BLITAR KAWENTAR - Akhir November 2025, Rian Yogo Wibowo, 28, melangkahkan kaki di Algeria, sebagai satu-satunya wakil Indonesia dalam Festival Seni Internasional yang menghadirkan seniman dari 22 negara. Guru seni budaya MAN 1 Blitar ini membawa karya seni zuhrufah, seni ornamen bernuansa Islam.
Perjalanan Yogo di dunia kaligrafi dimulai tahun 2011 di Madrasah Diniyah Tarbiyah Muballighin Sukorejo.
Di sana, ia mempelajari seni menulis Arab dengan pena khusus. Ketertarikan itu berlanjut hingga ia melanjutkan studi di Universitas Negeri Malang pada 2015, bergabung dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Al Quran Study Club.
Baca Juga: Pemadam Kebakaran Kabupaten Blitar Sebut Lilin Pemicu Kebakaran di Momen Perayaan Natal
Titik balik karier Yogo terjadi saat mengenal Lembaga SAKAL di Jombang, sebuah institusi yang mengajarkan metode pembelajaran kaligrafi efektif bernama 'taqlidi'. Metode yang diperkenalkan Syaikh Belaid Hamidi dari Maroko ini menerapkan pembelajaran dari dasar menuju kompleks, dengan konsep sanad atau guru yang jelas.
"Metode ini menekankan pada konsep sanad, sehingga setiap orang yang belajar bisa dilacak siapa guru dan dari mana guru ini mendapatkan ilmunya," jelas Pria yang bermukim di Jalan Jati, Blitar.
Hingga kini, Yogo telah meraih tiga ijazah kaligrafi riq'ah, diwani, dan diwani jali. Setelah lulus kuliah, Yogo bergabung dengan Komunitas Pecinta Kaligrafi Al Quran Blitar (KOPIQ Blitar), wadah yang mempertemukan para kaligrafer berprestasi tingkat regional hingga internasional.
Festival Seni Internasional di Algeria yang berlangsung 25-30 November 2025 menyeleksi peserta melalui proses ketat. Calon peserta wajib mengirimkan karya, CV, dan paspor untuk dinilai panitia. Dari sekian pendaftar Indonesia, hanya Yogo yang lolos.
"Kebetulan dari Indonesia cuma satu, karena akomodasinya yang paling besar. Tiket pesawat saja sudah mahal. Tapi sebenarnya yang mendaftar dari sana juga banyak," ungkap Yogo menjelaskan mengapa Indonesia hanya mengirim satu wakil.
Agenda dimulai dengan pembukaan dan pameran di hari pertama, dilanjutkan seminar tentang kedua seni tersebut di hari kedua. Hari ketiga dan keempat diisi workshop intensif seniman dari berbagai negara membuat stand dan mempraktikkan teknik mereka secara langsung. Hari kelima, peserta diajak tur keliling kota, sebelum acara ditutup di hari keenam.
"Workshopnya praktek langsung on the spot. Ada beberapa seniman di stand masing-masing, peserta keliling melihat teknik yang berbeda-beda. Keadaannya benar-benar sangat ramai," cerita Yogo antusias.
Ini bukan pertama kalinya karya Yogo dipamerkan di forum internasional. Sebelumnya, karyanya pernah dipamerkan di Universitas Al-Azhar, Mesir, meski hanya karyanya yang dikirim tanpa ia hadir langsung.
Kini, selain mengajar seni budaya dan sejarah di MAN 1 Blitar, Yogo aktif mengisi ekstrakurikuler kaligrafi, memberikan pelatihan paduan suara, dan terus berkarya baik di rumah maupun sekolah.
Yogo berharap apresiasi terhadap seniman Indonesia terus meningkat. Menurutnya, dunia seni kerap dipandang sebelah mata, padahal memiliki jenjang karier yang tidak kalah dengan profesi lain.
"Orang melihat saya kalau sudah suksesnya, tapi proses dibaliknya tidak dilihat. Sebenarnya jenjang karier di dunia seni tidak kalah dengan yang lain, tapi aplikasinya yang rendah membuat seniman susah survive," tandasnya. (*/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah