BLITAR - Universitas Terbuka (UT) menjadi pilihan bagi banyak masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan pekerjaan. Dengan sistem pembelajaran jarak jauh yang fleksibel, UT memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk tetap kuliah sambil bekerja dan menjalani aktivitas lainnya.
Hal tersebut dibahas dalam perbincangan bersama Rektor Universitas Terbuka Prof. Ali dan mahasiswa UT Vika. Keduanya mengungkap bagaimana konsep pendidikan jarak jauh di UT mampu menjawab kebutuhan generasi saat ini, terutama pekerja yang membutuhkan waktu belajar lebih fleksibel.
Universitas Terbuka menawarkan sistem kuliah yang memungkinkan mahasiswa mengatur waktu belajar secara mandiri. Tidak harus datang ke kampus setiap hari, mahasiswa dapat mengakses bahan ajar, berdiskusi dengan dosen, hingga mengerjakan tugas melalui layanan digital yang tersedia.
Baca Juga: BINUS Online Buka Peluang Kuliah Fleksibel, Nasya Marcella Pilih Belajar Sambil Tetap Berkarier
Universitas Terbuka merupakan perguruan tinggi negeri
Prof. Ali menjelaskan, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa Universitas Terbuka merupakan perguruan tinggi negeri (PTN). UT didirikan pemerintah pada 1984 sebagai perguruan tinggi negeri ke-45 di Indonesia.
Kehadiran UT berawal dari kebutuhan untuk memberikan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat yang belum mendapatkan kesempatan kuliah di perguruan tinggi negeri. Konsep pendidikan jarak jauh kemudian menjadi ciri khas UT sejak awal berdiri.
Menurut Prof. Ali, pendidikan jarak jauh bukan hanya sekadar pembelajaran online. Sistem tersebut memiliki karakter berupa keterpisahan antara sumber belajar dengan mahasiswa yang dijembatani oleh teknologi, bahan ajar, serta dukungan dosen dan tutor.
“Teknologi membantu mendekatkan sumber belajar dengan mahasiswa,” jelas Prof. Ali.
Saat ini, layanan pembelajaran UT semakin berkembang. Jika dahulu mahasiswa mengandalkan bahan ajar cetak yang dikirim melalui layanan pos, kini mahasiswa juga mendapatkan akses bahan digital setelah melakukan registrasi.
Kuliah sambil kerja menjadi alasan mahasiswa memilih UT
Vika, mahasiswa Universitas Terbuka jurusan Akuntansi, menjadi salah satu contoh mahasiswa yang memanfaatkan fleksibilitas sistem UT. Ia memilih kuliah di UT karena ingin meningkatkan pendidikan sambil tetap bekerja.
Setelah lulus SMK pada 2023, Vika langsung bekerja sebagai akuntan. Namun, ketika ingin meningkatkan jenjang karier, ia menemukan banyak peluang pekerjaan yang mensyaratkan pendidikan minimal S1.
Awalnya, Vika mempertimbangkan kuliah kelas karyawan. Namun, ia khawatir jadwal pekerjaan yang tidak menentu, termasuk lembur, membuat proses perkuliahan terganggu.
Akhirnya, ia memilih Universitas Terbuka karena sistemnya dapat menyesuaikan dengan kesibukan kerja.
“Di UT kita bisa belajar tengah malam atau pagi hari sesuai waktu yang kita punya,” ujar Vika.
Sistem belajar UT mengutamakan kemandirian mahasiswa
Prof. Ali menjelaskan, pembelajaran di Universitas Terbuka menggunakan konsep mandiri, terstruktur, dan terbimbing. Mahasiswa diberikan bahan ajar yang dirancang agar dapat dipahami secara mandiri.
Setiap modul UT dibuat dengan konsep self contained dan self instruction. Artinya, materi pembelajaran sudah disusun lengkap sehingga mahasiswa tidak harus mencari sumber lain untuk memahami topik yang dipelajari.
Selain modul cetak, mahasiswa juga mendapatkan fasilitas pembelajaran digital melalui Learning Management System (LMS). Dalam layanan tersebut, mahasiswa dapat mengikuti diskusi, mendapatkan tugas, serta berkomunikasi dengan tutor.
Menurut Prof. Ali, mahasiswa UT tetap mendapatkan pendampingan meskipun tidak belajar secara tatap muka setiap hari.
“Kalau mahasiswa membutuhkan diskusi, ada tutorial online dan dosen yang mendampingi,” katanya.
Baca Juga: BINUS Online Jadi Pilihan Nasya Marcella, Ungkap Alasan Tinggalkan Sinetron Demi Kuliah dan Bisnis
UT memiliki mahasiswa hingga berbagai negara
Universitas Terbuka saat ini memiliki lebih dari 700 ribu mahasiswa aktif yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia hingga luar negeri. Bahkan, mahasiswa UT tercatat berada di lebih dari 50 negara.
Dengan 39 kantor layanan daerah, UT berusaha memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses pendidikan, termasuk mereka yang berada jauh dari pusat kota.
Selain menawarkan fleksibilitas, UT juga menyediakan berbagai program beasiswa bagi mahasiswa berprestasi. Tahun ini, UT mengalokasikan ribuan beasiswa untuk membantu masyarakat mendapatkan pendidikan tinggi.
Bagi Vika, tantangan terbesar kuliah di UT bukan soal sistem pembelajaran, melainkan bagaimana mahasiswa mampu mengatur waktu dan menjaga kedisiplinan.
Ia menilai, mahasiswa UT tetap bisa berkembang karena memiliki ruang untuk mengikuti organisasi, lomba, hingga aktivitas lain di luar akademik.
“Yang penting punya target dan komitmen. Kuliah fleksibel bukan berarti tanpa tanggung jawab,” ujar Vika.
Melalui konsep pendidikan jarak jauh, Universitas Terbuka terus berupaya membuka akses pendidikan tinggi yang lebih luas. UT menjadi alternatif bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kompetensi tanpa harus meninggalkan pekerjaan maupun impian kariernya.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : Raditya Dika