BLITAR KAWENTAR - Junk food semakin digemari anak-anak dan remaja karena rasanya lezat, harganya terjangkau, dan penyajiannya praktis. Namun, di balik kepopulerannya, makanan cepat saji tersebut menyimpan dampak negatif yang tidak boleh diabaikan. Dalam jangka pendek, konsumsi junk food yang berlebihan dapat memicu gangguan pencernaan seperti perut kembung, mulas, hingga sembelit. Tingginya kadar gula juga menimbulkan efek “sugar rush” berupa lonjakan energi sesaat, yang kemudian diikuti rasa lelah, sulit fokus, dan mudah gelisah. Kondisi ini secara langsung memengaruhi konsentrasi belajar dan prestasi akademik remaja.
Dalam jangka panjang, dampak yang ditimbulkan jauh lebih serius. Remaja yang terbiasa mengonsumsi junk food lebih rentan mengalami obesitas. Kalori berlebih yang tidak terbakar akan menumpuk sebagai lemak tubuh, meningkatkan risiko diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, hingga kanker tertentu.
“Junk food bukan hanya soal obesitas. Kandungan lemak jenuh dan garam yang tinggi membuat risiko penyakit kronis meningkat drastis, bahkan sejak usia muda,” kata seorang ahli nutrisi.
Pola makan berbasis junk food juga berdampak pada kesehatan mental. Penelitian menunjukkan remaja yang sering mengonsumsi makanan cepat saji lebih mudah mengalami depresi, kecemasan, dan perilaku impulsif. Otak yang seharusnya mendapat suplai nutrisi optimal dari protein, vitamin, dan mineral malah terganggu oleh pola makan tidak seimbang. Akibatnya, daya ingat, konsentrasi, dan kemampuan belajar menurun.
Selain itu, rendahnya kandungan serat dalam junk food membuat kesehatan usus terganggu. Peran serat yang penting untuk pencernaan sehat tidak terpenuhi, sehingga meningkatkan risiko sembelit dan peradangan. Gula berlebih juga mempercepat kerusakan gigi yang dapat mengganggu kesehatan jangka panjang.
Para pakar menekankan pentingnya peran orang tua dan sekolah dalam memberikan edukasi gizi. Remaja perlu diperkenalkan dengan pola makan seimbang yang mengutamakan buah, sayur, protein sehat, dan air putih. Edukasi dini dinilai efektif mencegah ketergantungan pada junk food. “Pola makan sehat harus menjadi gaya hidup. Jika remaja terbiasa mengonsumsi makanan bergizi sejak dini, risiko penyakit kronis di masa dewasa bisa ditekan,” tambah pakar tersebut.