Ernest Prakasa Bongkar Rahasia Rekrutmen: Bukan IPK Tinggi, Ini yang Dicari Perusahaan Kreatif
Rahma Nur Anisa• Kamis, 9 Oktober 2025 | 00:00 WIB
Ernest juga menyoroti satu masalah budaya kerja di Indonesia, ketidaksiapan menerima kritik.
BLITAR KAWENTAR – Lulusan sarjana dengan IPK tinggi belum tentu diterima kerja di industri kreatif. Hal ini diungkapkan langsung oleh Ernest Prakasa, sutradara dan komika ternama, dalam diskusi Mata Najwa di IPB University pada 2 Oktober 2025.
Ernest, yang merupakan lulusan Hubungan Internasional Universitas Padjajaran dengan IPK 3,25, mengaku tidak mewajibkan calon karyawannya memiliki gelar sarjana. "Di industri kreatif, yang lebih penting adalah skill dan kemampuan berkomunikasi. Ketika seseorang datang ke interview, pembawaannya, gesture, senyumnya, itu sangat berpengaruh," ungkapnya.
Yang menarik, Ernest justru memberikan tips praktis tentang cara melamar kerja yang sering diabaikan pelamar muda. "Yang sering terjadi, mereka kirim email lamaran dengan body email kosong. Padahal, di body email itulah kita bisa melihat cara mereka berkomunikasi," jelasnya.
Ernest menekankan pentingnya menjelaskan alasan tertarik dengan posisi atau perusahaan yang dituju. "Jangan cuma attach CV. Tulis dengan jelas kenapa kamu tertarik sama lowongan itu, kenapa tertarik sama company ini. Itu sangat penting untuk menarik minat orang yang baca lamaranmu," tambahnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ernest juga menyoroti satu masalah budaya kerja di Indonesia, ketidaksiapan menerima kritik. "Salah satu hal langka di Indonesia adalah assertiveness kemampuan menyampaikan kritik tanpa dianggap menyerang personal. Saat saya bilang 'ini harus digini lagi', saya tidak sedang mengatai kamu bodoh, tapi mengomentari pekerjaanmu," jelasnya.
Ernest menyarankan mahasiswa untuk membiasakan diri dengan kritik. "Familiarize yourself with critics. Kritik itu seperti jamu, pahit tapi berkhasiat. Kalau dikritik sedikit langsung tersinggung, susah berkembangnya," ujarnya.
Pendapat Ernest diamini oleh Prilly Latuconsina, yang juga hadir sebagai narasumber. Prilly, yang mengelola rumah produksi sekaligus mengajar di kampus, mengaku pernah mengalami kejadian di mana seorang magang mengeluh diganggu saat akhir pekan. "Saya bilang ke mahasiswa, di dunia kerja tidak ada gentle parenting. Work-life balance di setiap industri berbeda. Industri kreatif itu dinamis, weekend pun kadang harus standby," jelasnya.
Prof. Bagus Mulyadi dari Universitas Nottingham menambahkan pentingnya memperluas pergaulan selama kuliah. "Semakin banyak kamu bergaul dengan orang dari latar belakang berbeda, semakin baik kemampuan komunikasimu. Itu salah satu hal paling berharga yang bisa dipelajari saat kuliah," ungkapnya.
Di akhir sesi, Ernest melakukan interview langsung terhadap delapan mahasiswa. Arlan Pariji, mahasiswa Ekonomi Syariah yang membiayai kuliahnya sendiri melalui kerja paruh waktu, terpilih untuk magang selama seminggu.
"Saya suka jawabannya yang tidak hitam-putih. Dia punya komunikasi yang runut dan logis. Plus, pengalamannya harus membiayai kuliah sendiri mengajarkan banyak hal yang tidak dimiliki mahasiswa lain," ujar Ernest menjelaskan alasan pilihannya.
Para narasumber sepakat bahwa keterampilan yang paling dibutuhkan lima tahun ke depan adalah kreativitas, fleksibilitas, kelincahan, ketahanan, rasa ingin tahu, dan kemampuan belajar sepanjang hayat. "Bukan pengetahuan teknisnya, tapi kemampuan untuk terus-menerus belajar hal baru, itulah yang membuat kita tetap relevan," tutup Ernest. (*)