Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Belajar Hidup di Negeri Orang: Kisah Inspiratif Perantau Blitar di Jerman

Rahma Nur Anisa • Rabu, 17 September 2025 | 02:00 WIB

 

Setiap langkah merefleksikan proses adaptasi dan pembelajaran yang dialami di negeri rantau.
Setiap langkah merefleksikan proses adaptasi dan pembelajaran yang dialami di negeri rantau.

BLITAR KAWENTAR - Merantau sering dianggap menakutkan. Namun bagi Andriani Koliatin, setiap langkah di negeri asing adalah sekolah kehidupan yang membentuk kemandirian dan memperluas wawasan.

Perjalanan Andriani bermula pada 2018, ketika ia memutuskan berangkat ke Malaysia. Di negeri jiran itu, ia bekerja keras menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, memulai karier dari posisi bawah, hingga akhirnya dipercaya menjadi clerk setelah satu setengah tahun.

Lima tahun pengalaman tersebut bukan hanya memberinya penghasilan, tetapi juga pelajaran berharga tentang arti ketekunan, disiplin, dan keberanian mengambil kesempatan.

BLITAR KAWENTAR - Tahun 2024 menjadi titik baru dalam hidupnya. Andriani berangkat ke Jerman melalui program Ausbildung, sebuah jalur yang menggabungkan sekolah, kerja, dan pelatihan profesional.

Berbeda dengan pengalamannya di Malaysia, di Jerman ia menghadapi tantangan yang lebih kompleks. Selain harus memenuhi syarat administratif seperti sertifikat bahasa Jerman minimal level B1, motivation letter, dan CV sesuai standar Eropa, ia juga dituntut menyiapkan mental yang kuat.

Motivasinya sederhana, namun sarat makna: belajar. Baginya, bumi terlalu luas jika hanya dijalani di satu tempat. “Dimanapun kita berada, ada ilmu dan pengalaman yang bisa dipelajari. Itulah alasan saya berani keluar dari zona nyaman,” ujarnya.

Baca Juga: Welcome to the Black Parade: Masterpiece Emosional My Chemical Romance yang Lahir dari Kesedihan Mendalam

Di Jerman, ia berusaha memahami budaya baru, bahasa yang berbeda, serta sistem kerja yang disiplin. Tantangan yang awalnya berat mulai dari iklim dingin, cara berkomunikasi, hingga budaya berjalan kaki perlahan ia terima sebagai bagian dari perjalanan yang memperkaya dirinya.

Meski demikian, kerinduan pada tanah air sering kali hadir. Andriani punya cara sederhana untuk mengatasinya memasak sendiri masakan Indonesia, atau sekadar menikmati cokelat untuk meredakan stres.

Terkadang ia juga memilih berjalan santai di sore hari untuk menenangkan pikiran. Bagi Andriani, hal-hal kecil semacam itu penting agar dirinya tetap seimbang di tengah padatnya jadwal kerja dan belajar.

Baca Juga: Soto Lamongan hingga Rujak Soto, Kuliner Jawa Timur yang Satukan Banyak Daerah

Lebih jauh, ia menekankan bahwa anak muda Indonesia tidak perlu takut untuk mencoba merantau. Hidup di luar negeri, katanya, tidak semenakutkan bayangan selama kita mempersiapkan diri dengan baik.

Persiapan mental, informasi mendetail tentang negara tujuan, hingga kemampuan menerima perbedaan adalah kunci keberhasilan. “Kalau kita berani mencoba, dunia ini akan membuka banyak pintu,” pesannya.

Refleksi Andriani juga menyentuh soal peran generasi muda bagi tanah air. Ia percaya bahwa pengalaman di luar negeri sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk menetap selamanya.

Justru, anak muda harus kembali membawa hal positif bagi Indonesia baik dalam bentuk ilmu, pengalaman kerja, maupun cara pandang baru. Dengan begitu, perantauan menjadi jembatan untuk memperkuat bangsa, bukan sekadar pelarian.

Baca Juga: Ritual Ruwatan di Gunung Lawu dan Kesakralan Situs Pelanggatan

Kisah Andriani Koliatin menjadi bukti nyata bahwa merantau adalah proses pembelajaran yang utuh tentang hidup, keberanian, dan tanggung jawab.

Setiap tantangan adalah guru, setiap kesulitan adalah ujian, dan setiap keberhasilan adalah bekal. Ia mengajarkan bahwa merantau bukan sekadar meninggalkan tanah air, melainkan menempuh perjalanan panjang menuju kemandirian dan kebijaksanaan. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#Rantau #warga blitar #Ke Luar Negeri #jerman #malaysia #belajar