BLITAR - “Anak yang belajar menabung sejak dini, sedang menanam masa depan yang lebih bijak untuk dirinya esok.”
Di tengah gempuran teknologi dan budaya komsumtif, Indonesia sedang menghadapi tantangan serius yaitu rendahnya kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan. Survey Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tahun 2022 mencatat, tingkat literasi finansial masyarakat Indonesia baru mencapai 49,68%.
Angka ini menunjukkan bahwa banyak orang tahu cara menggunakan layanan keuangan, tetapi belum memahami bagaimana mengelola keuangan dengan benar. Fenomena pinjaman online (pinjol) dan judi online (judol) yang menjerat generasi muda menjadi cerminan betapa pentingnya pendidikan finansial diberikan sejak dini, bahkan sejak anak duduk di bangku sekolah dasar.
Mengapa Harus Sejak Sekolah Dasar?
Usia sekolah dasar adalah usia emas dalam pembentukan karakter. Di sinilah anak belajar membedakan antara “keinginan” dan “kebutuhan”, mengenali nilai uang, serta memahami arti penting menabung.
Menurut Kemdikbud (2017), literasi finansial bukan hanya tentang menghitung uang, melainkan tentang membangun pola pikir kritis, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan finansial yang bijak.
Anak-anak yang terbiasa mencatat pengeluaran, menabung sebagian uang sakunya, atau berdiskusi dengan orang tua tentang rencana belanja, sebenarnya sedang dilatih menjadi pribadi yang sadar finansial. Kecakapan ini menjadi bekal penting agar mereka kelak tidak mudah terjebak dalam gaya hidup konsumtif atau jebakan hutang yang mengintai di era digital.
Baca Juga: Mantan Kepala DLH Kabupaten Blitar Tutup Usia, Begini Sosoknya di Mata Rekan Kerja
Belajar tentang Uang Lewat Cara yang Menyenangkan
Siapa bilang belajar tentang uang harus serius? Justru sebaliknya, anak-anak akan lebih memahami konsep finansial melalui kegiatan yang menyenangkan dan kontekstual. Seperti yang sudah dilaksanakan oleh UPT SD Negeri Sidodadi 02, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar, guru mengajak siswa membuat pasar mini di kelas, bermain peran sebagai penjual dan pembeli, dan menciptakan bank kelas sebagai tempat menabung bersama. Melalui kegiatan ini, siswa bukan hanya memahami nilai uang, tetapi juga belajar tentang kerja sama, tanggung jawab, dan kejujuran.
Penggunaan pendekatan berbasis permainan edukatif (gamifikasi) seperti permainan monopoli juga digunakan sebagai media pembelajaran literasi finansial di UPT SD Negeri Sidodadi 02, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.
Selain itu seperti program Cha-Ching Curriculum juga menjadi inspirasi pendidikan literasi finansial di UPT SD Sidodadi 02, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Dengan konsep earn (mendapatkan), save (menabung), spend (membelanjakan), donate (menyumbang), anak-anak belajar bahwa uang tidak hanya untuk dihabiskan, tapi juga untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan bijak.
Tantangan dan Solusi
Mengajarkan literasi finansial di sekolah memang tidak semudah menuliskan rumus matematika. Ada berbagai tantangan yang dihadapi diantaranya yaitu belum terintegrasinya literasi keuangan dalam kurikulum sekolah dasar, keterbatasan bahan ajar dan media pembelajaran yang sesuai usia, dan guru belum mendapatkan pelatihan khusus untuk mengajarkan konsep keuangan.
Namun, bukan berarti hal itu tidak bisa diatasi. Solusinya bisa dimulai dari integrasi lintas mata pelajaran, misalnya dalam Matematika (menghitung keuntungan sederhana) dan Bahasa Indonesia (menulis laporan penjualan).
Selain itu pelatihan guru agar memahami metode pembelajaran pendidikan finansial yang aplikatif dan menyenangkan juga bisa menjadi solusi. Keterlibatan orang tua dan masyarakat juga sangat penting, karena pendidikan finansial yang baik tumbuh dari kebiasaan di rumah dan lingkungan sekitar. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat adalah kunci. Anak yang melihat orang tuanya menabung, mencatat pengeluaran, dan berdiskusi tentang uang akan lebih mudah memahami nilai penting dari literasi finansial.
Baca Juga: Peringati HKN ke-61, DPRD Kabupaten Blitar Komitmen Wujudkan Masyarakat Sehat dan Hebat
Membangun Generasi Melek Finansial
Pendidikan literasi finansial di sekolah dasar bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.
Anak-anak yang paham konsep keuangan akan tumbuh menjadi individu yang tidak mudah terjebak utang konsumtif, terbiasa merencanakan dan mengelola keuangan pribadi, dan siap menjadi wirausahawan muda yang kreatif dan bertanggung jawab. Lebih dari itu, literasi finansial juga dapat membentuk karakter pelajar Pancasila yang mandiri, bernalar kritis, dan berintegritas.
Menanam untuk Masa Depan
Mengajarkan literasi finansial di sekolah dasar ibarat menanam benih di tanah subur. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi seiring waktu akan tumbuh menjadi pohon yang kokoh. Anak yang memahami bagaimana mengelola uang hari ini akan menjadi warga negara yang mampu mengelola kehidupannya dengan bijak di masa depan.
Membekali generasi muda dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap finansial yang baik sejak dini, tidak hanya mencetak individu cerdas finansial, tetapi juga mewujudkan Indonesia Emas 2045 – bangsa yang sejahtera, mandiri, dan berdaya. (*)
1Pendidik di UPT SD Negeri Sidodadi 02, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Mahasiswa Pascasarjana Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya
2Dosen Pengampu Mata Kuliah Multiliterasi Global Pendidikan Dasar Pascasarjana Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya
3Dosen Pengampu Mata Kuliah Multiliterasi Global Pendidikan Dasar Pascasarjana Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Surabaya