BLITAR – Pertengkaran orang tua ternyata bisa terekam dalam memori anak sejak masih berada di dalam kandungan. Fakta ini terungkap dalam seminar parenting di Purwokerto, Jawa Tengah, yang membahas hubungan antara neurosains dan pola asuh Islami.
Seorang ustazah yang menjadi pembicara menjelaskan bahwa janin bukan sekadar menerima nutrisi dari sang ibu, tetapi juga ikut merasakan kondisi emosional orang tuanya.
“Kalau orang tua sering bertengkar, janin bisa merekam itu. Efeknya terbawa sampai ia remaja,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta.
Rekaman Emosi Sejak dalam Rahim
Menurutnya, otak janin sudah mulai merekam pengalaman sejak usia kandungan tertentu. Hal itu bukan hanya terkait suara lembut ibu atau lantunan doa, tetapi juga pertengkaran dan emosi negatif.
“Kalau ibu sering menangis karena stres, janin ikut merasakan. Kalau ayah sering marah-marah, itu juga ikut direkam. Jadi jangan dikira janin tidak tahu apa-apa,” jelasnya.
Neurosains modern pun membuktikan bahwa hormon stres yang dilepaskan tubuh ibu saat marah atau sedih bisa menembus plasenta dan memengaruhi perkembangan otak janin.
Efek Jangka Panjang
Dampak pertengkaran orang tua tidak berhenti pada masa kandungan. Anak yang sejak janin terbiasa mendengar konflik berisiko tumbuh dengan karakter mudah cemas, kurang percaya diri, atau bahkan temperamental.
“Banyak remaja yang mudah marah, ternyata itu rekaman sejak dalam rahim. Mereka terbiasa dengan suasana penuh pertengkaran,” kata ustazah tersebut.
Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga suasana hati dan lingkungan emosional selama kehamilan. Setiap emosi positif yang diberikan orang tua akan menjadi bekal berharga bagi tumbuh kembang anak.
Baca Juga: Bikin Takjub, Cuma Pakai QR Code Tanah Bisa Dicek Keasliannya!
Doa dan Komunikasi Positif
Untuk mencegah dampak buruk, ustazah menganjurkan orang tua memperbanyak doa dan komunikasi positif sejak masa kehamilan. Membacakan Al-Qur’an, berdzikir, dan mengajak janin berbicara dengan kata-kata lembut bisa memberikan pengaruh baik.
“Kalau anak sejak janin terbiasa mendengar doa dan ayat suci, insyaallah mereka tumbuh jadi anak yang lebih tenang dan berakhlak baik,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa doa ayah dan dukungan suami memiliki peran penting. Ayah yang menjaga emosi dan memberikan perhatian membuat ibu lebih bahagia, sehingga janin pun berkembang dalam suasana yang sehat.
Stop Bertengkar di Depan Anak
Selain janin, anak yang sudah lahir pun tetap peka terhadap konflik orang tuanya. Ustazah mengingatkan agar suami-istri sebisa mungkin menghindari pertengkaran di depan anak-anak.
“Kalau bertengkar, anak merekam itu. Nanti dia bisa mengulang pola yang sama saat dewasa. Jadi berhati-hatilah,” katanya.
Ia menyarankan pasangan untuk menyelesaikan perbedaan pendapat dengan komunikasi yang lebih sehat. Jika memang harus berdebat, lakukan di ruang pribadi tanpa melibatkan anak.
Generasi yang Lebih Qurani
Meski begitu, ustazah menambahkan bahwa generasi saat ini justru punya peluang besar untuk tumbuh menjadi lebih Qurani. Banyak anak di era sekarang sudah hafal Al-Qur’an sejak usia dini.
“Kalau orang tua menjaga doa, emosi, dan nutrisi sejak hamil, anak bisa tumbuh jadi generasi Rabbani. Jangan biarkan mereka tumbuh dengan rekaman pertengkaran,” tegasnya.
Pesan ini mendapat sambutan hangat dari peserta seminar. Banyak orang tua yang mengaku baru menyadari betapa pentingnya menjaga emosi selama kehamilan.
Baca Juga: Jalur Wlingi Blitar-Ngantang Malang Segera Alih Status Jadi Jalan Provinsi
Seminar parenting ini pun ditutup dengan ajakan untuk mengubah pola pikir dalam rumah tangga. Pertengkaran yang tidak terkontrol bukan hanya merusak hubungan suami-istri, tetapi juga bisa meninggalkan jejak mendalam pada anak sejak ia belum lahir.
“Anak adalah amanah. Mari jaga hati, jaga lisan, dan jaga suasana rumah agar mereka tumbuh menjadi generasi yang lebih baik,” pungkasnya.
Editor : Anggi Septian A.P.