BLITAR KAWENTAR - Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk unggul dalam akademik, tetapi juga mampu mengasah keterampilan lain di luar ruang kelas. Hal inilah yang dibahas dalam podcast Obsesi Himpunan Mahasiswa Sistem Informasi Telkom University Purwokerto, ketika menghadirkan dua ketua Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), yakni Geordi Sipo Samuel Damanik dari UKM Basket dan Arda Rigor Evansyah dari UKM Seni.
Keduanya berbagi pengalaman mengenai manfaat UKM, cara membagi waktu, hingga perjalanan mereka menjadi ketua organisasi.Geordi menjelaskan bahwa awalnya ia hanya ingin menyalurkan hobi basket yang digeluti sejak SMP. Namun perjalanan membawanya menjadi ketua UKM Basket. Menurutnya, kunci utama adalah skala prioritas. Tugas kuliah tetap nomor satu, namun ia menyiasati dengan mengerjakan pekerjaan ringan lebih dulu sebelum meluangkan waktu untuk kegiatan organisasi.
Senada dengan itu, Arda menyebut UKM baginya adalah ruang ekspresi sekaligus healing. “Ketika di kelas ekspresi sulit disalurkan, UKM jadi tempat yang tepat. Tapi kuncinya tetap pintar membagi waktu agar tugas akademik tidak terbengkalai,” ujarnya.
Kedua narasumber sepakat bahwa manfaat UKM bukan hanya poin Tugas Aktivitas Kemahasiswaan (TAK), tetapi juga pengembangan diri. Geordi menekankan pada peningkatan keterampilan, tanggung jawab, serta memperluas relasi. “Dari awal yang hanya anggota, saya belajar komunikasi, kepemimpinan, sampai akhirnya dipercaya memimpin UKM Basket,” jelasnya.
Sementara itu, Arda menyoroti keberagaman divisi di UKM Seni. Ia yang semula bergabung di divisi drama kini juga belajar musik dan menjalin relasi dengan berbagai komunitas seni di Purwokerto. “Relasi itu penting. Dari UKM, kita bisa kenal mahasiswa kampus lain bahkan komunitas di luar,” tambahnya.Geordi melalui proses panjang mulai dari anggota, humas, hingga terpilih lewat pemungutan suara. Keinginannya sederhana: memperbaiki fasilitas UKM dan memperluas kesempatan tampil di berbagai event.
Berbeda dengan Arda, ia justru tak pernah berniat jadi ketua. Namun pengalaman menjadi ketua pelaksana sebuah acara membuatnya direkomendasikan senior. Tanpa lawan calon, ia akhirnya dipercaya memimpin UKM Seni. “Awalnya ragu karena tak punya pengalaman, tapi modal niat membuat saya belajar cepat,” tuturnya.
Pesan keduanya jelas: jangan hanya jadi kupu-kupu (kuliah-pulang). Bergabung UKM memberi ruang belajar di luar kelas, melatih kepemimpinan, kreativitas, hingga menemukan jati diri.Geordi mengajak mahasiswa yang hobi basket untuk menjadikan UKM sebagai wadah berkembang bersama. Sementara Arda membuka pintu bagi mahasiswa yang ingin mengekspresikan diri lewat seni, baik musik, drama, tari, maupun visual art.
Editor : M. Subchan Abdullah