Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Stigma Anak Broken Home: Mengapa Lingkungan Perlu Berhenti Menghakimi?

Rizqina Lailal Akhtari • Jumat, 10 Oktober 2025 | 02:00 WIB

Anak broken home sering distigma negatif: Padahal, mereka butuh dukungan, bukan penghakiman, agar bisa tumbuh percaya diri dan bahagia.
Anak broken home sering distigma negatif: Padahal, mereka butuh dukungan, bukan penghakiman, agar bisa tumbuh percaya diri dan bahagia.

BLITAR KAWENTAR - Anak dari keluarga broken home sering dicap negatif. Stigma itu justru memperburuk luka batin, membuat mereka merasa tidak berharga dan terisolasi.

Laras pernah merasakan sakit hati karena ucapan orang lain. “Saya pernah dibilang tidak pantas dicintai hanya karena berasal dari keluarga broken home,” kenangnya.

Pengalaman itu mencerminkan masalah lebih luas: masyarakat sering menghakimi anak berdasarkan kondisi keluarganya. Akibatnya, banyak dari mereka memilih menutup diri.

Baca Juga: Kementerian ATR/BPN Serahkan 384 Sertipikat PTSL untuk Warga Desa Gununggede Blitar

Psikolog menilai stigma membuat anak semakin sulit mencari pertolongan. Padahal yang dibutuhkan adalah dukungan, bukan penghakiman.

Menghapus stigma adalah langkah penting untuk menciptakan lingkungan inklusif. Anak dari keluarga broken home bukan aib, melainkan individu yang berhak bahagia.

Baca Juga: Warga Gununggede Wonotirto Blitar Keluhkan Bau Tak Sedap dari Limbah Peternakan Sapi hingga Wadul ke DPRD Kabupaten Blitar

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#family #broken home #rumah tangga