Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Produk Inovasi Milik Petani Koi Blitar Ini Bikin Ongkos Listrik Makin Irit hingga 80 Persen

M. Subchan Abdullah • Kamis, 15 Januari 2026 | 14:00 WIB
PENUH EKSPERIMEN: Alfin Salam menunjukkan rakitan pompa air hemat listrik yang memenangi lomba Inotek Kota Blitar 2025.
PENUH EKSPERIMEN: Alfin Salam menunjukkan rakitan pompa air hemat listrik yang memenangi lomba Inotek Kota Blitar 2025.

BLITAR KAWENTAR - Pompa air untuk budi daya perikanan buatan Alfin Salam diklaim hemat biaya listrik. Air yang dipompa juga menghasilkan oksigen sehingga baik untuk ikan.

Karya inovatif warga Kelurahan Kauman, Kecamatan Kepanjenkidul, sukses mendapat juara dalam lomba Inovasi Teknologi (Inotek) yang digelar Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar pada 2025 lalu.

Pompa air hemat listrik itu lahir dari sebuah kegelisahan panjang petani ikan hias, terutama mereka yang memelihara koi. Kegelisahan itu bukan soal pakan atau pasar yang sepi, melainkan angka di meteran listrik yang terus berputar. Ongkos listrik pun membengkak.

Dari kegelisahan itulah, Alfin Salam menemukan jalannya. Muncul ide untuk membuat pompa air hemat listrik untuk rekan seperjuangannya. Hal itu dilakukan demi kelangsungan usaha petani koi.

Dari situ, hatinya tergerak untuk memulai eksperimen. Diawali dengan percobaan di kolam koinya, baik itu kolam tanah, kolam filter, hingga akuarium karantina.

Dari pengalamannya selama ini, dia memahami betul betapa besar biaya operasional yang harus ditanggung petani koi, terutama untuk listrik. Pompa air dan aerator harus menyala 24 jam demi menjaga kualitas air dan oksigen bagi ikan.

“Banyak teman-teman petani koi yang mengeluh. Biaya listriknya berat. Bahkan, ada yang akhirnya memilih berhenti dan beralih usaha lain,” tutur Alfin. Padahal, koi bukan sekadar komoditas. Di Blitar, ikan ini sudah menjadi ikon daerah.

Masalah tak berhenti di situ. Pompa listrik yang digunakan di kolam dan akuarium juga menyimpan risiko. Beberapa kali Alfin menyaksikan sendiri ikan mati massal akibat konsleting listrik. Kerugian pun tak terelakkan.

Dari situlah keresahan itu berubah menjadi pertanyaan: adakah cara yang lebih hemat, aman, dan ramah bagi ikan?

Pertanyaan itu mendorongnya untuk segera melakukan serangkaian percobaan. Berkali-kali gagal, semangat Alfin tak surut. Hingga percobaan ketujuh, lahirlah inovasi yang kini ia beri nama Pompa Air Salim Aerasi. Sebuah pompa air yang bekerja bukan dengan motor listrik, melainkan memanfaatkan tekanan udara dari aerator.

Secara sederhana, prinsip kerjanya memadukan aliran udara dan air. Tekanan udara dari aerator mendorong sirkulasi air sekaligus memperkaya kandungan oksigen di dalamnya.

Hasilnya, air mengalir, oksigen tercukupi, tanpa risiko konsleting listrik di kolam atau akuarium.

Keunggulannya terasa nyata di angka. Jika sebelumnya petani dengan enam akuarium karantina harus mengoperasikan pompa air 60 watt dan aerator 30 watt per unit—dengan total konsumsi listrik mencapai 9,36 kVA per hari—maka dengan Salim Aerasi, cukup satu aerator LP100 berdaya 100 watt. Konsumsi listrik turun drastis menjadi sekitar 2,4 kVA per hari. Efisiensinya mencapai sekitar 80 persen.

Material pembuatannya pun sederhana. Pipa PVC, lem kering, bor, dan aerator, semuanya mudah ditemukan di pertokoan. Tak ada teknologi rumit, hanya ketekunan dan pemahaman lapangan.

Inovasi ini bahkan mulai diperkenalkan ke komunitas koi di Blitar serta dipraktikkan sebagai media pembelajaran fisika di sekolah. “Selama ini fisika cuma teori di kelas. Lewat alat ini, anak-anak bisa melihat langsung penerapannya,” katanya, lantas tersenyum.

Kini, setelah inovasinya dikenal luas dan memenangi lomba, Alfin bersiap melangkah lebih jauh. Pompa Air Salim Aerasi siap diproduksi massal, terutama untuk petani koi yang menjadi sasaran utama.

Dia berharap pemerintah daerah turut hadir, bukan hanya memberi apresiasi, melainkan juga dukungan nyata agar inovasi warga bisa berkembang dan memberi manfaat lebih luas.(*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#lomba #kolam ikan #ikan koi #Petani Koi Blitar #inovasi teknologi #sukses #oksigen #inovasi #Pemkot Blitar