BLITAR KAWENTAR – Mengapa Soekarno lengser dari kursi Presiden Republik Indonesia masih menjadi salah satu peristiwa paling banyak diperbincangkan dalam sejarah Indonesia. Berbagai kajian sejarah menunjukkan bahwa kejatuhan Soekarno tidak hanya dipicu oleh tragedi G30S 1965, tetapi juga dipengaruhi krisis ekonomi, konflik politik, hingga perubahan konstelasi Perang Dingin.
Dalam transkrip video yang membahas sisi akhir kepemimpinan Bung Karno, disebutkan bahwa kondisi Indonesia menjelang 1966 berada dalam situasi yang sangat tidak stabil. Demonstrasi mahasiswa dan masyarakat berlangsung hampir setiap hari dengan tuntutan utama agar Soekarno bertanggung jawab atas kondisi negara serta membubarkan PKI.
Krisis tersebut kemudian menjadi titik balik yang mengubah arah perjalanan bangsa sekaligus mengakhiri masa Demokrasi Terpimpin dan membuka jalan lahirnya pemerintahan Orde Baru di bawah Soeharto.
Krisis Politik dan Persaingan Blok Dunia
Situasi politik Indonesia pada era 1960-an tidak bisa dilepaskan dari ketegangan Perang Dingin antara Amerika Serikat dan Uni Soviet. Sebagai negara yang mengusung politik luar negeri bebas aktif, Indonesia semula berada di posisi nonblok.
Namun hubungan pemerintah Soekarno dengan negara-negara Barat memburuk setelah Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1965 dan semakin dekat dengan Republik Rakyat Tiongkok serta Partai Komunis Indonesia (PKI).
Dalam narasi video disebutkan bahwa kebijakan tersebut membuat hubungan Jakarta dengan Washington semakin renggang, sementara pengaruh PKI di dalam negeri terus meningkat.
Ekonomi Memburuk dan Inflasi Melonjak
Selain persoalan politik, kondisi ekonomi Indonesia saat itu juga mengalami tekanan berat.
Pemerintah disebut menjalankan berbagai proyek besar sekaligus membiayai operasi militer, termasuk perebutan Irian Barat dan konfrontasi dengan Malaysia.
Akibatnya, pengeluaran negara jauh melampaui pemasukan. Cadangan devisa terus menyusut, sementara nilai tukar rupiah mengalami penurunan tajam.
Inflasi bahkan disebut mencapai lebih dari 600 persen pada 1966 sehingga harga kebutuhan pokok melonjak drastis dan kehidupan masyarakat semakin sulit.
Kondisi tersebut memicu gelombang ketidakpuasan masyarakat terhadap pemerintahan Soekarno.
G30S Menjadi Titik Balik
Ketegangan politik memuncak setelah terjadinya peristiwa Gerakan 30 September (G30S) pada 1965 yang menewaskan enam jenderal TNI Angkatan Darat.
Peristiwa itu kemudian diikuti operasi militer yang dipimpin Mayor Jenderal Soeharto untuk mengambil alih situasi keamanan.
Dalam video dijelaskan bahwa muncul tuntutan luas dari mahasiswa, organisasi masyarakat, dan berbagai kelompok agar PKI dibubarkan serta pemerintah segera mengambil tindakan tegas.
Namun Soekarno dinilai tidak segera memenuhi tuntutan tersebut sehingga kepercayaan publik terhadap pemerintah semakin menurun.
Supersemar hingga Lengsernya Soekarno
Puncak perubahan terjadi ketika Soekarno menandatangani Surat Perintah 11 Maret 1966 atau Supersemar yang memberikan kewenangan kepada Letjen Soeharto untuk memulihkan keamanan dan ketertiban.
Tak lama setelah menerima surat tersebut, Soeharto membubarkan PKI dan menangkap sejumlah pejabat yang dianggap loyal kepada Soekarno.
Melalui Sidang Istimewa MPRS pada 1967, pidato pertanggungjawaban Soekarno yang dikenal sebagai Nawaksara ditolak.
Akhirnya MPRS mencabut kekuasaan Soekarno sebagai Presiden Republik Indonesia dan mengangkat Soeharto sebagai pejabat presiden.
Peristiwa ini masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan. Sebagian menilai sebagai proses konstitusional, sementara pihak lain menyebutnya sebagai kudeta merangkak.
Warisan yang Tetap Diperdebatkan
Video tersebut menyimpulkan bahwa Soekarno memiliki peran besar dalam perjuangan kemerdekaan dan diplomasi internasional Indonesia.
Namun pada masa Demokrasi Terpimpin, berbagai kebijakan politik dan ekonomi dinilai memperburuk stabilitas nasional hingga memunculkan krisis yang berujung pada lengsernya sang presiden pertama.
Meski demikian, berbagai pandangan mengenai akhir pemerintahan Soekarno masih terus diperdebatkan oleh para sejarawan karena melibatkan banyak faktor politik, ekonomi, militer, dan dinamika internasional.
Editor : Fadhilah Salsa Bella