BLITAR - Tidak banyak perempuan muda yang memilih jalan hidupnya melalui organisasi.
Namun, Khoirotul Ni’amah, warga Kelurahan Pakunden, Kecamatan Sukorejo membuktikan bahwa konsistensi, semangat belajar, dan keberanian melangkah bisa membawanya sampai ke pusat kepengurusan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).
Sejak usia belia, tepatnya saat masih duduk di bangku kelas VI Madrasah Ibtidaiyah (MI), Ni’amah sudah mengenal IPPNU.
Awalnya hanya sekadar ikut kumpulan tibaan di kampung.
Dari sana, dia mulai menapaki jalan kaderisasi. Makesta di MTs, aktif di ranting, hingga perlahan dipercaya naik ke jenjang PAC, cabang, dan akhirnya pusat.
“Kalau dihitung, hampir setengah hidup saya ada di IPPNU. Dari kecil sampai sekarang, selalu ada ruang organisasi yang saya isi. Untuk menjalin relasi dan menyerap ilmu dari orang yang saya temui,” tutur Ni’amah yang kini menjabat Kabid Litbang PP IPPNU.
Perjalanan Ni’amah penuh warna. Saat SMA, dia dipercaya menjadi Ketua IPPNU Kota Blitar.
Setelah itu, perempuan 29 tahun ini menjajal peran sebagai bendahara, lalu menjadi Ketua Cabang IPPNU Kota Blitar.
Ketika melanjutkan kuliah di Malang, Ni’amah sempat memilih bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Alasannya sederhana dia ingin memahami dinamika politik kampus yang tak banyak ditemui di IPPNU.
“Kalau IPPNU lebih ke kaderisasi ideologi, sedangkan di PMII lebih banyak gerakan. Itu saya pelajari, lalu saya bawa pengalaman itu ketika memimpin di Kota Blitar,” jelasnya.
Baca Juga: QRIS: Revolusi Sistem Pembayaran Digital yang Mengubah Gaya Hidup Masyarakat Indonesia
Semangat Ni’amah untuk mengabdi tidak hanya berhenti di cabang IPPNU Kota Blitar.
Dia bahkan dua kali maju ke tingkat Jawa Timur dan pusat.
Tahun 2019, dia sempat bertarung di Jawa Timur, namun kalah tipis dua suara untuk menjadi ketua IPPNU Jatim.
Tiga tahun kemudian, dia kembali mencoba peruntungan di kongres nasional di Jakarta. Hasilnya sama, belum ditakdirkan menang.
“Kalau sekarang, saatnya regenerasi. Saya ingin fokus di Blitar, membesarkan anak-anak muda, khususnya perempuan, agar lebih berdaya. Kadang idealisme tidak cukup tanpa strategi. Tapi saya tidak menyesal. Justru pengalaman itu memperkaya perjalanan saya,” ujarnya tenang.
Kini, melalui Litbang PP IPPNU, Ni’amah fokus pada riset dan pemberdayaan perempuan di bidang pendidikan.
Tahun lalu, pihaknya menggandeng Alvara Research untuk riset nasional.
Ke depan, dia menyiapkan student forum dengan isu science, humanity, dan pedagogy, yang akan dirilis bertepatan dengan peringatan Hari Santri.
Di sela aktivitas nasionalnya, Ni’amah tetap aktif di Kota Blitar.
Dia kini dosen Fakultas Agama Islam UNISBA ini.
Bahkan juga mengemban amanah sebagai Lembaga Konsultasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (LKP3A) Kota Blitar, serta tergabung di Ikatan Sarjana NU (ISNU).
Baca Juga: KPU Kota Apresiasi Mahasiswa Kembangkan E-Voting untuk Pemilu Lokal
“Pelajar putri NU tidak boleh berhenti belajar. Harus bisa mengisi ruang-ruang keilmuan, baik sains maupun sosial,” pungkasnya.(jar/sub)