BLITAR — Menjelang pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) 2025, para guru dan operator sekolah jenjang SMA/SMK tengah disibukkan dengan persiapan simulasi. Simulasi ini menjadi tahapan penting untuk memastikan kesiapan infrastruktur sekolah sebelum pelaksanaan resmi TKA yang dijadwalkan pada pertengahan Oktober 2025.
Melalui kanal YouTube Ngapakpedia, edukator Nurul Hadi Fauzi memberikan panduan lengkap mengenai persiapan simulasi TKA, baik untuk mode online penuh maupun semi online. Menurutnya, seluruh sekolah yang memilih pelaksanaan mandiri wajib memahami proses instalasi aplikasi, sinkronisasi data VHD, hingga tata cara login peserta ujian.
“Simulasi TKA ini hanya berlaku untuk sekolah yang status infrastrukturnya mandiri. Data peserta yang digunakan diambil berdasarkan hasil cut-off pada Jumat, 3 Oktober 2025 pukul 23.59 WIB,” ujar Nurul Hadi dalam penjelasannya.
Persiapan Awal Simulasi TKA
Sebelum mengikuti simulasi, operator sekolah diwajibkan mengunduh aplikasi pendukung sesuai mode pelaksanaan.
Untuk mode full online, cukup menyiapkan dua aplikasi: Proctor Browser (untuk proktor) dan Exam Browser Client (untuk siswa).
Sementara untuk mode semi online, dibutuhkan tambahan tiga aplikasi lain, yakni Exam Browser Admin, Exam Browser Client, serta VHD TKA. File VHD ini bisa diunduh melalui tautan yang tersedia di saluran WhatsApp resmi Ngapakmedia.
Baca Juga: Langgar Izin Tinggal, Warga Negara Malaysia Dideportasi dari Blitar
Nurul menegaskan, proses sinkronisasi VHD TKA harus dilakukan sesuai jadwal yang ditentukan, yakni mulai Senin, 6 Oktober pukul 17.00 hingga Selasa, 7 Oktober 2025 pukul 23.59 WIB. Tidak ada batasan jam khusus, sehingga sekolah dapat melakukan sinkronisasi kapan saja selama periode tersebut.
“Yang penting, sinkronisasi dilakukan dalam rentang waktu yang sudah dibuka. Tidak perlu menunggu jam tertentu,” jelasnya.
Cara Menentukan Versi Aplikasi: 32-bit atau 64-bit
Baca Juga: Investasi dan Gaya Hidup: Kunci Menghindari Perangkap Konsumerisme
Salah satu hal teknis yang kerap membingungkan operator adalah pemilihan versi aplikasi yang sesuai dengan laptop. Nurul menjelaskan, pengguna dapat mengeceknya dengan membuka menu “About Your PC”.
Jika pada sistem tertulis 64-bit operating system (X64), maka aplikasi yang harus diunduh adalah versi 64-bit. Sebaliknya, jika tertulis X86 atau 32-bit, maka unduhlah versi 32-bit. “Proctor Browser dan Exam Browser tersedia dalam dua versi tersebut. Namun, untuk Exam Browser Admin hanya ada satu versi yang sama untuk semua perangkat,” imbuhnya.
Tahapan Pelaksanaan Simulasi TKA 2025
Simulasi TKA dijadwalkan berlangsung mulai Rabu hingga Minggu, 8–12 Oktober 2025. Tidak ada pembagian sesi atau gelombang, sehingga sekolah bebas menentukan waktu pelaksanaan selama rentang tersebut.
Baca Juga: Sobat Milenial, Mau Pensiun Dini? Kenali Konsep Kebebasan Finansial Sejak Dini
Tes simulasi ini hanya menggunakan data dummy — bukan data siswa asli. Artinya, dalam kartu tes nantinya hanya tertulis nama “peserta 1”, “peserta 2”, dan seterusnya. Mapel yang diujikan juga masih terbatas pada Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan Matematika untuk jenjang SMA/SMK.
“Ini baru tahap simulasi pertama. Jadi wajar jika nanti ada kendala teknis seperti error, gagal login, atau data belum muncul. Justru ini momen untuk menguji kesiapan jaringan dan server sekolah,” terang Nurul.
Ia juga menyarankan agar simulasi dilakukan bersama siswa secara langsung agar operator bisa menilai apakah infrastruktur sekolah sudah memadai. Hal ini mencakup kestabilan jaringan internet, kecepatan server lokal, serta kemampuan perangkat komputer dalam menjalankan exam browser tanpa gangguan.
Baca Juga: Poco X7 Pro Hadir dengan Fitur AI Canggih dan Refresh Rate 120Hz, Ini Tips Maksimalkannya
Selain itu, Nurul menyebutkan kemungkinan penggunaan kartu tes secara bergantian jika jumlah kartu login terbatas. “Misalnya hanya tersedia 10 kartu login, sementara siswanya 26. Maka bisa digunakan bergantian setiap hari,” ujarnya.
Simulasi Wajib Diikuti Sekolah Mandiri
Simulasi TKA 2025 menjadi momen penting karena untuk pertama kalinya uji coba dilakukan secara nasional dengan sistem baru yang menyerupai ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer). Namun, skala pesertanya jauh lebih besar karena mencakup seluruh SMA/SMK sederajat di Indonesia.
Baca Juga: FIFA Berry Shop Gelar Promo iPhone Besar-besaran, Bisa Cicilan Tanpa DP dan Giveaway Poco X7 Pro
“Kalau ANBK saja kadang error, apalagi TKA yang pesertanya lebih banyak dan data lebih kompleks. Jadi, harap maklum kalau ada kendala teknis,” tutup Nurul sambil berpesan agar operator tetap tenang dan fokus pada tahapan simulasi.
Dengan demikian, pelaksanaan simulasi TKA bukan hanya menjadi ajang uji coba teknis, tetapi juga bentuk kesiapan sekolah menghadapi transformasi sistem evaluasi nasional yang semakin digital.