Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Profesor IPK 2,69 Ajarkan Mahasiswa IPB: Terbiasa Dibilang Bodoh Justru Kunci Sukses di Dunia Kerja

Rahma Nur Anisa • Kamis, 9 Oktober 2025 | 19:00 WIB

Orang yang selalu membawa CV ke mana-mana adalah orang yang menghargai kesempatan.
Orang yang selalu membawa CV ke mana-mana adalah orang yang menghargai kesempatan.

BLITAR KAWENTAR – Sebuah pengakuan mengejutkan datang dari Prof. Bagus Mulyadi, dosen Universitas Nottingham asal Indonesia, yang mengaku lulus S1 Teknik Mesin ITB dengan IPK hanya 2,69. Namun, angka rendah tersebut justru menjadi modal terbesar kesuksesannya di kancah internasional.

"Saya terbiasa dibilang bodoh. Tidak ada yang membuat saya merasa pintar sejak keluar kampus. Itu membuat saya tahan untuk terus dibilang bodoh dan tidak cepat sakit hati," ungkap Bagus dalam diskusi Mata Najwa "Kuliah, Kerja, dan Kenyataan" di IPB University, 2 Oktober 2025.

Bagus menjelaskan bahwa pengalaman berat selama kuliah di ITB yang ia ibaratkan seperti "pressure cooker" justru menempa mental dan ketahanannya. Dia lulus dalam waktu 5 tahun karena kebanyakan bermain Counter Strike, namun kemudian melanjutkan S2 dan S3 di National Taiwan University sambil bekerja untuk membiayai hidup dan kuliahnya.

Baca Juga: Jalur Minyak Indonesia Diekspor ke Singapura dan Impor Lagi Jadi Bensin

Dari perjuangan tersebut, Bagus mengembangkan kecintaan pada riset lintas disiplin yang mengantarkannya menjadi peneliti di Prancis dan London, sebelum akhirnya menjadi asisten profesor tetap di Universitas Nottingham. "Kunci enggak cepat patah semangat adalah terbiasa di bawah tekanan. Terbiasa dibully, terbiasa dimarahin," jelasnya.

Bagus memberikan nasihat provokatif kepada mahasiswa "Lebih baik dihukum saat di kampus daripada dihukum di dunia kerja. Lebih baik dimarahin orang tua daripada dimarahin bos. Kampus itu masa paling indah karena masyarakat tidak menuntut pertanggungjawaban Anda."

Ia menekankan bahwa selama 4-5 tahun kuliah, mahasiswa memiliki hak istimewa untuk gagal tanpa konsekuensi besar. "Masyarakat tidak meminta pertanggungjawaban Anda. Maka gagallah segagal-gagalnya. Berpikirlah seliar-liarnya. Ketika hari pertama masuk dunia kerja, it's all very different game. Dunia akan sangat keras," katanya.

Baca Juga: Ironi Indonesia Kaya Minyak Tetap Impor Bensin dari Singapura

Bagus juga mengkritik pandangan bahwa kuliah adalah jalan menuju pekerjaan. Ia menjelaskan bahwa secara historis, gelar sarjana (bachelor degree) berasal dari konsep liberal arts, pendidikan untuk menciptakan pemikir bebas, bukan pekerja. "Kuliah itu untuk menciptakan lapangan kerja, bukan untuk dapat kerja. Tujuannya melahirkan pemikir bebas yang menjadi pilar demokrasi," jelasnya.

Dalam sesi demonstrasi penggunaan kecerdasan buatan, Bagus menunjukkan cara memanfaatkan ChatGPT untuk berpikir kritis. Ia meminta AI untuk berargumentasi bahwa inersia dan viskositas dalam mekanika fluida serupa dengan kebebasan individu dan identitas kolektif dalam masyarakat. "Argumentasi seperti ini didemokratisasi lewat AI. Tapi untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, kamu harus punya pengetahuan yang luas," jelasnya.

Bagus juga membandingkan mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa internasional di Nottingham. "Dari segi kecemerlangan kognitif, orang Indonesia tidak kalah, bahkan bisa lebih. Yang kurang adalah kepercayaan diri dan kemampuan presentasi," ungkapnya.

Baca Juga: 52 Tahun Tak Ada yang Berani, Kini Iran Bikin Israel Kocar-Kacir!

Ia menekankan pentingnya kejujuran sebagai dasar kepercayaan publik. "Katakan ya kalau ya, tidak kalau tidak. Trust adalah skill paling penting yang tidak bisa digantikan AI," pesannya.

Di akhir acara, Bagus memilih Ivan Oktavianto, mahasiswa Arsitektur Lanskap yang datang membawa map berisi CV, untuk magang bersamanya. "Orang yang selalu membawa CV ke mana-mana adalah orang yang menghargai kesempatan. Dia bisa mengubah keacakan menjadi kesempatan," ujar Bagus menjelaskan pilihannya.

Pesan terakhir Bagus kepada mahasiswa "Belum tentu yang terdepan saat kuliah akan tetap terdepan setelah lulus. Belum tentu yang IPK-nya jelek tidak bisa jadi profesor. Ketahanan mental dan kemampuan belajar terus, itulah yang menentukan." (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#kuliah #dunia kerja #Prof Bagus Mulyadi #kenyataan #kerja #ipb university #Najwa Shihab #mata najwa