabi menggambarkan dinamika pemikiran Islam yang hidup. Umat bisa berbeda cara memuliakan Nabi, tetapi cinta kepada Rasulullah tetap menjadi tujuan bersama.
Editor : Anggi Septian A.P.