Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pentingnya Peran Orang Tua Membiasakan Anak Membaca Buku Sejak Dini di Tengah Gempuran Gawai

M. Subchan Abdullah • Minggu, 4 Januari 2026 | 22:05 WIB
TUMBUHKAN DAYA NALAR: Buku fisik tetap memiliki peran penting untuk meningkatkan daya nalar dan kritis, terutama bagi anak-anak.
TUMBUHKAN DAYA NALAR: Buku fisik tetap memiliki peran penting untuk meningkatkan daya nalar dan kritis, terutama bagi anak-anak.

BLITAR KAWENTAR - Di tengah derasnya arus digital dan kehadiran gawai yang kian melekat pada keseharian anak-anak, minat membaca buku perlahan mengalami penurunan.

Fenomena ini bukan hanya terjadi di kota besar, tetapi juga dirasakan di daerah, termasuk Bumi Bung Karno.

Rendahnya budaya literasi menjadi perhatian serius dunia pendidikan, sebab membaca bukan sekadar aktivitas akademik, melainkan fondasi penting dalam membangun karakter dan daya pikir anak.

Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Blitar mengambil langkah strategis dengan membatasi penggunaan gawai di lingkungan sekolah.

Kebijakan ini bukan dimaksudkan untuk menolak kemajuan teknologi, melainkan mengembalikan keseimbangan agar anak-anak kembali akrab dengan buku sebagai sumber utama pengetahuan.

Kepala Dispendik Kota Blitar, Dindin Ali Nurdin, menyebut perkembangan teknologi ibarat dua sisi mata uang.

Di satu sisi memberi kemudahan, di sisi lain menghadirkan tantangan besar bagi dunia pendidikan, khususnya dalam menjaga minat baca generasi muda.

“Anak-anak sekarang sangat dekat dengan gawai. Kalau tidak diarahkan, mereka bisa lebih asyik bermain layar daripada membaca buku. Padahal, literasi membaca kita masih rendah,” ujarnya.

Menurut Dindin, literasi membaca memiliki peran penting dalam membentuk cara berpikir kritis, memperkaya kosakata, serta menumbuhkan empati dan imajinasi anak.

Buku mengajarkan anak untuk berpikir runtut, memahami makna, dan menyerap nilai-nilai kehidupan yang tidak selalu bisa didapatkan dari konten digital yang serba instan.

Namun demikian, dispendik menegaskan bahwa peningkatan literasi tidak bisa hanya dibebankan pada sekolah.

Baca Juga: Marten Paes ke Persib Bandung Kembali Panas: Sudah Dibantah, Tapi Kode dari Pasangan dan Kebutuhan Kiper Asia Bikin Bobotoh Deg-degan

Peran keluarga, khususnya orang tua, menjadi kunci utama dalam membentuk kebiasaan membaca sejak dini.

Anak-anak membutuhkan teladan nyata di rumah agar membaca menjadi bagian dari rutinitas, bukan sekadar tugas sekolah.

“Kalau di rumah orang tua juga gemar membaca, anak akan meniru. Literasi itu dibangun dari kebiasaan, bukan paksaan,” tambahnya.

Untuk memperkuat budaya baca, dispendik melalui lembaga sekolah rutin mengajak siswa mengunjungi berbagai perpustakaan, mulai dari Perpustakaan Daerah hingga Perpustakaan Proklamator Bung Karno.

Kunjungan tersebut tidak sekadar wisata edukasi, melainkan dibarengi dengan tugas membaca dan membuat evaluasi sederhana dari buku yang dipilih.

Melalui cara itu, guru dapat mengetahui minat baca siswa sekaligus mengukur pemahaman mereka terhadap isi bacaan. Anak-anak pun diajak menikmati proses membaca tanpa tekanan, namun tetap terarah.

Di tengah pembelajaran modern yang semakin digital, Dispendik menekankan pentingnya keseimbangan. Gawai tetap digunakan sebagai alat bantu belajar, tetapi tidak menggantikan peran buku fisik yang terbukti efektif membangun daya nalar dan karakter.

“Harapannya, anak-anak tidak kehilangan kedekatan dengan buku. Buku tetap menjadi sumber utama pengetahuan,” tegas Dindin.

Dispendik tengah menyiapkan program khusus agar setiap siswa terbiasa meminjam dan membaca minimal satu buku setiap pekan.

Program ini akan dijalankan secara berkelanjutan dengan sistem pemantauan oleh guru, sehingga budaya literasi benar-benar tumbuh dan mengakar. (sub/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#budaya baca #literasi #Bangun Karakter #peran orang tua #gawai #anak #Daya nalar #membaca buku