Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Trauma Belajar dan Jam Kosong: Cermin Gagalnya Sistem Sekolah Kita

Sarulloh Adi Prayoga • Minggu, 19 Oktober 2025 | 02:00 WIB

ari ini, sebagian besar siswa lebih banyak belajar dari YouTube dan TikTok daripada dari guru di kelas. Dunia pendidikan telah bergeser ke ranah digital, namun sistem sekolah belum beradaptasi. “Guru
ari ini, sebagian besar siswa lebih banyak belajar dari YouTube dan TikTok daripada dari guru di kelas. Dunia pendidikan telah bergeser ke ranah digital, namun sistem sekolah belum beradaptasi. “Guru

BLITAR KAWENTAR-Fenomena “jam kosong” yang disambut gembira siswa ternyata menyimpan makna dalam. Ia bukan sekadar momen istirahat, tapi refleksi dari sistem pendidikan yang tak lagi menumbuhkan rasa ingin tahu.
Menurut diskusi yang viral di media sosial, banyak siswa menyukai jam kosong karena mengalami trauma belajar. Otak mereka dipaksa menghafal hal-hal yang tidak bermakna, hingga lelah secara kognitif dan emosional. Akibatnya, proses belajar menjadi momok, bukan kebutuhan.

Dalam kondisi itu, siswa justru menunjukkan potensi aslinya ketika “bebas”. Ada yang berjualan, bermain musik, membuat konten, atau berolahraga—hal-hal yang menunjukkan bakat dan passion alami mereka. Ironisnya, justru aktivitas-aktivitas itu yang sering tidak mendapat tempat dalam kurikulum.

Ahli pendidikan menyebut bahwa relevansi adalah kunci. “Belajar hanya akan bermakna jika terkait dengan kebutuhan hidup,” ujar narasumber. Ketika siswa tahu manfaat suatu pelajaran bagi hidupnya, mereka akan antusias. Sebaliknya, ketika tidak tahu why-nya, otak akan menolak.
Jam kosong bukan hanya waktu tanpa guru—ia adalah cermin bahwa siswa rindu belajar yang bermakna. Sistem pendidikan perlu berani berubah dari sekadar mentransfer pengetahuan menjadi menumbuhkan kesadaran.

Baca Juga: Dua Pelajar SMA di Blitar Sukses Gondol Medali Kompetisi Robotik Internasional, Ini Sosoknya

Hari ini, sebagian besar siswa lebih banyak belajar dari YouTube dan TikTok daripada dari guru di kelas. Dunia pendidikan telah bergeser ke ranah digital, namun sistem sekolah belum beradaptasi. “Guru masih melarang siswa belajar dari Google, padahal 90% pekerjaan masa depan berbasis digital,” ujar pembicara dalam diskusi tersebut.

Ironinya, perubahan kurikulum yang terus berganti tidak menjawab tantangan ini. Alih-alih berfokus pada bagaimana beradaptasi dengan era digital, perdebatan pendidikan masih berkutat pada apa yang harus diajarkan.

Kondisi ini menimbulkan krisis relevansi. Ketika siswa menghadapi masalah nyata seperti obesitas, kesehatan mental, dan ketergantungan digital, pelajaran yang mereka dapat justru tentang sistem peredaran darah katak. “Kita diajari teori kehidupan, tapi tidak diajari cara hidup,” sindir narasumber.

Editor : M. Subchan Abdullah
#Tips cerdas agar diingat orang #pendididkan #tips