Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Paulo Freire dan Pendidikan Kaum Tertindas: Menggugat Sistem Belajar yang Pasif

Sarulloh Adi Prayoga • Senin, 29 September 2025 | 03:00 WIB

Paulo Freire dan Pendidikan Kaum Tertindas: Menggugat Sistem Belajar yang Pasif
Paulo Freire dan Pendidikan Kaum Tertindas: Menggugat Sistem Belajar yang Pasif

BLITAR KAWENTAR- Pendidikan tradisional sering dianggap netral. Namun, menurut Paulo Freire, anggapan itu keliru. Dalam bukunya Pedagogy of the Oppressed atau Pendidikan Kaum Tertindas, Freire menegaskan bahwa pendidikan justru bisa menjadi alat penindasan. “Pendidikan bisa dipakai untuk membebaskan manusia, tetapi juga bisa dipakai untuk menjajah kesadarannya,” tulis Freire.

Siapa sebenarnya Paulo Freire? Ia adalah filsuf dan pendidik asal Brasil, lahir pada 1921. Pengalaman hidup di tengah kemiskinan membuatnya sadar bahwa pendidikan bukan hanya soal membaca, menulis, dan berhitung. “Pendidikan adalah jalan menuju kesadaran kritis,” ungkapnya, “dan tanpa kesadaran, manusia akan tetap hidup dalam penindasan.”

Dalam Pendidikan Kaum Tertindas, Freire mengkritik keras model pendidikan tradisional yang ia sebut banking system of education. Guru dipandang sebagai pemberi pengetahuan, sementara siswa hanya seperti rekening kosong yang harus diisi. Model ini, kata Freire, “membuat siswa pasif, tidak kritis, dan hanya menerima tanpa berani mempertanyakan.”

Baca Juga: Semangat Siswa SMAN 1 Talun Ikuti Ekskul Pramuka: Tanamkan Pendidikan Karakter dan Mental Kuat

Sebagai alternatif, ia menawarkan pendidikan dialogis. Proses belajar harus berbasis percakapan, kesetaraan, dan pertukaran pengalaman. “Guru belajar bersama murid, murid belajar bersama guru,” tegas Freire. Prinsip ini menempatkan pendidikan sebagai proses yang hidup, membebaskan, dan memanusiakan manusia.

Freire juga menekankan bahwa pendidikan adalah tindakan politik. Pertanyaan sederhana seperti siapa yang diajar, apa yang diajarkan, kapan, dan bagaimana, sesungguhnya adalah keputusan yang sarat muatan kekuasaan. Seorang dosen pendidikan di Yogyakarta menambahkan, “Freire mengingatkan kita bahwa kelas belajar tidak pernah netral. Selalu ada kepentingan yang bermain.”

Buku ini berpengaruh besar, tidak hanya di Amerika Latin, tetapi juga di Amerika Serikat, Afrika, hingga Asia. Banyak kampus menjadikannya bacaan wajib meski gayanya teoretis dan berat.

Kini, meski ditulis pada 1960-an, gagasan Freire tetap relevan. Di tengah ketimpangan pendidikan modern, Pendidikan Kaum Tertindas mengingatkan bahwa belajar bukan hanya soal kompetensi teknis, melainkan juga soal keadilan sosial dan keberanian berpikir kritis.

Editor : M. Subchan Abdullah
#Pendidikan Tradisional #Paulo Freire #Pendidikan Kaum Tertindas