BLITAR KAWENTAR - Bagaimana cara calon mahasiswa menulis esai pendaftaran yang menarik perhatian panitia seleksi?
Menurut Maudy Ayunda, kunci utamanya bukan sekadar prestasi, melainkan keberanian menampilkan suara autentik yang merefleksikan cara pandang terhadap dunia.
Dalam video bersama Jesse Choi, Maudy Ayunda membagikan pengalamannya menulis esai untuk pendaftaran universitas di Inggris melalui jalur UCAS.
Baca Juga: Bongkar Mafia Tanah! BPN Akhirnya Bicara Soal Sertifikat Bodong
Ia memilih jurusan Politics, Philosophy, and Economics (PPE) dan menjadikan sejarah modern sebagai titik awal narasinya.
Maudy menulis tentang pelajaran dari Perang Dunia, terutama bagaimana ideologi kecil bisa berkembang menjadi konflik global dengan korban jutaan jiwa.
Baginya, pengalaman ini membuka kesadaran baru bahwa dunia dibentuk oleh gagasan politik dan filosofi yang tampaknya sederhana, namun memiliki dampak besar.
Baca Juga: 22 Tahun Setia di BPN! Kisah Harrison Mocodompis yang Anggap Kerja Sebagai Ibadah
Dengan pendekatan ini, Maudy menunjukkan bahwa esai bukan sekadar laporan kegiatan atau daftar penghargaan, melainkan ruang untuk mengungkapkan refleksi pribadi dan kepekaan sosial.
Ia bahkan menekankan, menulis tentang pencapaian di dunia hiburan mungkin terlalu “tertebak”, sementara menyoroti isu ideologi politik justru memperlihatkan kedewasaan berpikir yang lebih kompleks.
Strategi ini juga menjawab pertanyaan “Apa yang dicari panitia seleksi?” Jawabannya adalah kejujuran, passion, dan kemampuan menalar keterkaitan antara ilmu dengan realitas hidup.
Dengan kata lain, panitia ingin tahu siapa calon mahasiswa sebenarnya, bukan sekadar apa yang sudah ia capai.
Pengalaman Maudy Ayunda menulis esai kuliah mengajarkan bahwa keberhasilan esai terletak pada keaslian suara penulis. Esai harus mampu memotret cara berpikir, rasa ingin tahu, dan nilai-nilai yang diyakini.
Bagi calon mahasiswa, keberanian menampilkan sisi personal sering kali lebih memikat daripada sekadar memamerkan prestasi. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah