Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Skor IQ 106 Ramai Dibahas, Ahli Ingatkan Bukan Tolok Ukur Kesuksesan

Nikmah Laila • Sabtu, 4 Oktober 2025 | 17:00 WIB
Photo
Photo

BLITAR KAWENTAR - Perdebatan soal kecerdasan kembali mencuat di media sosial setelah seorang warganet mengaku gagal meraih cita-cita menjadi dokter karena memiliki skor IQ 106. Unggahan itu memicu reaksi luas, termasuk dari sejumlah konten kreator dan praktisi yang menilai anggapan tersebut keliru.

“Sejak kapan IQ 106 itu rendah dan perlu dikhawatirkan?” ujar seorang konten kreator pendidikan dalam sebuah unggahan video yang viral. Ia menekankan bahwa skor IQ hanyalah salah satu potensi dasar. Artinya, kecerdasan tidak otomatis menjamin keberhasilan, melainkan harus didukung usaha, konsistensi, dan strategi belajar yang tepat.

Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah influencer memamerkan hasil tes IQ mereka yang mencapai angka 140 ke atas. Fenomena ini tanpa disadari menimbulkan perasaan minder bagi sebagian pengguna media sosial yang skornya berada di kisaran rata-rata, yaitu 90–110. Padahal, menurut para ahli, skor tersebut justru masuk kategori normal dan cukup untuk menunjang aktivitas akademik maupun profesional.Hasil tes IQ sendiri bisa dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi fisik, kesiapan psikologis saat tes, hingga metode pengujian yang digunakan. Dengan demikian, mengukur kemampuan seseorang hanya dari skor IQ dinilai tidak relevan.

Konten kreator yang viral tersebut menegaskan, seseorang dengan IQ rata-rata bisa saja lebih berhasil dibanding pemilik IQ tinggi jika mampu memaksimalkan potensinya. Hal itu dapat dilakukan dengan konsistensi belajar, kerja keras, serta kemampuan beradaptasi terhadap tantangan baru.

“IQ itu hanya memberi gambaran kapasitas awal. Tapi kalau tidak diasah, potensinya akan tetap sama. Sebaliknya, kalau dilatih, bisa melampaui ekspektasi,” jelasnya. Ia juga menambahkan, kecerdasan emosional, keterampilan sosial, dan mental tangguh sering kali lebih menentukan kesuksesan dalam jangka panjang dibanding sekadar skor angka.

Untuk meningkatkan daya pikir, ia membagikan sejumlah metode sederhana. Misalnya bermain catur untuk melatih strategi, memanfaatkan game online yang menuntut perencanaan cepat, hingga teknik chunking untuk memudahkan mengingat informasi.Selain itu, mempelajari musik, memperluas jaringan pertemanan, dan berani mencoba hal-hal baru yang diragukan juga disebut mampu mengasah kelenturan otak. “Semua aktivitas ini membuat otak lebih adaptif terhadap pengetahuan baru. Dampaknya, bukan hanya kemampuan berpikir meningkat, skor IQ pun bisa terdongkrak,” ujarnya.

Fenomena yang ramai di media sosial menunjukkan masih banyak masyarakat yang memandang IQ sebagai tolok ukur utama kecerdasan. Padahal, penelitian modern menyebut bahwa keberhasilan seseorang lebih banyak dipengaruhi kombinasi antara kerja keras, lingkungan, kesempatan, serta keterampilan non-kognitif.

Pakar psikologi pendidikan menekankan bahwa pendidikan inklusif seharusnya membantu setiap individu menemukan cara terbaik untuk mengembangkan potensi masing-masing, terlepas dari skor IQ yang dimiliki.Dengan demikian, perdebatan tentang IQ seharusnya diarahkan pada pemahaman bahwa kecerdasan manusia bersifat multifaktor. Skor IQ hanyalah angka, sementara usaha dan konsistensi tetap menjadi kunci kesuksesan.

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#kecerdasan buatan #cerdas istimewa dan berbakat istimewa #ide cemerlang #Ide dan Inovasi #disiplin kerja #Manajemen Risiko