BLITAR KAWENTAR - Dr. Tirta Mandira Hudhi, dokter sekaligus pengusaha muda, membagikan pandangan tajam tentang makna pendidikan lanjutan. Dalam video berdurasi lebih dari satu jam, ia menjelaskan alasan pribadi dan filosofis di balik keputusannya melanjutkan studi S2 meski telah sukses secara karier dan finansial. Menurutnya, tujuan utama menempuh pendidikan tinggi bukan sekadar mengejar gelar atau status sosial, melainkan memperbaiki cara berpikir dan menurunkan ego.
dr. Tirta menilai, perjalanan pendidikan manusia merupakan proses bertahap untuk membentuk logika, moral, dan kemampuan sosial. Ia memetakan tahapan pendidikan mulai dari taman kanak-kanak yang mengajarkan interaksi sosial, hingga kuliah yang berfokus pada kemampuan mencari uang dan memahami realitas hidup. Sementara itu, jenjang S2 berfungsi untuk memperluas wawasan dan mengoreksi pola pikir yang kerap terjebak pada ego, ambisi, dan mimpi yang tidak realistis.
Ia mengaku, motivasinya melanjutkan studi S2 muncul setelah menyadari sikap arogannya di masa lalu. “S2 itu refleksi diri. Bukan untuk sombong, tapi untuk belajar kembali bahwa kita bukan satu-satunya orang pintar di dunia ini,” ujarnya. Menurutnya, pendidikan lanjutan memberi ruang bagi seseorang untuk bertemu orang-orang yang lebih cerdas, sekaligus memperkaya perspektif dalam menghadapi kehidupan.
Selain membahas pentingnya pola pikir, dr. Tirta juga menyoroti bahaya tiga hal yang dapat menghancurkan manusia: ego, ambisi, dan mimpi yang tidak realistis. Ego membuat seseorang butuh pengakuan, ambisi dapat menjerumuskan pada keserakahan, sementara mimpi yang tidak bisa dicapai sering melahirkan penyesalan. Ia menekankan pentingnya memahami batas kemampuan diri dan menyeimbangkan ambisi dengan realitas.
Lebih jauh, dr. Tirta menyoroti pentingnya kemampuan membaca dan belajar berkelanjutan. Menurutnya, banyak orang gagal berkembang bukan karena kurang pintar, tetapi karena malas membaca dan memperbarui wawasan.
“Kalau kamu tidak mau S2, minimal bacalah. Iqra. Karena dari membaca kamu bisa memperbaiki cara berpikir,” katanya. Ia juga menyinggung relevansi dunia kerja dan pendidikan, mengkritik sistem perekrutan yang masih menggunakan pertanyaan tidak relevan dan ketinggalan zaman.
dr. Tirta menutup refleksinya dengan pesan bahwa kebodohan bukanlah hal memalukan, asalkan disertai keinginan untuk terus belajar. Justru yang berbahaya, menurutnya, adalah orang yang merasa pintar tapi berhenti mencari ilmu.
“Kegagalan hanya milik orang yang mau berjuang. Tapi ketololan adalah milik orang pintar yang tidak mau belajar,” tuturnya.Lewat pernyataan reflektif dan lugas, dr. Tirta mengingatkan bahwa pendidikan sejati tidak berhenti di bangku kuliah, melainkan terus berjalan sepanjang hidup.
Editor : M. Subchan Abdullah