BLITAR - Mengenal format debat parlementer, yaitu Asian Parliamentary dan British Parliamentary yang umum digunakan di Indonesia, menjadi salah satu materi dalam ekstrakurikuler (ekskul) debat bahasa Indonesia. Di SMA IT Al Hikmah, ekskul dengan nama tim DC SMAITAH ini sudah didirikan sejak 2023, dengan Dwi Sekar Sari SPd sebagi pelatih ekskul.
Setiap Rabu, para anggotanya mendapatkan berbagai materi seperti mengenal definisi tujuan, dan manfaat debat; memahami peran tim pemerintah (pro) dan oposisi (kontra); jenis-jenis mosi (fakta, nilai, kebijakan) dan cara membedah topik, strategi menyusun argument; strategi memprioritaskan serangan dan membantah pada level prinsip atau dampak; memahami peran masing-masing pembicara 1, 2, dan 3; hingga materi retorika dan gaya berbicara dalam berdebat.
Bergabung dalam ekskul ini, banyak manfaat yang dirasakan. Para siswa mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan analisis, memperkuat keterampilan berbicara di publik (public speaking), menguasai retorika dan gaya bicara persuasif, meningkatkan keterampilan kerja sama dalam tim, hingga meningkatkan prestasi siswa.
“Peserta ekskul debat bahasa Indonesia ini adalah siswa kelas X dan XI,” jelas Dwi Sekar Sari SPd, selaku Wakil Kepala SMA IT Al Hikmah dan pembina ekskul debat bahasa Indonesia.
Di sekolah yang dipimpin, Kepala SMA IT Al Hikmah, Anik Nurhayati SSi, mengatakan bahwa para siswa yang bergabung dalam ekskul didorong ikut dalam berbagai kompetisi. Harapannya melalui sejumlah pengalaman tersebut mampu mengasah kemampuan dalam bidang debat.
Selama ini, kompetisi sering diadakan oleh perguruan tinggi. “Jadi saat lomba, anak-anak bisa sekalian seperti tour campus ke perguruan tinggi yang menyelenggarakan lomba,” jelas perempuan ramah ini.
Dalam perjalanannya, ekskul ini mendapatkan respons yang sangat positif dan antusias. Pasalnya, ekskul ini menawarkan tantangan intelektual yang mampu mengasah keterampilan berpikir kritis.
Dampak positifnya, mereka termotivasi karena kegiatan ini tidak hanya meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan public speaking saat harus menyampaikan argumen dan merespons interupsi di depan umum, tetapi juga memaksa mereka untuk berpikir kritis dan menganalisis isu-isu aktual dari berbagai sudut pandang (pro dan kontra).
Secara tidak langsung, siswa juga tertantang ikut kompetisi debat karena sertifikat lomba dan kejuaraannya bisa menjadi pendukung portofolio mereka untuk daftar di perguruan tinggi.
Berbagai prestasi juga telah diukir oleh anggota ekskul debat ini. Misalnya, Juara II Debat Pentas PAI Tingkat Kabupaten Blitar, Juara III Debat Pentas PAI Tingkat Kabupaten Blitar, Finalis Debate Competition Reformafest Universitas Airlangga Surabaya, Juara III Lomba Debat Bahasa Indonesia Tingkat Kabupaten Blitar, Best Speaker Lomba Debat Bahasa Indonesia Tingkat Kabupaten Blitar.
Kemudian untuk mewadahi bakat dan minat para siswanya, sekolah yang berada di Lingkungan Tanggung, Kelurahan Bence, Kecamatan Garum, ini memiliki tujuh ekskul. Yakni, pramuka, pencinta alam, jurnalistik, debat bahasa Indonesia, desain grafis, robotik, hingga panahan. (apr/c1/ynu) (*)