BLITAR - Universitas Terbuka (UT) terus menjadi pilihan bagi masyarakat yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi dengan sistem yang fleksibel. Melalui konsep pembelajaran jarak jauh, UT memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk tetap kuliah sambil bekerja tanpa harus meninggalkan tanggung jawab profesional.
Universitas Terbuka menawarkan model pendidikan yang berbeda dari perguruan tinggi konvensional. Mahasiswa tidak diwajibkan hadir setiap hari di kampus, melainkan dapat mengatur waktu belajar sesuai kebutuhan melalui berbagai fasilitas pembelajaran digital maupun bahan ajar mandiri.
Sistem kuliah fleksibel Universitas Terbuka inilah yang membuat banyak pekerja memilih UT sebagai tempat melanjutkan pendidikan. Mereka tetap bisa mengejar jenjang akademik sekaligus mempertahankan aktivitas pekerjaan dan kehidupan sosial.
Baca Juga: Presiden Prabowo Pimpin Akad Massal 62 Ribu Debitur KPR FLPP, BRI Dukung Penuh Pembiayaan Perumahan
Universitas Terbuka hadir sebagai perguruan tinggi negeri
Rektor Universitas Terbuka Prof. Ali menjelaskan, masih banyak masyarakat yang belum memahami bahwa UT merupakan perguruan tinggi negeri (PTN). UT didirikan oleh pemerintah pada 1984 sebagai perguruan tinggi negeri ke-45 di Indonesia.
Kehadiran Universitas Terbuka berawal dari kebutuhan untuk memperluas akses pendidikan tinggi. Saat itu, jumlah lulusan sekolah menengah terus meningkat, sementara kapasitas perguruan tinggi negeri masih terbatas.
Melalui konsep pendidikan jarak jauh, pemerintah memberikan kesempatan kepada masyarakat dari berbagai daerah untuk tetap mendapatkan pendidikan tinggi berkualitas.
Prof. Ali menjelaskan bahwa pendidikan jarak jauh memiliki perbedaan dengan pembelajaran online biasa. Sistem ini mengutamakan keterpisahan antara sumber belajar dengan mahasiswa yang dijembatani oleh teknologi, bahan ajar, serta dukungan tenaga pengajar.
“Distance learning bukan hanya online learning, tetapi sebuah sistem pembelajaran yang dirancang agar mahasiswa tetap mendapatkan layanan pendidikan meski tidak selalu berada di kampus,” jelas Prof. Ali.
Sistem pembelajaran UT semakin modern
Seiring perkembangan teknologi, sistem pembelajaran Universitas Terbuka terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya mahasiswa banyak mengandalkan buku materi pokok yang dikirim melalui pos, kini UT menghadirkan layanan digital yang lebih mudah diakses.
Mahasiswa dapat memperoleh bahan ajar digital setelah melakukan registrasi. Selain itu, tersedia pula Learning Management System (LMS) yang menjadi tempat mahasiswa mengikuti tutorial online, berdiskusi, mendapatkan tugas, hingga berkomunikasi dengan tutor.
Menurut Prof. Ali, mahasiswa UT memiliki akses belajar selama 24 jam. Hal tersebut memberikan kebebasan bagi mahasiswa untuk menentukan waktu belajar sesuai kondisi masing-masing.
Bagi pekerja, sistem ini menjadi keuntungan besar karena mereka tidak harus meninggalkan pekerjaan hanya untuk mengikuti perkuliahan.
Pengalaman mahasiswa kuliah sambil bekerja
Vika, mahasiswa Universitas Terbuka jurusan Akuntansi, menjadi salah satu contoh mahasiswa yang merasakan manfaat sistem pembelajaran fleksibel UT.
Setelah lulus SMK pada 2023, Vika langsung bekerja sebagai akuntan. Namun, ia menyadari bahwa pendidikan S1 menjadi salah satu syarat penting untuk meningkatkan jenjang karier.
Awalnya, Vika mempertimbangkan kuliah kelas karyawan. Namun, jadwal pekerjaan yang terkadang tidak menentu membuatnya mencari pilihan lain.
Ia akhirnya memilih Universitas Terbuka karena sistem pembelajarannya dapat disesuaikan dengan aktivitas kerja.
Menurut Vika, mahasiswa UT memang harus memiliki kemampuan mengatur waktu. Setelah bekerja, ia biasanya meluangkan waktu malam hari untuk membaca modul, mengerjakan tugas, dan mengikuti diskusi.
“Fleksibel bukan berarti santai, tetap harus punya target dan disiplin,” ujar Vika.
Baca Juga: BINUS Online Jadi Solusi Kuliah Sambil Kerja, Nasya Marcella Ungkap Pengalaman Belajar Fleksibel
UT tetap menjaga kualitas pendidikan
Meski menggunakan sistem jarak jauh, Universitas Terbuka tetap menerapkan standar akademik bagi seluruh mahasiswa. Prof. Ali menegaskan bahwa fleksibilitas tidak membuat standar kelulusan menjadi lebih rendah.
Mahasiswa tetap harus mengikuti proses pembelajaran, menyelesaikan tugas, mengikuti tutorial, dan menjalani ujian untuk memastikan kompetensi mereka.
UT juga menerapkan sistem pembelajaran yang memungkinkan mahasiswa dengan berbagai latar belakang tetap bisa mengikuti perkuliahan. Setiap materi telah dirancang agar dapat dipahami secara mandiri.
Selain itu, mahasiswa yang membutuhkan pendampingan dapat memanfaatkan tutorial online maupun layanan di kantor UT daerah.
Ribuan mahasiswa UT tersebar hingga luar negeri
Saat ini Universitas Terbuka memiliki ratusan ribu mahasiswa aktif yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia hingga luar negeri. Dengan puluhan kantor layanan daerah, UT berupaya memberikan akses pendidikan kepada masyarakat luas.
Tidak hanya untuk pekerja, UT juga menjadi pilihan bagi masyarakat yang memiliki berbagai kesibukan, mulai dari pelaku usaha, pekerja kreatif, hingga mereka yang ingin meningkatkan kompetensi.
Melalui konsep pendidikan jarak jauh, Universitas Terbuka membuktikan bahwa kesempatan mendapatkan pendidikan tinggi dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat. Sistem fleksibel yang ditawarkan menjadi jawaban bagi mereka yang ingin berkembang tanpa harus meninggalkan pekerjaan dan aktivitas utama.
Editor : M. Helmi NurhisamSumber : Raditya Dika