BLITAR KAWENTAR - Di balik lantunan bahasa Jawa yang halus dan runtut saat mengajar di sekolah, ternyata seorang guru asal Desa Salamrejo, Kecamatan Binangun, ini jago dalam membawakan acara. Terutama dengan nuansa tradisi Jawa, tentu dengan alunan bahasan Jawa. Dia Adalah Retno Pambayun.
Dia juga guru Bahasa Jawa SMPN 1 Binangun. Ini membuktikan bahwa bahasa daerah bukan sekadar mata pelajaran di kelas, melainkan juga jalan pengabdian dan ruang berkarya.
Perempuan 26 tahun yang akrab disapa Ayun itu menekuni dunia bahasa Jawa bukan semata karena peluang kerja. Pilihannya berangkat dari pesan sang ibu yang kini telah berpulang. Namun, seiring waktu, Ayun menemukan bahwa bahasa Jawa menawarkan cakrawala yang jauh lebih luas.
“Awalnya memang karena almarhum ibu ingin saya melanjutkan ke bahasa Jawa, katanya peluangnya ada. Tapi bukan karena ingin cepat jadi ASN. Saya tertarik karena ternyata lulusan bahasa Jawa itu tidak hanya jadi guru,” tuturnya.
Di bangku kuliah, Ayun mengenal beragam cabang seni yang melekat dalam pembelajaran Bahasa Jawa. Mulai dari aksara Jawa, tembang, geguritan, drama ketoprak, hingga seni karawitan dan tari. Bekal itu berpadu dengan kegemarannya sejak lama pada dunia public speaking.
Kini, selain mengajar, Ayun juga dikenal sebagai pambiwara atau panata cara dalam berbagai acara jawa. Mulai dari acara resmi hingga hajatan pernikahan Jawa. Jika waktunya memungkinkan, dia tak segan menerima undangan menjadi MC manten.
“Saya memang suka MC, pidato, membaca puisi. Dari situlah saya merasa cocok. Akhirnya saya tidak hanya jadi guru, tapi juga pembawa acara. Bahkan kalau ada pekerjaan MC dan waktunya pas, saya terima. MC manten, acara organisasi, musyawarah, semua pernah,” katanya sambil tersenyum.
Prestasinya di dunia pendidikan pun tak kalah membanggakan. Ayun pernah bersaing dengan puluhan guru dari sekolah negeri dan swasta se-Kabupaten Blitar dalam sebuah ajang inovasi pembelajaran.
Hasilnya, dia berhasil meraih juara dua berkat metode pengajaran kreatif yang diterapkannya di kelas pada 2021 lalu.
Di tahun yang sama, Ayun juga melangkah ke tingkat nasional. Dia menjadi finalis festival baca puisi bertema nasionalisme di Bumi Bung Karno, ajang yang diselenggarakan oleh New De Koloniale.
Baca Juga: Sepanjang 2025 Ada Sekitar 18 Ribu Warga Produktif di Kabupaten Blitar Terkena Diabetes Melitus
Dia menyukai bidang baca puisi, geguritan, pidato, dan pembawa acara. Maka dari itu, jika ada lomba atau acara yang sesuai, Ayun berusaha ikut.
“Bagi saya, menjadi guru bahasa Jawa bukan sekadar menyampaikan materi. Saya merasa memiliki tanggung jawab menanamkan nilai karakter dan unggah-ungguh kepada peserta didik. Tantangan terbesar menanamkan hal itu di tengah arus modern,” pungkasnya. (jar/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah