Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Trauma Belajar di Sekolah: Mengapa Siswa Justru Senang Saat Jam Kosong?

Annisa Nur Azzizah • Minggu, 5 Oktober 2025 | 03:00 WIB

 

 

Siswa lebih senang jam kosong dibanding belajar. Fenomena ini disebut sebagai tanda trauma belajar akibat kurikulum yang tak relevan.
Siswa lebih senang jam kosong dibanding belajar. Fenomena ini disebut sebagai tanda trauma belajar akibat kurikulum yang tak relevan.

BLITAR KAWENTAR - Fenomena siswa lebih gembira saat guru tidak hadir mengajar ternyata menyimpan persoalan serius. Bukan semata rasa malas, tetapi ada indikasi trauma belajar akibat sistem pendidikan yang dianggap tidak relevan dengan kehidupan nyata.

Di berbagai sekolah, jam kosong kerap disambut dengan sorak gembira. Alih-alih marah karena kehilangan kesempatan belajar, siswa justru merasa lega. Menurut sejumlah pengamat pendidikan, hal ini merupakan gejala trauma belajar yang terbentuk sejak lama.

Otak manusia secara alami hanya mengingat hal-hal yang bermakna. Namun, banyak pelajaran di sekolah diberikan tanpa konteks jelas. Materi dipaksakan untuk dihafal, diulang menjelang ujian, lalu dilupakan kembali. Siklus ini membuat siswa merasa belajar adalah aktivitas menyiksa, bukan menginspirasi.

Contohnya, pelajaran sejarah. Dari SD hingga SMA, siswa berulang kali mempelajari tokoh yang sama, seperti Pangeran Diponegoro, tanpa pemaknaan mendalam. Informasi faktual seperti tanggal lahir dan wafat dihafalkan, tetapi nilai perjuangan dan relevansinya dengan kehidupan modern sering terabaikan.

Hal serupa terjadi pada pelajaran sains. Banyak siswa mempertanyakan manfaat mengetahui sistem peredaran darah katak jika yang lebih mendesak justru pengetahuan tentang gizi, kesehatan mental, atau pencegahan obesitas. Kurikulum yang tidak relevan membuat siswa kehilangan motivasi intrinsik.

Padahal, saat jam kosong, banyak siswa justru melakukan hal sesuai minatnya: ada yang berjualan, bermain bola, hingga membuat siaran sederhana ala podcast. Aktivitas itu memperlihatkan bahwa passion dan keterampilan praktis sebenarnya ada, tetapi ruang di sekolah tidak memfasilitasi.

Fenomena jam kosong seharusnya menjadi refleksi bagi sistem pendidikan Indonesia. Jika siswa lebih menikmati ketiadaan pelajaran daripada belajar, maka ada masalah mendasar. Pendidikan idealnya membangun makna, menumbuhkan minat, dan relevan dengan kebutuhan hidup nyata. Tanpa perubahan, trauma belajar akan terus diwariskan ke generasi berikutnya.

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#JAM KOSONG #siswa suka jam kosong