Dari Meksiko ke Indonesia: Perjalanan Buah Naga Menjadi Superfood Populer
Rahma Nur Anisa• Selasa, 16 September 2025 | 18:00 WIB
Buah naga, yang dulunya hanya bisa dinikmati kalangan menengah atas.
BLITAR KAWENTAR - Buah naga, yang dulunya hanya bisa dinikmati kalangan menengah atas, kini menjadi buah tropis terjangkau dengan segudang manfaat kesehatan. Bagaimana transformasi ini terjadi?
Siapa sangka buah bersisik merah muda dengan daging putih berbintik hitam ini dulunya adalah makanan eksklusif? Buah naga (Hylocereus spp.), atau yang dikenal sebagai pitaya di negara asalnya, telah menjelma dari buah langka menjadi superfood yang mudah dijumpai di pasar tradisional hingga supermarket modern.
Buah naga berasal dari kaktus epifit yang tumbuh liar di hutan-hutan Meksiko, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan.
Suku Aztec dan Maya telah mengonsumsi buah ini selama ribuan tahun, tidak hanya sebagai makanan tetapi juga memanfaatkan khasiat kesehatannya.
Pada abad ke-19, para penjelajah dan pelaut membawa buah ini ke Asia Tenggara, khususnya Vietnam dan Thailand.
Vietnam kemudian menjadi eksportir terbesar dunia dengan sebutan lokal "thanh long" yang berarti naga hijau. Dari sinilah nama "dragon fruit" atau buah naga menyebar ke seluruh dunia.
Di Indonesia, terdapat tiga varietas utama yang diperjualbelikan:
Buah naga putih (Hylocereus undatus): Rp10.000-20.000/kg, rasa cenderung hambar namun kandungan air tinggi
Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus): Rp15.000-30.000/kg, lebih manis dengan antioksidan tinggi
Buah naga kuning (Hylocereus megalanthus): Rp40.000-70.000/kg, paling manis dan langka
Buah naga kaya akan vitamin C, betalain (antioksidan kuat), serat, omega-3, dan omega-6. Manfaat utamanya meliputi:
Meningkatkan sistem kekebalan tubuh
Melancarkan pencernaan berkat kandungan serat tinggi
Menjaga kesehatan jantung melalui asam lemak sehat di bijinya
Mengontrol gula darah dengan indeks glikemik rendah
Melawan radikal bebas sebagai anti-aging alami
Indonesia, khususnya Jawa Timur (Banyuwangi dan Jember), telah menjadi sentra produksi buah naga.
Tanaman kaktus ini dapat hidup 20-30 tahun dan mulai berbuah setelah 1-2 tahun jika ditanam dari stek batang.
Hal ini menjadikannya investasi jangka panjang yang menjanjikan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat.
Transformasi buah naga dari barang mewah menjadi komoditas rakyat menunjukkan bagaimana globalisasi dan inovasi pertanian dapat membuat nutrisi berkualitas tinggi dapat diakses semua kalangan.
Filosofi buah naga mengajarkan bahwa sesuatu yang tampak sederhana bahkan "jelek" sekalipun dapat memberikan manfaat luar biasa. (*)