Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

MBTI: Antara Alat Kenali Diri atau Ilmu Cocoklogi?

Rizqina Lailal Akhtari • Senin, 6 Oktober 2025 | 20:00 WIB

MBTI populer tapi dinilai tak ilmiah: Reliabilitas rendah, dan berisiko jika dijadikan dasar keputusan penting seperti karier.
MBTI populer tapi dinilai tak ilmiah: Reliabilitas rendah, dan berisiko jika dijadikan dasar keputusan penting seperti karier.

BLITAR KAWENTAR - Tes kepribadian MBTI semakin populer di kalangan mahasiswa, pekerja, hingga media sosial. Namun, di balik popularitasnya, banyak psikolog menilai tes ini tidak ilmiah dan bahkan bisa merugikan.

Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) awalnya dikembangkan pada 1940-an oleh Katherine Cook Briggs dan Isabel Briggs Myers. Berangkat dari rasa penasaran terhadap calon menantu, keduanya menyederhanakan teori kepribadian Carl Jung ke dalam 16 tipe. Tes ini kemudian dipopulerkan secara luas dan kini menjadi salah satu instrumen paling terkenal di dunia.

Meski begitu, sejarah pembuatannya menuai kritik. Briggs dan Myers tidak memiliki latar belakang psikologi formal. Pendekatan mereka yang biner—mengotakkan orang hanya sebagai introvert atau ekstrovert—bertentangan dengan riset psikologi modern yang menekankan sifat manusia sebagai spektrum.

Baca Juga: Awasi Jangan Sering Kasih Gadget, Sejumlah Anak di Kota Blitar Alami Gangguan Psikologis

Sejumlah penelitian menyoroti kelemahan MBTI. Pertama, reliabilitas rendah: hasil tes bisa berubah hanya dalam hitungan minggu. Kedua, validitas lemah: MBTI gagal memprediksi kinerja akademik maupun profesional. Ketiga, terlalu subjektif karena bergantung pada jawaban individu yang mudah dimanipulasi. Bahkan, sebagian besar riset yang mendukung MBTI diterbitkan oleh lembaga yang dimiliki yayasan penciptanya sendiri.

Dampak negatif MBTI nyata. Sebuah dokumenter berjudul Persona menyoroti kisah pelamar kerja yang ditolak hanya karena hasil tesnya dianggap tidak sesuai, meski ia berpengalaman. Praktik diskriminatif ini dinilai berbahaya karena mengabaikan kompetensi nyata.

Namun, alasan MBTI bertahan justru karena kesederhanaannya. Membagi kepribadian ke dalam 16 tipe membuat orang merasa mudah memahami diri dan orang lain. Di era media sosial, label seperti "INTJ" atau "ENFP" bahkan dijadikan identitas personal.

Baca Juga: ⁠PKM di Talun Blitar, Mahasiswa Universitas Negeri Malang Ini Kembangkan Teknologi Flash Curing Gas Autoslide: Dongkrak Usaha Sablon

MBTI tidak sepenuhnya buruk bila dipakai sebagai sarana refleksi diri atau hiburan. Namun, menjadikannya dasar keputusan penting—seperti menentukan karier atau jurusan kuliah—sangat berisiko. Kepribadian manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar empat huruf.

Editor : M. Subchan Abdullah
#sifat #kepribadiaan #MBTI