BLITAR KAWENTAR - Ungkapan “cinta membuat bodoh” ternyata bukan hanya kiasan. Ilmuwan menemukan bahwa ketika seseorang jatuh cinta, bagian otak yang mengatur logika benar-benar melemah karena pengaruh hormon.
Dalam sesi bincang di Kelas Pakar Malaka, Ru Hasan menjelaskan bahwa fenomena jatuh cinta berakar dari kebutuhan biologis manusia untuk bereproduksi. Secara alami, otak manusia “membajak” rasionalitas demi memastikan keturunan tetap berlanjut.
Prosesnya dimulai dari lonjakan hormon testosteron yang menimbulkan ketertarikan spontan, disusul oleh peningkatan dopamin yang memberi rasa bahagia luar biasa. Kedua hormon ini menciptakan efek “kecanduan” terhadap orang yang disukai.
Setelah hubungan emosional terbentuk, hormon oksitosin mengambil alih. Hormon ini membuat seseorang merasa percaya dan terikat kuat, bahkan melebihi rasa percaya terhadap keluarga sendiri. “Banyak perempuan yang baru kenal tiga minggu bisa lebih percaya pada pasangannya daripada pada orang tuanya,” ujar Ru Hasan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa cinta romantis adalah hasil dari interaksi kimia di otak. Efeknya mirip seperti orang yang ketagihan zat tertentu—rindu, euforia, lalu sakit saat kehilangan. Hasan bahkan menyebut bahwa rasa sakit karena putus cinta bisa diredakan dengan obat sederhana seperti parasetamol, karena bagian otak yang aktif saat patah hati sama dengan bagian otak yang memproses rasa nyeri fisik.
Jatuh cinta memang membuat manusia kehilangan nalar, tetapi di balik “kebodohan” itu terdapat mekanisme biologis yang membantu manusia membangun ikatan dan meneruskan kehidupan.
Editor : M. Subchan Abdullah