Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kafe dan Media Sosial: Simbol Gengsi atau Ruang Kreatif Anak Muda?

Rizqina Lailal Akhtari • Jumat, 10 Oktober 2025 | 05:00 WIB

Fenomena kafe jadi tren digital: banyak remaja datang demi konten, bukan kopi. Bijak memaknainya bisa ubah kafe jadi ruang produktif.
Fenomena kafe jadi tren digital: banyak remaja datang demi konten, bukan kopi. Bijak memaknainya bisa ubah kafe jadi ruang produktif.

BLITAR KAWENTAR - Fenomena kafe di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari budaya digital. Banyak anak muda datang bukan untuk menikmati kopi, melainkan demi konten media sosial.

Kafe berlomba-lomba menghadirkan interior menarik agar pengunjung betah. Namun, sebagian remaja hanya memanfaatkan kafe sebagai latar foto untuk diunggah ke Instagram.

Psikolog remaja, Nita Sari, mengatakan, “Kebiasaan ini bisa memunculkan hedonisme jika tidak dikendalikan.” Menurutnya, mengunjungi kafe seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal positif, seperti berdiskusi, mengerjakan tugas, atau membangun jejaring.

Baca Juga: Dinkes Kabupaten Blitar Ungkap Temuan Baru Kasus Leptospirosis di Wilayah Kesamben, Segini Warga yang Terdampak

Fenomena ini mencerminkan pergeseran fungsi ruang publik di era digital. Jika dikelola dengan bijak, kafe bisa menjadi wadah kreatif, bukan sekadar simbol gengsi.

Kafe bisa menjadi ruang produktif atau sekadar simbol status, tergantung bagaimana anak muda memaknainya. Bijak memanfaatkan ruang menjadi kunci.

Baca Juga: Pengamat Politik Blitar Beri Tanggapan Seputar Seleksi Sekda Kabupaten Blitar, Begini Katanya

 

Editor : M. Subchan Abdullah
#ngopi #coffee shop #Budaya Ngopi #nongki