Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kalimasada Bongkar Rahasia: Perbedaan Mindset Orang Kaya dan Biasa, Fokusnya 180 Derajat!

Axsha Zazhika • Sabtu, 20 September 2025 | 00:55 WIB

 

Kalimasada Bongkar Rahasia: Perbedaan Mindset Orang Kaya dan Biasa, Fokusnya 180 Derajat!
Kalimasada Bongkar Rahasia: Perbedaan Mindset Orang Kaya dan Biasa, Fokusnya 180 Derajat!

BLITAR – Konten kreator Kalimasada kembali menarik perhatian publik lewat video terbarunya di YouTube. Dalam unggahan berjudul Rich Mindset vs Poor Mindset, ia membedah secara gamblang perbedaan pola pikir orang kaya dan orang biasa yang menurutnya berlawanan 180 derajat.

Kalimasada menekankan bahwa semua berawal dari pikiran. Baginya, kesuksesan bukan hanya tentang uang, tetapi bagaimana cara seseorang memandang diri sendiri, bekerja, hingga merespons risiko. “Saya sudah bertemu banyak orang, dari calon konglomerat sampai pengusaha mapan. Ternyata pola pikir mereka sangat berbeda dengan orang kebanyakan,” ujar Kalimasada dalam videonya.

Menurutnya, orang kaya selalu memiliki internal locus of control atau fokus pada hal-hal yang bisa mereka kendalikan. Sementara orang biasa cenderung menyalahkan faktor eksternal seperti pemerintah, ekonomi global, hingga keadaan sosial. “Kalau dagangan sepi, orang kaya akan bertanya apakah brand atau produknya kurang kuat. Bukan menyalahkan musim atau kebijakan,” jelasnya.

Perbedaan paling mencolok menurut Kalimasada ada pada orientasi waktu. Orang biasa cenderung fokus pada kebutuhan harian, seperti hari ini makan apa atau besok jualan apa. Sebaliknya, orang kaya memikirkan visi jangka panjang, bahkan hingga 30 tahun ke depan.

“Mereka bukan lagi sekadar mikirin jalan-jalan minggu depan. Orang kaya memikirkan warisan apa yang bisa ditinggalkan untuk anak cucunya,” ungkap Kalimasada.

Ia juga menyinggung fenomena marshmallow test, riset psikologi yang menunjukkan bahwa mereka yang mampu menunda kepuasan sesaat (instant gratification) cenderung lebih sukses di masa depan.

Aspek kedua adalah orientasi kerja. Menurut Kalimasada, orang biasa bekerja untuk gaji. Sementara orang kaya berfokus pada pengalaman yang bisa meningkatkan skill dan membuka peluang baru.

“Kadang lebih baik ambil gaji kecil di tempat yang penuh ilmu, ketimbang gaji besar tapi stagnan. Karena pengalaman itulah yang bisa dikembangkan jadi skill dan menghasilkan uang lebih banyak di masa depan,” paparnya.

Ia menambahkan, orang kaya melihat pekerjaan sebagai sarana investasi jangka panjang, bukan sekadar memenuhi kebutuhan bulanan.

Kalimasada juga menyoroti perbedaan gaya konsumsi. Orang kaya menggunakan uangnya untuk membeli aset yang menghasilkan pemasukan, seperti kos-kosan atau saham. Sebaliknya, orang biasa kerap membeli liabilitas seperti mobil mewah yang justru menambah beban biaya.

“Dengan modal Rp500 juta, orang kaya beli properti dan tiap bulan dapat pemasukan. Orang biasa beli mobil, lalu harus bayar servis dan biaya tambahan lain. Itu bedanya,” kata dia.

Perbedaan berikutnya terletak pada cara menghadapi risiko. Orang biasa melihat risiko sebagai ancaman, sedangkan orang kaya menganggapnya peluang.

“Contohnya saat AI muncul. Orang biasa takut kehilangan pekerjaan. Orang kaya justru belajar pakai AI untuk mempercepat kerja dan cari klien lebih banyak,” tutur Kalimasada.

Ia menegaskan, selama pandemi Covid-19 pun pola ini terbukti nyata. Banyak orang biasa bangkrut karena takut, tetapi tak sedikit pengusaha baru lahir dari situasi krisis dengan memanfaatkan peluang digital.

Di akhir pemaparannya, Kalimasada menekankan bahwa kesuksesan tak hanya soal modal uang, tetapi gabungan dari tiga hal: keterampilan (skill), kerja keras (hard work), dan inovasi (innovation).

“Orang dengan skill tanpa kerja keras akan kalah dengan orang yang rajin. Tapi kalau keduanya ditambah inovasi, hasilnya bisa eksponensial,” jelasnya.

Kalimasada menutup videonya dengan pesan agar masyarakat lebih berani bermimpi dan tidak terjebak pada pola pikir sempit. “Banyak orang di usia 20-an sudah merasa cukup dan berhenti berkembang. Padahal dunia terus berubah. Kalau tidak menyesuaikan, kita akan tertinggal,” pungkasnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#mindset #pola pikir #inspirasi hidup