BLITAR - Seorang ustazah mengingatkan para orang tua untuk berhenti menyebut generasi muda dengan label negatif seperti “generasi rebahan” atau “generasi mager”. Pesan ini disampaikan dalam sebuah seminar parenting di Purwokerto, Jawa Tengah, yang dihadiri ratusan peserta dari berbagai kalangan.
Menurutnya, label yang diberikan orang tua bisa memengaruhi cara kerja otak anak. Karena itu, stigma negatif yang terlanjur disematkan justru bisa menjadi sugesti buruk yang melekat pada perilaku generasi muda.
“Stop bilang mereka generasi mecin, stop bilang generasi rebahan. Karena otak manusia apa yang dilabel itu yang akan terjadi,” ujarnya di hadapan peserta.
Perbedaan Otak Antar Generasi
Dalam penjelasannya, ustazah menyebut bahwa setiap generasi memiliki cara kerja otak yang berbeda. Anak-anak yang lahir di era digital memiliki kapasitas otak yang lebih canggih dalam menyerap informasi. Mereka senang dengan penjelasan logis dan detail, bukan sekadar kode singkat seperti generasi sebelumnya.
“Kalau dulu orang tua hanya kasih kode mata atau tangan, anak langsung paham. Sekarang anak-anak perlu penjelasan. Karena otak mereka memang menyukai informasi,” terangnya.
Oleh karena itu, perbedaan ini jangan sampai dijadikan bahan perbandingan yang menjatuhkan. Orang tua diingatkan agar lebih bijak dalam menyesuaikan pola komunikasi dengan anak-anak generasi sekarang.
Bahaya Label Negatif
Ustazah menegaskan, membiasakan diri melabeli anak dengan sebutan buruk akan menurunkan rasa percaya diri. Lebih jauh, label itu bisa memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.
“Kalau anak kita terus-terusan disebut generasi rebahan, maka otaknya akan merekam hal itu dan dia akan percaya dirinya memang begitu. Padahal kenyataannya, banyak dari mereka lebih Qurani, hafal Al-Qur’an sejak dini, bahkan punya potensi luar biasa,” jelasnya.
Ia mendorong para orang tua untuk mengganti label negatif dengan label positif. Misalnya, menyebut anak sebagai generasi Rabbani atau generasi Qurani agar mereka tumbuh dengan keyakinan positif tentang dirinya.
Baca Juga: Hemat Biaya dan Bebas Ribet? Ini Fakta di Balik Sertifikat Tanah Elektronik
Stop Banding-Bandingkan Zaman
Selain soal label, ustazah juga menyinggung kebiasaan orang tua yang sering membandingkan kondisi masa lalu dengan masa kini. Menurutnya, kebiasaan itu hanya akan membuat anak semakin kesal.
“Anak-anak tidak suka dibandingkan. Kalau mau cerita masa lalu, ceritakan saja pengalaman tanpa tambahan kalimat yang merendahkan mereka. Jangan sampai bilang, ‘Ibu dulu susah, naik sepeda, kamu sekarang naik mobil masih telat juga.’ Itu bikin anak merasa tidak dihargai,” katanya.
Sebaliknya, anak justru senang mendengar pengalaman orang tua tanpa embel-embel perbandingan. Cara ini dianggap lebih efektif membangun kedekatan emosional.
Peran Penting Orang Tua
Seminar ini juga membahas tentang pentingnya stimulasi sejak dini. Ustazah mengingatkan bahwa proses pembelajaran pada anak membutuhkan pengulangan agar koneksi otak semakin kuat.
Ia mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW mengulang-ulang ayat Al-Qur’an kepada para sahabat sampai benar-benar dipahami. Prinsip ini juga berlaku dalam mendidik anak. “Kalau anak belum paham, ulangi saja lagi. Jangan putus asa. Karena setiap pengulangan akan memperkuat sambungan neuron di otaknya,” jelasnya.
Selain pengulangan, tiga faktor utama yang memengaruhi kerja otak anak adalah nutrisi, situasi, dan emosi. Karena itu, pola asuh sebaiknya dilakukan dalam kondisi yang baik agar hasilnya optimal.
Generasi yang Lebih Qurani
Menutup materinya, ustazah mengingatkan bahwa meski sering dicap negatif, generasi saat ini justru memiliki keunggulan. Banyak anak di usia dini sudah hafal Al-Qur’an, sesuatu yang jarang ditemui pada generasi sebelumnya.
“Anak-anak sekarang lebih Qurani. Jangan sampai mereka tumbuh dengan label yang salah. Mari sepakat untuk melabeli mereka dengan yang positif,” tegasnya.
Pesan ini sontak disambut tepuk tangan meriah dari peserta seminar. Para orang tua diingatkan kembali bahwa kata-kata mereka adalah doa yang bisa menentukan masa depan anak-anaknya.
Editor : Anggi Septian A.P.