Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Rajin vs Malas: Mana yang Lebih Menentukan Kesuksesan?

Rahma Nur Anisa • Rabu, 17 September 2025 | 17:00 WIB

 

Pertanyaan “mana yang lebih menentukan kesuksesan, rajin atau malas?” sebenarnya keliru.
Pertanyaan “mana yang lebih menentukan kesuksesan, rajin atau malas?” sebenarnya keliru.

BLITAR KAWENTAR - Selama ini, kesuksesan sering dihubungkan dengan kerja keras dan kerajinan. Sejak kecil, kita dijejali pepatah “rajin pangkal pandai” dan . Namun, psikologi modern menunjukkan kenyataan lebih kompleks. Rajin memang memberi keuntungan, tetapi malas pun tidak selalu membawa kegagalan. Lalu, mana sebenarnya yang lebih menentukan kesuksesan?

Dalam teori Big Five Personality Traits, rajin identik dengan tingginya skor conscientiousness. Individu dengan skor ini biasanya memiliki disiplin tinggi, terorganisir, dan konsisten dalam mengejar tujuan. Mereka cocok untuk pekerjaan yang menuntut ketelitian, seperti akuntansi, penelitian, kedokteran, dan administrasi.

Rajin memiliki sejumlah keuntungan nyata. Orang rajin lebih mudah menyelesaikan tugas tepat waktu, dipercaya oleh orang lain, serta sering dipandang sebagai figur yang bisa diandalkan. Tidak heran, banyak organisasi menjadikan kerajinan sebagai indikator kinerja utama.

Baca Juga: Tingkatkan Kualitas Pelayanan, BPN Jatim Gembleng Petugas Loket Se-Jawa Timur

Namun, rajin bukan tanpa kelemahan. Terlalu disiplin kadang membuat seseorang kaku dan sulit beradaptasi. Dalam dunia yang berubah cepat, kebiasaan berpegang pada rencana detail justru bisa memperlambat respons terhadap situasi baru.

Sebaliknya, malas sering dikaitkan dengan rendahnya conscientiousness. Individu dengan skor rendah dianggap impulsif, tidak terstruktur, dan sering menunda pekerjaan. Label “pemalas” pun melekat kuat.

Meski begitu, psikologi justru melihat ada sisi positif dari kemalasan. Orang yang malas dengan rutinitas biasanya lebih kreatif mencari jalan pintas. Mereka bisa menemukan solusi sederhana untuk menghindari pekerjaan berulang. Fenomena ini dikenal dengan istilah productive laziness atau kemalasan produktif.

Baca Juga: Alat Pemantau Aktivitas Gunung Kelud Raib Dicuri, Bagaimana Nasib Keamanan Para Pendaki?

Contoh sederhana terlihat pada dunia teknologi. Banyak perangkat lunak otomatis lahir dari “kemalasan” programmer yang enggan melakukan pekerjaan manual berulang-ulang. Malas dalam hal ini menjadi pemicu inovasi.

Riset menunjukkan bahwa sifat rajin atau malas tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh pilihan pribadi. Sekitar 40–44% variasi dipengaruhi oleh faktor genetik, sementara sisanya dipengaruhi lingkungan, pola asuh, dan pengalaman hidup.

Seorang anak yang tumbuh di lingkungan teratur, dengan jadwal jelas dan aturan ketat, cenderung memiliki tingkat kerajinan lebih tinggi. Sebaliknya, mereka yang tumbuh dalam lingkungan santai mungkin lebih fleksibel, bahkan tampak malas di mata masyarakat.

Baca Juga: Polres Blitar Tangkap Residivis Pengedar Sabu-sabu saat Operasi Tumpas Narkoba 2025: Ungkap Keterlibatan Saudara Kandung

Dengan demikian, rajin atau malas adalah hasil kombinasi faktor bawaan dan pembiasaan. Keduanya tidak mutlak baik atau buruk, melainkan spektrum sifat yang memiliki peran berbeda.

Kesuksesan sejatinya bukan monopoli satu sifat tertentu. Orang rajin mungkin berhasil karena konsistensi dan kerja kerasnya. Namun, orang yang tampak malas pun bisa sukses jika mampu mengarahkan energi pada hal-hal kreatif atau strategis.

Contohnya, seorang peneliti membutuhkan kerajinan untuk menguji hipotesis secara sistematis. Tetapi seorang entrepreneur kadang lebih sukses dengan sifat santai dan spontan, karena mampu membaca peluang yang luput dari orang lain.

Dengan kata lain, yang paling menentukan bukanlah rajin atau malas, melainkan kesesuaian sifat dengan bidang yang digeluti. Rajin lebih unggul di bidang yang menuntut ketekunan jangka panjang, sementara malas bisa unggul di bidang kreatif dan inovatif.

Baca Juga: Kantor Pertanahan Blitar dan PT Sangga Buana Nusantara Teken Kontrak PTSL Terintegrasi 2025

Budaya Indonesia menempatkan rajin sebagai nilai moral yang tinggi. Siswa rajin mendapat pujian, sementara siswa malas mendapat hukuman. Sayangnya, stigma ini sering menutup mata terhadap potensi lain.

Psikologi modern mendorong perubahan perspektif alih-alih melabeli seseorang sebagai rajin atau malas, lebih baik membantu individu mengenali kekuatan masing-masing. Seseorang yang malas mengerjakan tugas rutin mungkin punya bakat menciptakan cara baru yang lebih efisien. Seseorang yang rajin mungkin unggul dalam konsistensi yang dibutuhkan untuk menjaga sistem tetap berjalan.

Pertanyaan “mana yang lebih menentukan kesuksesan, rajin atau malas?” sebenarnya keliru. Keduanya memiliki kontribusi yang sama penting, hanya dalam konteks yang berbeda. Rajin memberi stabilitas, sedangkan malas bisa melahirkan kreativitas dan efisiensi.

Baca Juga: Kantor Pertanahan Blitar dan PT Sangga Buana Nusantara Teken Kontrak PTSL Terintegrasi 2025

Kunci kesuksesan bukan terletak pada menghilangkan sifat malas atau hanya mengandalkan kerajinan, melainkan pada kemampuan mengenali diri, memahami konteks, dan memanfaatkan kelebihan masing-masing sifat sesuai bidang yang digeluti.

Pada akhirnya, baik rajin maupun malas, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk berhasil asal mampu menempatkan diri pada jalan yang tepat. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#kepribadian manusia #psikologis #kesuksesan #malas #Rajin #manfaat malas #The Big Five Personality