Jejak Sejarah Tempe: Dari Naskah Serat Centini hingga Jurnal Ilmiah Internasional
Rahma Nur Anisa• Rabu, 1 Oktober 2025 | 14:00 WIB
Tempe, makanan tradisional Indonesia yang kini mendunia, memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusuri melalui naskah kuno dan penelitian.
BLITAR KAWENTAR - Tempe, makanan tradisional Indonesia yang kini mendunia, memiliki sejarah panjang yang dapat ditelusuri melalui naskah kuno hingga penelitian ilmiah modern. Perjalanan tempe dari dapur pedesaan Jawa hingga meja makan internasional mencerminkan kekayaan pengetahuan lokal Indonesia.
Sejarah tertulis tempe dapat ditelusuri melalui naskah Serat Centini yang ditulis sekitar tahun 1814. Dalam karya sastra Jawa yang kaya ini, diceritakan tokoh Mas Cebolang yang mampir ke dusun Tembayat di Klaten, Jawa Tengah, dan dijamu dengan makanan berupa bawang merah, jahe, santan, dan tempe.
Kehadiran tempe dalam naskah ini menunjukkan bahwa makanan fermentasi kedelai telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa sejak awal abad ke-19, bahkan kemungkinan lebih awal lagi karena naskah tersebut bercerita tentang zaman abad ke-17.
Etimologi kata "tempe" diduga berasal dari bahasa Jawa kuno "tumpi", yaitu makanan putih tipis dari tepung yang dijemur atau dikukus. Kemiripan bentuk dan warna putih antara tumpi dan tempe menjadi dasar penamaan ini. Berbeda dengan tumpi yang hanya tepung kukus sederhana, tempe memiliki proses fermentasi yang jauh lebih kompleks dan menghasilkan nilai gizi yang lebih tinggi.
Proses pembuatan tempe tradisional menunjukkan penguasaan teknologi fermentasi yang canggih untuk zamannya. Masyarakat Jawa menggunakan kedelai hitam lokal yang difermentasi secara alami menggunakan mikroorganisme dari daun jati, daun waru, atau daun pisang. Tanpa menyadari konsep mikrobiologi modern, mereka telah memanfaatkan jamur Rhizopus oligosporus yang terdapat pada permukaan daun-daun tersebut untuk menghasilkan tempe yang aman dikonsumsi.
Perkembangan ilmiah tempe dimulai ketika peneliti Belanda seperti Dr. Texera Dematos mencatat tempe sebagai hasil fermentasi yang mengagumkan dari masyarakat lokal Jawa. Pada masa modern, Professor Kasman Jin dari Universitas Indonesia menjadi peneliti pertama yang berhasil mengisolasi kultur jamur tempe dan mempublikasikan penelitiannya di jurnal internasional. Penelitian ini memungkinkan produksi tempe secara konsisten dan aman dalam skala industri.
Namun, sejarah tempe juga memiliki sisi kelam melalui kasus tempe bongkrek. Tempe yang dibuat dari ampas kelapa ini menyebabkan keracunan massal sejak 1895 di Banyumas, Jawa Tengah. Bakteri Burkholderia cocovenenans yang menghasilkan racun bongkrekic acid menyebabkan 7.126 kasus keracunan dan 850 kematian antara 1951-1975. Tragedi ini mengajarkan pentingnya kontrol kualitas dalam proses fermentasi.
Pada era 1960-1980, tempe menjadi bagian program ketahanan pangan nasional melalui LIPI, IPB, dan Departemen Pertanian. Tempe dimasukkan ke menu sekolah dan kantor pemerintahan karena murah, bergizi tinggi, dan mudah diproduksi. Bahkan saat krisis ekonomi 1998, tempe tetap menjadi andalan protein rakyat.
Pengakuan internasional tempe dimulai tahun 1970-an melalui diaspora Indonesia di Amerika dan Belanda. Pada 1983, tempe diperkenalkan dalam konferensi pangan dunia oleh Professor Winarno dari IPB. Kini tempe diproduksi di lebih dari 20 negara sebagai alternatif protein yang sehat dan berkelanjutan. (*)