BLITAR KAWENTAR - Komunitas Sinar Cerita adakan konseling psikologi gratis bagi masyarakat umum dan keluarga migran di Kabupaten Trenggalek, Blitar, dan Tulungagung. Dalam pelaksanaannya, Komunitas Sinar Cerita memiliki dua program utama, yakni "Ngobrol Yuk" dan "Jembatan Kasih".
Rangkaian kegiatan sinar cerita dimulai melalui program "Ngobrol Yuk" yang akan diadakan di area Car Free Day (CFD) Trenggalek pada tanggal 14 Juni 2026. Selanjutnya, program serupa berlanjut ke Kabupaten Blitar pada tanggal 21 Juni 2026, dan ditutup di Kabupaten Tulungagung pada tanggal 28 Juni 2026.
Sementara itu, untuk program "Jembatan Kasih" akan difokuskan secara khusus di salah satu wilayah dari 6 desa migran produktif di Tulungagung yaitu Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan. Guna memberikan ruang yang nyaman bagi warga migran dan calon imigran yang ada disana.
Kehadiran program ini pun mendapat apresiasi tinggi dari Pemerintah Desa Sumberagung. Kepala Desa Sumberagung menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Komunitas Sinar Cerita yang turut memberikan pengarahan dan sosialisasi ini.
"Kami sangat terbantu dengan adanya sosialisasi bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) dan keluarga yang ditinggalkan di desa kami. Faktanya, fenomena warga yang terlalu lama bekerja di luar negeri seringkali memicu peningkatan angka perceraian karena faktor ekonomi dan jarak," ujar Kepala Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung.
Selain masalah keharmonisan rumah tangga, pihak pemerintah desa juga menyoroti dampak psikologis serius yang kerap menimpa anak-anak PMI (Pekerja Migran Indonesia). Menurut laporan yang diterima dari masyarakat desa tersebut, anak-anak yang ditinggal rentan mengalami kurang perhatian karena hanya dititipkan kepada nenek atau kerabatnya. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu kenakalan remaja.
Program edukasi ini mendapat respons positif dari Pemerintah Desa Sumberagung. Kepala Desa Sumberagung, Junaidi, S.Pd., M.Pd., menilai tema "Kuat di Rumah, Bangga di Hati" yang diusung mahasiswa sangat selaras dengan kondisi masyarakatnya. Menurutnya, tema tersebut adalah langkah luar biasa untuk membangun ketangguhan mental keluarga, terutama di wilayah yang sebagian warganya merantau.
"Dari pihak desa, kami juga selalu mengarahkan warga yang ingin bekerja ke luar negeri agar tetap aman dengan mendaftar melalui PT yang resmi," tegas Junaidi mengaitkan pentingnya rasa aman dengan kesehatan psikologis warga.
Manfaat dari edukasi kesehatan mental ini dirasakan langsung oleh salah satu istri pekerja migran di desa setempat. Materi yang disampaikan dinilai sangat menyentuh kebutuhan emosionalnya yang selama ini terpendam.
"Terima kasih kepada Sinar Cerita," ungkap perempuan ramah tersebut dengan senyum mengembang.
Baca Juga: Persija Jakarta Berburu Kiper Baru, Kevin Mendoza hingga Eks Persib Masuk Daftar Transfer
Baginya, kegiatan ini membuka sudut pandang baru tentang bagaimana mengelola emosi dan menjaga kewarasan mental di tengah hubungan jarak jauh (LDR) dengan sang suami.
Kegiatan ini juga turut dihadiri langsung oleh Dosen Pembimbing Mata Kuliah Manajemen Humas program studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Ibu Ajeng Fajarwati Sumarna M.A, beliau menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu tugas dari mata kuliah tersebut yang dibuat agar mahasiswa dapat terjun langsung ke masyarakat dan membuat kegiatan berdampak.
"Program ini adalah bentuk inovasi mahasiswa yang memberikan karya berdaya dan berdampak pada masyarakat, terutama pekerja migran di Desa Sumberagung. Hal ini merupakan kolaborasi antara bidang komunikasi dengan psikologi, bagaimana komunikasi yang baik antara pekerja migran kepada anak, pasangan, atau keluarga di rumah dijaga dan dirawat untuk menjauhkan dari konflik. Saya berharap program ini bisa ditiru oleh adik tingkat atau program studi keseluruhan agar memunculkan program-program yang lebih berdampak," ujar dosen Komunikasi tersebut.
Baca Juga: Kali Kebo Gandusari Blitar Jadi Tujuan Gowes Komunitas Sepeda, Sajikan Rute Pedesaan yang Asri
Manfaat dari program "Jembatan Kasih" ini pun dirasakan langsung oleh lembaga pelatihan tempat acara berlangsung. Salah satu pengurus LPK (Lembaga Pelatihan Kerja) Satoyama, Desa Sumberagung menuturkan bahwa kegiatan ini memberikan dampak positif bagi anak didiknya.
"Kesan dari kami, acara dari Sinar Cerita sangat bagus dan bermanfaat, terutama untuk anak-anak didik di LPK Satoyama. Melalui kegiatan ini, mereka bisa diberi gambaran tentang aspek psikologis, termasuk bagaimana cara mengatasi tekanan antara pekerjaan dan keluarga saat berada di Jepang nanti. Untuk ke depan, kami berharap program seperti ini bisa diadakan rutin beberapa bulan sekali agar para calon pekerja bisa lebih mengerti dan konsen terhadap pentingnya mental health," ujar pengurus LPK Satoyama.
Harapan agar program ini terus bergulir disuarakan oleh Riski, salah seorang peserta yang tengah menimba ilmu di LPK Satoyama Desa Sumberagung. Setelah mendapatkan suntikan motivasi dan materi psikologi, ia berharap ruang edukasi seperti ini tidak berhenti menjadi agenda sekali jalan.
"Saya sangat senang bisa mengikuti pembelajaran tadi. Harapannya, ke depan program-program bermanfaat semacam ini bisa diadakan lagi di sini," pungkasnya.
Merespons antusiasme dari para siswa dan warga, Ibu Muthia Maharani, M. SI, selaku dosen psikologi sekaligus pemateri dalam kegiatan ini turut membagikan kesan mendalamnya selama mendampingi jalannya sosialisasi.
"Pesan dan kesan saya selama acara ini berlangsung sangat bagus. Kegiatan ini membuktikan bahwa masyarakat secara luas, termasuk komunitas pekerja migran, sudah mulai memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya kesehatan mental. Selain itu, ide dan kemasan program yang dibawa oleh adik-adik mahasiswa ini juga sangat menarik sehingga materi psikologi yang biasanya terasa berat bisa tersampaikan dengan ringan dan mudah dipahami," ujar dosen psikologi tersebut.
Pada akhirnya, Komunitas Sinar Cerita berusaha untuk membuktikan bahwa ruang kelas mahasiswa tidak hanya terbatas di dalam kampus, melainkan meluas hingga ke bilik-bilik desa. Lewat sinergi antara ilmu komunikasi dan psikologi, stigma tabu mengenai kesehatan mental perlahan terkikis.
Langkah kecil di Desa Sumberagung ini menjadi pijakan awal yang manis, memastikan keluarga pekerja migran tetap 'Kuat di Rumah' agar kelak sang pahlawan devisa bisa benar-benar 'Bangga di Hati'.(*)
Editor : M. Subchan Abdullah