BLITAR KAWENTAR - Di balik kecerdasan dan rasa ingin tahu yang tinggi, Chika percaya keberhasilan anak tak hanya diukur dari akademik, tetapi juga dari empati dan kemampuan menghadapi kegagalan. Ia berbagi cara menanamkan kedua nilai penting itu pada Ken.
Chika menceritakan salah satu momen paling berkesan saat Ken memutuskan memberikan mainannya kepada tetangga. “Dia bilang mau kasih ke Moses karena Moses nggak punya mainan itu. Buat aku, di usia dua tahun, itu bentuk empati luar biasa,” ujarnya bangga.
Selain empati, Chika juga mengajarkan konsep kalah dan gagal melalui permainan kecil di rumah. Ia sering mengadakan lomba sederhana seperti memindahkan bola atau pompom. “Aku nggak pernah sengaja biar dia menang terus. Aku mau dia tahu rasanya kalah dan nggak apa-apa gagal,” katanya.
Baca Juga: 6 Wisata Blitar Terbaru dan Hits 2023, dari Masjid Ar-Rahman hingga Candi Penataran
Menurutnya, anak yang terbiasa menerima kegagalan akan lebih resilien dan siap menghadapi tantangan hidup. Ia selalu menenangkan Ken dengan kalimat, “Nggak apa-apa, yang penting kamu udah coba.”
Nilai-nilai ini, kata Chika, tak bisa dilepaskan dari dukungan lingkungan keluarga. Ia dan suaminya berusaha memberikan contoh nyata melalui perilaku sehari-hari.
Bagi Chika, kemenangan sejati bukan sekadar prestasi akademik, tetapi tumbuhnya anak yang berempati, tahan uji, dan percaya diri. “Kemenangan si kecil adalah prioritas utama,” tutupnya.
Editor : M. Subchan Abdullah