BLITAR KAWENTAR - Anak dari keluarga broken home sering dicap negatif. Stigma itu justru memperburuk luka batin, membuat mereka merasa tidak berharga dan terisolasi.
Laras pernah merasakan sakit hati karena ucapan orang lain. “Saya pernah dibilang tidak pantas dicintai hanya karena berasal dari keluarga broken home,” kenangnya.
Pengalaman itu mencerminkan masalah lebih luas: masyarakat sering menghakimi anak berdasarkan kondisi keluarganya. Akibatnya, banyak dari mereka memilih menutup diri.
Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Serahkan 384 Sertipikat PTSL untuk Warga Desa Gununggede Blitar
Psikolog menilai stigma membuat anak semakin sulit mencari pertolongan. Padahal yang dibutuhkan adalah dukungan, bukan penghakiman.
Menghapus stigma adalah langkah penting untuk menciptakan lingkungan inklusif. Anak dari keluarga broken home bukan aib, melainkan individu yang berhak bahagia.
Editor : M. Subchan Abdullah