BLITAR KAWENTAR – Perjalanan Soekarno menuju kemerdekaan Indonesia merupakan salah satu kisah paling penting dalam sejarah bangsa. Sosok yang dikenal sebagai Proklamator Kemerdekaan ini tidak hanya dipuji karena berhasil membawa Indonesia merdeka, tetapi juga menuai berbagai kontroversi, terutama terkait kerja samanya dengan Jepang pada masa pendudukan.
Di satu sisi, Soekarno dikenang sebagai pemimpin yang membangkitkan semangat nasionalisme dan memimpin pembacaan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun di sisi lain, ia juga kerap dituduh sebagai kolaborator Jepang dan dianggap turut bertanggung jawab atas mobilisasi romusha yang menelan banyak korban jiwa.
Perjalanan panjang Bung Karno menuju kemerdekaan tidak berlangsung mudah. Sejak muda, ia telah terlibat dalam berbagai organisasi pergerakan hingga berkali-kali berhadapan dengan pemerintah kolonial Belanda.
Masa Kecil dan Pendidikan Soekarno
Soekarno lahir pada 6 Juni 1902 di Peneleh, Surabaya, dengan nama Kusno Sosrodihardjo. Ia merupakan putra Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai.
Berasal dari keluarga priyayi membuat Soekarno memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, mulai dari Hollandsch-Inlandsche School (HIS), Europeesche Lagere School (ELS), hingga Hogere Burger School (HBS) di Surabaya.
Saat tinggal di rumah pemimpin Sarekat Islam, H.O.S. Tjokroaminoto, Soekarno mulai mengenal pemikiran nasionalisme, sosialisme, hingga marxisme. Lingkungan tersebut membentuk karakter politiknya sekaligus mengasah kemampuan berpidato yang kemudian menjadi ciri khasnya.
Awal Perjuangan Melawan Kolonialisme
Setelah melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool te Bandoeng, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB), Soekarno semakin aktif dalam dunia pergerakan.
Pengalamannya bertemu seorang petani bernama Marhaen melahirkan gagasan Marhaenisme, sebuah konsep perjuangan yang menitikberatkan pada pembelaan terhadap rakyat kecil tanpa mengadopsi komunisme secara utuh.
Pada 1927, Soekarno bersama sejumlah tokoh mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Organisasi ini mengusung perjuangan politik nonkooperatif terhadap pemerintah Hindia Belanda dan berhasil menarik perhatian masyarakat luas.
Dipenjara karena Indonesia Menggugat
Popularitas Soekarno membuat pemerintah kolonial semakin khawatir. Pada Desember 1929, ia ditangkap bersama sejumlah aktivis PNI.
Dalam persidangan, Soekarno menyampaikan pidato pembelaan berjudul Indonesia Menggugat yang mengkritik keras sistem kolonial Belanda.
Pidato tersebut menjadi salah satu dokumen politik paling berpengaruh pada masa pergerakan nasional dan semakin mengukuhkan Soekarno sebagai simbol perjuangan kemerdekaan.
Meski dipenjara hingga akhirnya diasingkan ke Ende dan Bengkulu, semangat perjuangannya tidak pernah surut.
Kerja Sama dengan Jepang Jadi Kontroversi
Saat Jepang menduduki Indonesia pada 1942, Soekarno mengambil langkah berbeda dibanding sebagian tokoh pergerakan lainnya.
Ia memilih bekerja sama dengan pemerintah militer Jepang bersama Mohammad Hatta, Ki Hajar Dewantara, dan KH Mas Mansur melalui organisasi Putera.
Keputusan tersebut memicu kritik dari kalangan pemuda seperti Sutan Sjahrir yang menolak segala bentuk kerja sama dengan Jepang.
Namun menurut Soekarno, langkah tersebut merupakan strategi untuk menghindari jatuhnya korban lebih besar sekaligus membuka jalan menuju kemerdekaan Indonesia.
Salah satu keputusan paling kontroversial adalah keterlibatannya dalam kampanye romusha atau kerja paksa yang dijalankan Jepang. Dalam berbagai kesempatan, Soekarno mengakui keputusan itu merupakan pilihan yang sangat berat karena berada di bawah tekanan pemerintahan militer Jepang.
Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia
Meski bekerja sama dengan Jepang, Soekarno memanfaatkan peluang tersebut untuk mempersiapkan fondasi negara.
Pada 1 Juni 1945, dalam sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), Soekarno menyampaikan gagasan dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Ia juga memimpin Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang bertugas menyusun berbagai perangkat kenegaraan menjelang kemerdekaan.
Proklamasi 17 Agustus 1945
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda mengenai waktu pelaksanaan proklamasi.
Peristiwa Rengasdengklok menjadi titik penting ketika Soekarno dan Mohammad Hatta didesak segera memproklamasikan kemerdekaan tanpa menunggu persetujuan Jepang.
Akhirnya, pada pagi hari 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta, Soekarno didampingi Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi yang menandai lahirnya Negara Republik Indonesia.
Warisan dan Kontroversi Soekarno
Keberhasilan Soekarno membawa Indonesia menuju kemerdekaan membuat namanya dikenang sebagai Bapak Proklamator.
Meski demikian, perjalanan politiknya juga diwarnai berbagai kontroversi, mulai dari kebijakan pada masa pendudukan Jepang hingga gaya kepemimpinannya setelah Indonesia merdeka.
Terlepas dari berbagai perdebatan tersebut, peran Soekarno dalam membangkitkan nasionalisme dan memimpin perjuangan menuju kemerdekaan tetap menjadi bagian penting dalam sejarah Indonesia.
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest