Menteri Pendidikan Tinggi Ungkap Kenyataan Pahit: Gelar Sarjana Bukan Jaminan Kerja di Era Teknologi
Rahma Nur Anisa• Kamis, 9 Oktober 2025 | 21:00 WIB
Diskusi yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari komika, profesor, dan artis
BLITAR KAWENTAR – Dalam acara diskusi "Kuliah, Kerja, dan Kenyataan" yang digelar Mata Najwa di IPB University, Rabu (2/10/2025), Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto mengakui bahwa gelar sarjana saat ini tidak lagi menjadi jaminan mendapatkan pekerjaan. Pernyataan ini menjadi tamparan keras bagi jutaan mahasiswa Indonesia yang berjuang menempuh pendidikan tinggi dengan biaya mahal.
Diskusi yang menghadirkan narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari komika Ernest Prakasa, profesor muda Bagus Mulyadi dari Universitas Nottingham, aktris dan dosen Prilly Latuconsina, hingga penyanyi Kunto Aji, membahas relevansi pendidikan tinggi di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan.
Prof. Brian menegaskan bahwa pendidikan tinggi seharusnya bukan sekadar untuk mendapatkan pekerjaan, melainkan untuk membangun kapasitas intelektual dan kepemimpinan. "Pendidikan tinggi adalah proses capacity growth. Bukan hanya selembar kertas ijazah, tapi ada kapasitas yang terbangun melalui lingkungan kampus," ujarnya di hadapan ratusan mahasiswa IPB.
Namun, kenyataan di lapangan berbeda. Data menunjukkan bahwa banyak lulusan perguruan tinggi kesulitan mendapat pekerjaan karena tidak memiliki keterampilan yang dibutuhkan industri. Menanggapi hal ini, pemerintah meluncurkan program magang nasional selama 6 bulan dengan gaji setara Upah Minimum Provinsi (UMP) untuk 20.000 lulusan fresh graduate.
Prof. Bagus Mulyadi, yang kini mengajar di Universitas Nottingham, memberikan perspektif berbeda tentang makna gelar sarjana. "Secara historis, bachelor degree adalah tentang menciptakan free spirit, bukan untuk dapat kerja. Kuliah itu untuk menciptakan lapangan kerja, bukan jadi pekerjanya," jelasnya.
Ernest Prakasa, yang berlatar belakang Hubungan Internasional namun sukses di industri kreatif, menambahkan bahwa di bidangnya, ijazah tidak wajib. Yang lebih penting adalah kemampuan komunikasi dan soft skills. "Hal kecil seperti cara datang ke interview, gesture, senyum itu berpengaruh besar," ungkapnya.
Prilly Latuconsina, yang aktif sebagai dosen sambil berkarier di industri hiburan, menekankan pentingnya adaptasi dan ketahanan terhadap kritik. "Mahasiswa harus adaptif dan tahu bahwa work-life balance di setiap industri berbeda. Jangan mengharapkan gentle parenting di dunia kerja," tegasnya.
Diskusi juga menyoroti tantangan kecerdasan buatan (AI). Indonesia menjadi pengguna ChatGPT terbesar kedua setelah Amerika Serikat, namun hanya sebagai konsumen. Prof. Bagus mendemonstrasikan cara memanfaatkan AI untuk berpikir kritis, bukan sekadar mencari jawaban instan. "Kunci menggunakan AI adalah merumuskan pertanyaan yang tepat. Untuk bertanya dengan baik, kamu harus punya konteks dan pengetahuan yang luas," jelasnya.
Di akhir acara, delapan mahasiswa mendapat kesempatan interview langsung dan dipilih untuk magang bersama para narasumber. Arlan Pariji, mahasiswa Ekonomi Syariah yang membiayai kuliahnya sendiri, terpilih magang bersama Ernest Prakasa dan Prof. Brian karena dianggap memiliki kemampuan komunikasi dan daya juang tinggi.
Prof. Brian menutup diskusi dengan pesan "Golden time masa kuliah sangat penting untuk membangun leadership skill, kecerdasan sosial, dan kemampuan mengelola banyak tugas sekaligus. Gelar itu janji bahwa ilmu tidak terkurung di kepala, tapi bermanfaat bagi orang lain." (*)