BLITAR KAWENTAR - Esai pendaftaran kuliah sering menjadi penentu diterima atau tidaknya seorang calon mahasiswa di universitas impian.
Melalui pengalaman pribadi, Maudy Ayunda dan Jesse Choi berbagi strategi menulis esai yang mampu menonjolkan keunikan diri sekaligus menunjukkan kedalaman pemikiran.
Maudy Ayunda dan Jesse Choi membahas pengalaman mereka menulis personal statement untuk pendaftaran kuliah di Amerika Serikat dan Inggris.
Baca Juga: Dulu Diremehkan, Kini Produk Lokal BLP Beauty Jadi Andalan Anak Muda!
Jesse menyoroti pengalamannya menulis esai bertema terowongan kuantum. Ia menghubungkan konsep ilmiah tersebut dengan filosofi hidup, bahwa sesuatu yang tampak mustahil tetap memiliki peluang untuk terjadi.
Pendekatan ini menunjukkan minat intelektual mendalam sekaligus refleksi personal yang jarang ditemukan pada esai mahasiswa lain.
Sementara itu, Maudy memilih untuk menulis tentang ketertarikannya pada politik, filsafat, dan ekonomi (PPE) melalui refleksi terhadap sejarah Perang Dunia.
Baca Juga: Setengah Karyawan Gen Z, Begini Cara Lizzie Parra Kelola Tim BLP Beauty Biar Tetap Produktif!
Ia menguraikan bagaimana ideologi politik kecil dapat berubah menjadi konflik global dengan dampak besar bagi jutaan manusia.
Baginya, pengalaman belajar sejarah modern membuka kesadaran baru tentang peran ideologi dalam membentuk dunia.
Dari kedua cerita itu, terdapat benang merah penting: esai yang kuat tidak harus panjang atau penuh istilah akademis.
Baca Juga: Dulu Diremehkan Produk Lokal, Kini Lizzie Parra Buktikan BLP Beauty Jadi Brand Favorit Anak Muda!
Sebaliknya, esai yang berhasil adalah esai yang spesifik, jujur, dan mampu menunjukkan kepribadian penulis.
Baik Jesse maupun Maudy sepakat bahwa personal statement bukanlah sekadar daftar prestasi, melainkan wadah untuk menampilkan cara berpikir, rasa ingin tahu, dan passion.
Bagi calon mahasiswa, kunci keberhasilan menulis esai adalah memilih topik yang unik namun relevan, mampu membangun narasi personal, serta menyampaikan gagasan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca—terutama panitia seleksi yang menilai ribuan esai dalam waktu singkat.
Pengalaman Maudy Ayunda dan Jesse Choi membuktikan bahwa esai kuliah terbaik adalah yang autentik dan merefleksikan kepribadian penulis.
Baca Juga: Berani Tinggalkan Karier Mapan di L’Oreal, Lizzie Parra Pilih Jadi Makeup Artist Freelance!
Esai bukan hanya sekadar syarat administratif, melainkan cermin pemikiran dan karakter. Jangan takut terlihat “nerdy” atau berbeda, karena justru itu yang membuat tulisan menjadi berkesan. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah