BLITAR KAWENTAR - Aula Satya Mandala SMAN 1 Talun tampak berbeda dari biasanya pada Selasa, 28 Oktober 2025. Terdengar riuh ricuh para siswa kelas XI beserta perwakilan setiap kelas X yang hendak memasuki ruangan tersebut untuk berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan SMAN 1 Talun.
Yakni perayaan Bulan Bahasa dan Sastra (BBS) 2025, yang menjadi ajang tahunan untuk menyalakan kembali gairah berkarya dan bersastra di kalangan pelajar. Yang menjadikannya semakin istimewa, peringatan Bulan Bahasa dan Sastra tahun ini bertepatan dengan momentum Hari Sumpah Pemuda.
Acara dimulai pada pukul 08.00 WIB dengan pembukaan yang dipandu oleh Yuan Adiwignya Pratita selaku Master of Ceremony. Pembawa acara memperkenalkan rangkaian agenda yang akan berlangsung sepanjang hari, mulai dari sambutan, talkshow jurnalistik, penampilan sastra, hingga acara utama yaitu peluncuran buku karya siswa kelas XI.
Selanjutnya sambutan disampaikan oleh Kepala Sekolah SMAN 1 Talun, Bapak Edy Sasmito, S.S., M.Pd., yang dalam kesempatan tersebut memberikan motivasi kepada seluruh siswa untuk menumbuhkan kebiasaan menulis sejak dini.
Beliau menyampaikan bahwa menulis bukan hanya bentuk ekspresi diri, tetapi juga sarana untuk berkarya dan berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.
“Diharapkan setiap individu dapat terus berkarya, apa pun bentuknya. Sebab melalui menulis, gagasan dapat diwujudkan menjadi karya yang bernilai, bahkan mampu memberikan manfaat dan menjadi sumber penghidupan. Mari kita berkarya, mari kita bersastra,” tutur beliau dengan nada khas yang membakar semangat seluruh siswa.
Usai menyampaikan pesan inspiratif itu, beliau dengan penuh semangat meneriakkan jargon, “SMANTA Jaya!”, yang sontak disambut dengan sorak riuh dan tepuk tangan bergemuruh dari seluruh hadirin.
Setelah sambutan dari jajaran pimpinan sekolah, acara dilanjutkan dengan agenda pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi. Ibu Chatrina selaku guru pengampu mata pelajaran Bahasa Indonesia, mengumumkan nama-nama pemenang lomba cerdas cermat serta siswa dengan nilai Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) tertinggi kelas XI.
Pemenang lomba cerdas cermat kategori kelas XI yaitu kelas XI-A1, XI-D3, dan XI-D1. Sedangkan untuk pemenang lomba cerdas cermat kategori kelas X yaitu kelas X-D, X-J, dan X-G.
Siswi peraih skor Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) tertinggi dengan skor 723 adalah Resita Aprilia Dewi dari kelas XI-A1. Pemberian apresiasi ini disambut tepuk tangan dari seluruh hadirin di aula.
Momen ini menegaskan pengakuan sekolah terhadap dedikasi dan kerja keras para siswa, yang diharapkan dapat menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus meningkatkan prestasi mereka.
Acara dilanjutkan dengan talk show bertema “Menulis dan Jurnalisme di Era Digital” bersama Bapak Yanu Aribowo, seorang jurnalis sekaligus redaktur Radar Blitar yang telah lama berkecimpung di dunia media.
Dalam pemaparannya, Bapak Yanu menjelaskan pentingnya menulis dengan memperhatikan unsur kebenaran informasi. Ia menegaskan bahwa jurnalisme tidak hanya menyampaikan berita, tetapi juga melibatkan proses verifikasi agar informasi yang disampaikan dapat dipercaya.
Menurutnya, ada tiga tahapan penting dalam proses penulisan berita, yaitu membaca, melakukan wawancara, dan pengamatan lapangan. Ketiganya menjadi dasar utama untuk menghasilkan berita yang faktual.
Ia juga menambahkan bahwa jurnalis perlu memperbanyak relasi karena informasi sering kali datang dari lingkungan sosial yang luas. Selain itu, Bapak Yanu juga menyoroti fenomena media sosial yang sering menjadi sumber informasi publik.
Menurutnya, unggahan di media sosial tidak dapat langsung dianggap sebagai karya jurnalistik karena tidak melalui proses konfirmasi dan validasi data.
Bapak Yanu juga menekankan pentingnya penerapan rumus 5W + 1H (What, Who, When, Where, Why, How) sebagai dasar dalam menulis berita. Dalam kesempatan itu, Bapak Yanu juga memberikan panduan kepada siswa mengenai cara memilih tema, menentukan sudut pandang, dan mengembangkan ide tulisan.
Ia menyampaikan bahwa penulis dapat mengolah sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang agar karya yang dihasilkan menjadi lebih menarik. Menurutnya, waktu terbaik untuk melakukan wawancara adalah di akhir sesi atau sekitar sepuluh menit terakhir ketika suasana sudah lebih santai dan narasumber lebih terbuka dalam memberikan informasi.
“Tak perlu banyak bertanya, cukup mencatat. Catatan adalah senjata utama jurnalis. Rekaman hanya pelengkap, bukan sebaliknya.” pesannya.
Sesi talkshow semakin hidup dengan tanya jawab interaktif. Andine Wahyu Avrilia dari kelas XI-A1 menjadi yang pertama mengajukan pertanyaan. “Bagaimana cara menentukan sudut pandang ketika kita tidak berada di lapangan?” tanyanya penuh antusias.
Dengan nada tenang dan yakin, Bapak Yanu menjawab, “Jurnalis akan kalah dengan jurnalis lain yang hadir langsung di lapangan.” Ia menegaskan bahwa kehadiran fisik di lokasi kejadian sangat penting.
Tidak berhenti di situ, Andine kembali melontarkan pertanyaan, “Apakah Radar Blitar pernah menerima permintaan dari pihak tertentu untuk melakukan pencitraan terhadap suatu organisasi?” Dengan kejujuran, Bapak Yanu mengakui, “Pernah.”
Namun, ia menegaskan bahwa seorang jurnalis sejati harus tetap profesional, memverifikasi data dari dua sisi, dan menjaga privasi narasumber. Lebih lanjut, Bapak Yanu menyinggung pentingnya etika dalam penulisan berita, terutama ketika menyangkut anak di bawah umur.
“Kami di Radar Blitar memiliki pedoman berita ramah anak,” jelasnya. “Identitas anak hanya disebut dengan inisial, dan foto harus diburamkan. Itu bentuk tanggung jawab redaksi terhadap perlindungan anak,” tegasnya.
Selanjutnya, Marisa Rulviana Poppy dari kelas XI-A2 mengajukan pertanyaan menarik, “Bagaimana cara membuat berita agar mudah diterima, bahasanya menghibur, dan membuat pembaca penasaran hingga akhir, tanpa terkesan terlalu formal?”
Menjawab hal itu, Bapak Yanu menjelaskan bahwa penulisan berita bisa dibuat lebih hidup dengan menggambarkan suasana nyata di lapangan, misalnya momen lucu seperti lagu yang tiba-tiba terputus saat dinyanyikan, teman yang tertidur, atau kejadian spontan yang tak disadari banyak orang.
Hal-hal kecil seperti itu, mampu memberi warna dan daya tarik tersendiri dalam karya sastra. Setelah sesi tanya jawab, suasana aula kembali riuh dan penuh semangat dengan hadirnya dua penampilan istimewa dari siswa-siswi SMAN 1 Talun.
Dhadya R. Nara Dayinta tampil membacakan geguritan berjudul “Lumunturing Budaya”. Dengan suara yang khas dan penuh penghayatan, Dhadya seolah membawa seluruh hadirin menyelami keindahan sastra Jawa dan nilai-nilai luhur budaya bangsa.
Sorak kagum dan tepuk tangan panjang mengiringi penampilannya. Kemeriahan berlanjut saat alunan lagu “Tabola Bale” dari band sekolah yang diketuai oleh Achmad Rafi Mubarok dari kelas XI-D2 bergema.
Siswa-siswi SMAN 1 Talun pun tak ragu ikut bernyanyi dan berjoget ria mengikuti irama. Namun di tengah kegembiraan itu, lagu tiba-tiba terhenti, membuat suasana sejenak hening di tengah tawa para siswa yang masih terbawa suasana.
Usai penampilan memukau dari para perwakilan siswa, acara berlanjut ke momen yang paling dinantikan, yakni peluncuran dua buku karya siswa kelas XI yang berjudul Pasung Jiwa dan The Roset Louvre Secret, memuat 360 pentigraf hasil karya sepuluh kelas dengan beragam tema kehidupan.
Acara istimewa ini dipandu oleh Ibu Chatrina Darul Rosikah, S.S. selaku guru pengampu Bahasa Indonesia kelas XI, sekaligus menjadi puncak dari seluruh rangkaian acara Bulan Bahasa dan Sastra SMA Negeri 1 Talun Tahun 2025.
“Semoga buku ini menjadi pijakan awal dalam perjalanan menulis kalian, karena melalui kreativitas dan semangat kalian, karya ini telah benar-benar terwujud. Kita lahir sebagai pejuang, bukan pecundang,” ucap Ibu Chatrina kepada para siswa.
Momen tersebut disambut meriah oleh seluruh hadirin. Setiap halaman buku seakan menjadi bukti nyata bahwa siswa-siswi SMAN 1 Talun mampu melahirkan karya hebat yang patut dibanggakan.
Acara ditutup dengan pembagian doorprize yang disambut sorak riang. Perayaan Bulan Bahasa dan Sastra tahun ini tak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan perwujudan nyata semangat berkarya.
Melalui kegiatan ini, SMAN 1 Talun menegaskan komitmennya sebagai sekolah yang tidak hanya mendidik secara akademik, tetapi juga menumbuhkan jiwa literasi, kreativitas, dan kepedulian budaya di hati setiap siswanya.
Dengan semangat “Mari Berkarya, Mari Bersastra,” SMAN 1 Talun menyalakan api literasi, api yang tak hanya menyinari ruang kelas, tetapi juga menerangi masa depan para penulis muda bangsa.
(Ditulis oleh kelompok 2 kelas XI-A1 dengan anggota: 1. Aurellia Rimbi Kirana (06), 2. Dhirgham Dhiyaul Haq Muslim (13), 3. Donny Annauva Kurnia (14), 4. Keyla Patristik Bhenika (20))
Editor : Yanu Aribowo