BLITAR KAWENTAR - Fenomena kafe di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari budaya digital. Banyak anak muda datang bukan untuk menikmati kopi, melainkan demi konten media sosial.
Kafe berlomba-lomba menghadirkan interior menarik agar pengunjung betah. Namun, sebagian remaja hanya memanfaatkan kafe sebagai latar foto untuk diunggah ke Instagram.
Psikolog remaja, Nita Sari, mengatakan, “Kebiasaan ini bisa memunculkan hedonisme jika tidak dikendalikan.” Menurutnya, mengunjungi kafe seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal positif, seperti berdiskusi, mengerjakan tugas, atau membangun jejaring.
Fenomena ini mencerminkan pergeseran fungsi ruang publik di era digital. Jika dikelola dengan bijak, kafe bisa menjadi wadah kreatif, bukan sekadar simbol gengsi.
Kafe bisa menjadi ruang produktif atau sekadar simbol status, tergantung bagaimana anak muda memaknainya. Bijak memanfaatkan ruang menjadi kunci.
Baca Juga: Pengamat Politik Blitar Beri Tanggapan Seputar Seleksi Sekda Kabupaten Blitar, Begini Katanya
Editor : M. Subchan Abdullah