BLITAR – Cabang Dinas Pendidikan (Cabdindik) Wilayah Blitar memastikan tidak ada pelajar yang dikeluarkan dari sekolah meski terlibat dalam kerusuhan di depan Polres Kota Blitar beberapa waktu lalu. Anak-anak yang terlibat sebisa mungkin untuk dibina dan dipulihkan mentalnya agar tetap bisa melanjutkan pendidikan.
Kepala Seksi (Kasi) SMA, Pendidikan Khusus, dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) di Cabdindik Wilayah Blitar, Abusani Abizalfa, mengatakan telah melakukan pendataan terhadap siswa yang diamankan aparat kepolisian pasca aksi anarkis tersebut.
Dari hasil pendataan, setidaknya ada 16 siswa SMA/SMK yang tercatat terlibat. “Sebagian di antaranya memang ikut dalam aksi, sementara sebagian lainnya hanya kebetulan berada di lokasi untuk nongkrong dan menonton,” ungkapnya kepada Koran ini, Rabu (10/9/2025).
Meski begitu, cabdindik menegaskan bahwa para siswa tersebut tetap mendapatkan haknya untuk bersekolah. Dia menolak wacana mengeluarkan mereka dari sekolah dengan alasan apa pun. “Kami dorong sekolah untuk melakukan pembinaan. Jangan sampai dikeluarkan, karena itu justru bisa membuat anak-anak semakin terpuruk dan merusak masa depan mereka,” tegasnya.
Menurutnya, saat ini pembinaan tengah dilakukan oleh orang tua bersama sekolah masing-masing. Guru bimbingan konseling (BK) juga dilibatkan untuk memberikan pendampingan intensif. Jika ada siswa yang mengalami trauma akibat kejadian tersebut, Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar disebut siap menurunkan psikolog untuk membantu pemulihan psikis mereka.
Selain pembinaan, langkah preventif juga diperkuat agar kejadian serupa tidak terulang. Seluruh SMA/SMK di Kota Blitar kini sudah menggelar deklarasi damai. Tujuannya untuk meneguhkan komitmen siswa agar tidak mudah terprovokasi dan menjauhi aksi kekerasan.
Cabdindik juga menggandeng TNI-Polri untuk turun langsung ke sekolah-sekolah. Bahkan, aparat kepolisian mulai dilibatkan menjadi pembina upacara guna memberikan edukasi dan pembinaan disiplin sejak dini. “Kami juga libatkan orang tua melalui paguyuban untuk lebih aktif memantau anak-anak ketika di luar sekolah,” ujarnya.
Di sisi lain, setiap sekolah juga diminta membentuk satgas keamanan internal untuk menjaga situasi tetap kondusif. Dengan berbagai langkah ini, siswa diharapkan tidak lagi terlibat dalam aksi anarkis dan bisa fokus pada kegiatan belajar mengajar di sekolah.
Untuk diketahui, polisi mengamankan ratusan anak usai beraksi anarkis di depan Polres Kota Blitar pada akhir Agustus lalu. Hasil pemeriksaan diketahui bahwa sebagian dari mereka dalam pengaruh miras dan narkoba. Mirisnya, mereka berstatus masih pelajar. Tak hanya jenjang SMA, tetapi ada yang masih SMP. (sub/c1/ady) (*)
Editor : M. Subchan Abdullah