Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pemerintah Luncurkan Program Magang Bergaji UMP untuk 20 Ribu Lulusan: Solusi atau Tambal Sulam?

Rahma Nur Anisa • Kamis, 9 Oktober 2025 | 20:00 WIB

Prof. Brian mengakui bahwa beban tugas sebagai menteri sangat berat.
Prof. Brian mengakui bahwa beban tugas sebagai menteri sangat berat.

BLITAR KAWENTAR – Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Brian Yuliarto mengumumkan program magang nasional selama 6 bulan dengan gaji setara Upah Minimum Provinsi (UMP) untuk 20.000 fresh graduate. Program ini diluncurkan sebagai respons terhadap tingginya angka pengangguran sarjana di Indonesia.

Pengumuman ini disampaikan dalam diskusi Mata Najwa "Kuliah, Kerja, dan Kenyataan" di IPB University pada 2 Oktober 2025. Prof. Brian menjelaskan bahwa program ini ditujukan untuk lulusan yang baru satu tahun lulus, memberikan mereka kesempatan untuk lebih siap memasuki dunia kerja.

"Kita ingin menyiapkan lulusan yang fresh graduate sambil menunggu posisi permanen. Mereka bisa magang 6 bulan dengan gaji UMP," jelas Prof. Brian. Ia menambahkan bahwa peserta dapat memilih posisi yang tersedia melalui platform website yang dikelola Kementerian Ketenagakerjaan.

Baca Juga: Kisah Faisal Asegaf: Ditawan Hizbullah, Nyaris Dihukum Mati di Suriah!

Program ini melibatkan kolaborasi antara Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk menyediakan posisi magang di berbagai bidang dan lokasi di seluruh Indonesia. "Misalnya ada posisi di Aceh, bidang industri kelapa, butuh tiga orang dengan gaji sekian. Adik-adik tinggal pilih dan melamar," jelasnya.

Prof. Brian optimis program ini akan berkembang. "Kalau 20.000 responnya bagus, bisa ditambah jadi 40.000, bahkan Pak Menko Perekonomian bilang bisa sampai 100.000," ungkapnya.

Namun, program ini menuai pertanyaan tentang efektivitasnya sebagai solusi jangka panjang. Prof. Bagus Mulyadi dari Universitas Nottingham menyoroti akar masalahnya,  ketidaksesuaian antara kurikulum kampus dengan kebutuhan industri yang berubah cepat.

Baca Juga: Bongkar Faisal Asegaf: Israel Diam-Diam Simpan 200 Bom Nuklir, Iran Justru Nol!

"Dunia besok seperti apa tidak bisa diprediksi. Mahasiswa sekarang menginvestasikan waktu dan uang, bahkan meminjam, untuk pendidikan yang mungkin tidak relevan saat mereka lulus," ujar Bagus. Ia menambahkan bahwa universitas di Indonesia menghadapi tantangan berat karena jumlahnya yang mencapai 4.500, jauh lebih banyak dari China yang hanya memiliki sekitar 3.000 universitas untuk populasi lima kali lipat Indonesia.

Ernest Prakasa, sutradara dan komika, menambahkan perspektif dari sisi industri. "Program seperti ini mirip management training atau technical training di perusahaan. Mereka belajar sambil bekerja, dan bukannya tidak mungkin perusahaan akan merekrut mereka setelah melihat kinerjanya," ujarnya.

Prilly Latuconsina, yang juga hadir sebagai narasumber, menyoroti pentingnya kesiapan mental peserta. "Mahasiswa harus tahu bahwa dunia kerja berbeda dengan kampus. Tidak ada gentle parenting di dunia profesional. Harus siap kerja di bawah tekanan dan mungkin akhir pekan juga harus standby," jelasnya.

Baca Juga: Shell Alihkan Fokus ke Kendaraan Listrik, Tantangan dan Peluang bagi Indonesia

Prof. Brian mengakui bahwa beban tugas sebagai menteri sangat berat. "Kita bertanggung jawab terhadap 10 juta mahasiswa, 300.000 dosen, 4.000 lebih kampus. Setiap saat ada mahasiswa bermasalah secara ekonomi, dosen yang mengeluhkan tunjangan, kenaikan pangkat, hingga kekerasan senior-junior dan demonstrasi mahasiswa," ungkapnya.

Ia menekankan bahwa skill yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan tersebut tidak hanya dipelajari di kelas, tetapi melalui pengalaman organisasi dan kepemimpinan selama kuliah. "Golden time masa kuliah sangat penting untuk membangun leadership, kemampuan mengelola banyak tugas sekaligus, kecepatan merespon situasi, dan kecerdasan sosial," jelasnya.

Program magang nasional ini juga disertai dengan komitmen pemerintah untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan tinggi melalui kurikulum yang lebih fleksibel dan multidisiplin. "Kita mendorong kampus untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi, melahirkan industri-industri baru seperti yang terjadi di Oxford, MIT, dan kampus-kampus top di Asia," tutup Prof. Brian. (*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#ernest prakasa #Prof Brian #program magang #pemerintah #Luncurkan #prilly latuconsina #Najwa Shihab #mata najwa