BLITAR KAWENTAR - Ekspedisi ambisius menaklukkan 33 gunung di 33 provinsi Indonesia berakhir di Puncak Jaya, Papua. Meski misi ini berhasil dituntaskan, perjalanan penuh badai itu menyisakan air mata, rasa syukur, sekaligus kehilangan.
Pendaki dalam ekspedisi “Atap Negeri” berangkat dengan tekad menyelesaikan perjalanan lima tahun yang melelahkan. Puncak Jaya dipilih sebagai penutup karena menjadi simbol tertinggi di Nusantara. Namun, jalur ekstrem menantang segalanya: kekuatan fisik, mental, bahkan iman.
Pendaki harus melewati jalur berbahaya seperti Tirolean Travers yang hanya bertumpu pada tali di atas jurang. Badai salju, angin kencang, dan suhu rendah membuat tubuh menggigil. Hipotermia menjadi ancaman nyata. Beberapa pendaki kehilangan perlengkapan, namun tetap memaksakan diri maju demi mencapai puncak.
Baca Juga: Inilah Sosok Pelajar Berprestasi Juara OSN dari MI Perwanida Kota Blitar
Momen emosional terjadi saat berhasil mencapai puncak. Ada tangis haru, rasa syukur, dan doa untuk keluarga yang sudah berpulang. Namun, kebahagiaan itu tak bertahan lama. Dalam perjalanan turun, badai kembali datang. Dua pendaki meninggal dunia, tiga lainnya selamat setelah operasi penyelamatan dramatis.
Keberhasilan sekaligus tragedi ini menggambarkan paradoks pendakian: puncak adalah bonus, perjalananlah yang menjadi inti pengalaman. Kekuatan tim, solidaritas, dan doa terbukti sama pentingnya dengan peralatan teknis.
Ekspedisi “Atap Negeri” berakhir dengan pelajaran besar: hidup seperti pendakian, selalu ada tanjakan, badai, dan jurang, tetapi juga ada sahabat, harapan, dan doa. Perjalanan ini bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan inspirasi kolektif tentang ketekunan, keberanian, dan arti pulang.
Baca Juga: Edukasi Gizi Populer: Ade Rai Patahkan Mitos Makanan Tradisional Indonesia