Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Meneladani Takwa Nabi Ibrahim AS lewat Berkurban

Noormalady Usman • Rabu, 27 Mei 2026 | 20:00 WIB
DOK PRIBADI

KH Harun Syafi
DOK PRIBADI KH Harun Syafi'i Ketua MUI Kabupaten Blitar Pengasuh PP Sirojuth Tholibin Sutojayan

BLITAR KAWENTAR - Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus mengajak segenap umat Islam untuk senantiasa menempatkan cinta kepada Allah SWT di atas segalanya. Salah satunya diwujudkan dengan keikhlasan menjalankan perintah-Nya, menyembelih sifat egois dan cinta harta duniawi, serta menjadikan ibadah sebagai wujud syukur murni, bukan sekadar rutinitas belaka.

Realisasi dari keikhlasan dan ketakwaan tersebut adalah Kepatuhan Tanpa Syarat dalam menjalankan semua perintah Allah SWT dengan penuh keyakinan.

Seperti dicontohkan oleh keteguhan Nabi Ibrahim AS yang bersedia mengorbankan putranya demi memenuhi kesempuarnaan wahyu. Kepatuhan tanpa syarat dan mutlak inilah salah satu ciri sempurnanya rasa takwa manusia kepada Sang Kholik. 

Baca Juga: Pemkot Blitar Terjunkan 60 Petugas Pemeriksa Hewan Kurban, Sisir 346 Titik Penyembelihan

Sesuai dengan arti kata ikhlas, yakni bersih, jernih, murni dari campuran. Artinya, saat melakukan perbuatan atau perintah Allah SWT, seorang hamba yang ikhlas tidak mengharapkan imbalan atau balasan apa pun. Tanpa keinginan untuk mendapatkan pujian atau pengakuan dari manusia yang lain.

Selanjutnya, Menghilangkan atau Menyembelih Ego dan Sifat Tercela: Esensi kurban sebagaimana contoh kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail AS adalah mengorbankan ego, kesombongan, dan kecintaan berlebihan terhadap hal-hal bersifat duniawi. Artinya, tak hanya sekedar berkurban harta dalam bentuk hewan kurban sesuai dengan syariat yang telah diatur, tetapi juga keikhlasan untuk melepaskan hal-hal lain sehingga mendapatkan berkah dari Allah SWT dengan menanggalkan sifat-sifat egoisme, sombong, dan takabur dari dalam hati hamba-Nya yang benar-benar berkurban secara Ikhlas.

Baca Juga: Pemuda Blitar Meninggal Dunia Terkena Ledakan Mercon saat Terbangkan Balon, Begini Kronolognya

Keikhlasan Berbagi: Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya (QS. Al-Hajj: 37), bahwa bukan daging atau darah hewan yang sampai kepada Allah SWT, melainkan keikhlasan dan ketakwaan hati. Kurban hanya sebagai bagian dari perbuatan formalitas, sebagai motivasi bagi manusia untuk melakukan proses pengorbanan. Namun, ternyata hakikatnya adalah Ikhlas dan penambahan rasa takwa dalam hati yang sebenarnya benar-benar menjadi intisari dari segala prosesi yang dilakukan saat berkurban.

Wujud Syukur: Berkurban juga menjadi sarana mensyukuri nikmat dan rezeki yang telah Allah SWT titipkan kepada setiap hambanya. Bentuk syukur tersebut diwujudkan dalam memberikan berbagai kelebihan dari hartanya untuk dihibahkan di jalan Allah SWT.   

Baca Juga: Toyota Kijang Super 2026 Resmi Bangkit, MPV Legendaris Kini Hybrid dan Super Irit, Harga Mulai Rp240 Jutaan?

Empati Sosial: Ibadah ini memupuk rasa peduli dan kasih sayang kepada sesama melalui distribusi daging kurban. Kisah keteladanan ini menjadi refleksi spiritual yang mendalam agar pengorbanan yang dilakukan murni karena mencari rida dari Allah SWT. Ujian berkurban ini tak hanya ujian kehilangan harta (untuk membeli hewan kurban, Red), tetapi juga bagaimana sikap sosial dan rasa peduli kepada orang lain, dengan tetap tidak menunjukkan sikap sombong dan pamer saat berbagi. Sehingga arti berkurban sebagai bentuk ibadah yang benar-benar hanya untuk Allah SWT akan benar-benar menjadi manfaat kepada pihak yang berkurban.

Semoga Allah AWT selalu membuka hati para hamba-Nya yang selalu membuka diri, sehingga akan menambah tingkat ketakwaan kepada Tuhan pemilik semesta Yang Maha Kaya dan Maha Menguasai segala yang ada di bumi dan langit. (*/c1/ady)

Editor : M. Subchan Abdullah
#KH Harun Syafi'i #majelis ulama indonesia #mui kabupaten blitar #kurban