BLITAR KAWENTAR – Soekarno merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia. Sosok proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia ini dikenal sebagai pemimpin yang berhasil mengantarkan bangsa menuju kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun di balik jasa besarnya, perjalanan Soekarno juga dipenuhi kontroversi, termasuk tudingan sebagai kolaborator Jepang selama masa pendudukan.
Perjalanan hidup Soekarno menunjukkan bagaimana seorang pemuda yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan Belanda berubah menjadi tokoh pergerakan nasional yang gigih melawan kolonialisme. Di sisi lain, keputusannya bekerja sama dengan Jepang hingga mendukung program romusha masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.
Baca Juga: Rekomendasi iPhone Turun Harga 2026, iPhone 14 dan iPhone 15 Masih Worth It Dibeli, Ini Alasannya
Awal Perjalanan Soekarno Menjadi Tokoh Pergerakan
Soekarno lahir dengan nama Kusno Sosrodihardjo pada 6 Juni 1902. Berasal dari keluarga priyayi, ia memperoleh kesempatan mengenyam pendidikan di sekolah Belanda, sesuatu yang langka bagi pribumi pada masa itu.
Saat tinggal di rumah tokoh Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto, di Surabaya, wawasan politik Soekarno berkembang pesat. Ia banyak berdiskusi dengan para tokoh pergerakan nasional, membaca berbagai pemikiran tentang nasionalisme, sosialisme, hingga imperialisme.
Pengalaman tersebut membentuk karakter Soekarno sebagai orator muda yang lantang mengkritik penjajahan Belanda. Ketika melanjutkan pendidikan di Technische Hoogeschool Bandung, yang kini menjadi Institut Teknologi Bandung (ITB), semangat perjuangannya semakin menguat.
Lahirnya Marhaenisme dan PNI
Di Bandung, Soekarno mengembangkan gagasan Marhaenisme setelah bertemu seorang petani bernama Marhaen. Dari pengalaman itu, ia merumuskan konsep perjuangan yang berpihak kepada rakyat kecil tanpa harus mengikuti komunisme secara utuh.
Pada 4 Juli 1927, Soekarno bersama sejumlah tokoh mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI). Organisasi ini bertujuan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui pergerakan politik dan membangkitkan kesadaran nasional.
Popularitas Soekarno yang terus meningkat membuat pemerintah kolonial Belanda menganggapnya sebagai ancaman. Pada akhir 1929, ia ditangkap dan dipenjara di Bandung.
Dalam persidangan, Soekarno menyampaikan pidato pembelaan berjudul Indonesia Menggugat. Pidato tersebut menjadi simbol perlawanan terhadap kolonialisme sekaligus mengangkat namanya sebagai pemimpin nasional.
Pengasingan hingga Pendudukan Jepang
Setelah bebas dari penjara, Soekarno kembali aktif berpolitik. Namun pemerintah kolonial kembali menangkap dan mengasingkannya ke Ende, Flores, kemudian dipindahkan ke Bengkulu.
Di Bengkulu, Soekarno aktif mengajar di sekolah Muhammadiyah dan bertemu Fatmawati yang kelak menjadi istrinya.
Situasi berubah drastis ketika Jepang mengalahkan Belanda dan menduduki Indonesia pada 1942. Jepang melihat Soekarno sebagai tokoh yang mampu memengaruhi rakyat sehingga mengajaknya bekerja sama dalam berbagai organisasi bentukan pemerintah militer.
Kontroversi Romusha
Salah satu keputusan paling kontroversial dalam perjalanan Soekarno adalah keterlibatannya dalam propaganda romusha atau kerja paksa.
Program tersebut mengirim ratusan ribu rakyat Indonesia untuk bekerja demi kepentingan perang Jepang. Banyak di antara mereka meninggal dunia akibat kelaparan, penyakit, dan perlakuan yang tidak manusiawi.
Meski demikian, Soekarno kemudian mengakui bahwa keputusan itu diambil dalam situasi yang sangat sulit. Menurut pandangannya saat itu, bekerja sama dengan Jepang dianggap sebagai jalan untuk menghindari korban yang lebih besar sekaligus menjaga peluang menuju kemerdekaan Indonesia.
Mempersiapkan Kemerdekaan Indonesia
Di balik kerja samanya dengan Jepang, Soekarno juga memanfaatkan momentum tersebut untuk mempersiapkan fondasi negara.
Ia terlibat dalam pembentukan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan kemudian Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).
Dalam sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Soekarno menyampaikan gagasan mengenai dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila.
Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada Agustus 1945, golongan muda mendesak agar kemerdekaan segera diproklamasikan tanpa campur tangan Jepang. Peristiwa Rengasdengklok menjadi titik penting yang akhirnya mempercepat lahirnya Proklamasi Kemerdekaan.
Pada pagi 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56 Jakarta, Soekarno bersama Mohammad Hatta membacakan teks Proklamasi yang menandai lahirnya Republik Indonesia.
Warisan Sejarah yang Terus Diperdebatkan
Peran Soekarno dalam sejarah Indonesia tetap menjadi bahan diskusi hingga kini. Di satu sisi, ia dikenang sebagai proklamator yang berhasil membawa Indonesia merdeka. Di sisi lain, berbagai keputusan politiknya, termasuk kerja sama dengan Jepang dan kebijakan pada masa pemerintahannya, masih memunculkan beragam penilaian.
Meski demikian, kontribusi Soekarno dalam membangun semangat nasionalisme dan meletakkan fondasi berdirinya Republik Indonesia menjadikannya salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perjalanan bangsa.
Baca Juga: iPhone 13 vs iPhone 15 Pro, Adu Kamera di 2026: Mana yang Lebih Layak untuk Foto dan Video?
Editor : Fadhilah Salsa BellaSumber : pinterest