LANJUT KULIAH: Anna Grace Theodosia Barnes berhasil menempuh pendidikan SMA dalam 20 bulan di sekolah Internasional secara daring.
BLITAR KAWENTAR - Jalan pendidikan Anna Grace Theodosia Barnes, 17, terbilang tak biasa. Gadis warga Desa Sumberdiren, Kecamatan Garum ini memilih menempuh pendidikan menengah melalui sistem International Schooling dengan kurikulum Amerika.
Hasilnya, bukan sekadar lulus, dia berhasil menuntaskan jenjang SMA yang semestinya tiga tahun hanya dalam waktu 20 bulan dan meraih peringkat kedua dari ratusan lulusan dari berbagai negara.
Perjalanan tersebut menjadi capaian tersendiri bagi Anna. Sebelumnya, dia merupakan lulusan SMP Negeri 3 Blitar dan pernah dipercaya menjadi brand ambassador Batik Puspo Bendo. Dari Blitar, Anna kemudian berani mengambil tantangan pendidikan dengan lingkungan belajar yang berbeda dari sekolah konvensional.
Baca Juga: Dopamine Space Jadi Tempat Nongkrong Kalcer di Kota Blitar, Buka dari Pagi hingga Dini Hari
Bukan perkara mudah beradaptasi dengan sistem tersebut. Kurikulum Amerika memberikan keleluasaan kepada siswa untuk memilih sejumlah mata pelajaran sesuai minat dan passion.
”Namun, saya harus menghadapi materi pelajaran yang lebih berat dibandingkan pembelajaran yang biasa saya temui di sekolah negeri di Indonesia,” ujar putri pasangan Raymond C Cronin dan Mesiyah Barnes ini.
Tantangan lain muncul dari penggunaan bahasa Inggris formal dalam proses pembelajaran. Meski sehari-hari sudah terbiasa menggunakan bahasa Inggris di rumah, dia mengaku sempat mengalami kesulitan ketika harus memahami buku, panduan, dan materi pembelajaran dengan gaya bahasa yang lebih formal.
Baca Juga: Hari Baik Agustus 2026 Menurut Primbon Jawa, Catat Tanggal Terbaik untuk Nikah hingga Buka Usaha
Belum lagi persoalan manajemen waktu. Sistem pembelajaran daring mempertemukannya dengan guru dari berbagai negara dengan perbedaan zona waktu.
”Kondisi ini sempat membuat pola tidur saya berantakan. Namun, keadaan tersebut justru memaksa saya belajar mengatur waktu secara mandiri,” terangnya.
Terlebih, Anna menjalani program akselerasi. Dia harus menyelesaikan pendidikan SMA selama 20 bulan. Untuk menjaga ritme belajar, Anna bahkan membuat tenggat waktu pribadi yang lebih cepat dibandingkan batas waktu yang diberikan sekolah. Cara itu dilakukan agar seluruh tugas dapat diselesaikan tepat waktu sekaligus mendorong dirinya bekerja lebih maju.
Di balik keberhasilan akademiknya, ada sisi lain yang juga menjadi bagian dari perjalanannya. Belajar secara daring dan one on one membuatnya tidak memiliki teman sebaya di kelas.
”Tentunya saya rindu dengan hal-hal sederhana yang dulu ditemui saat sekolah tatap muka. Mulai pergi ke kantin bersama, mengerjakan tugas bersama teman, hingga sekadar duduk bersebelahan dengan teman sekelas,” kenangnya.
Baca Juga: Weton Jumat Wage Disebut Mudah Memikat Lawan Jenis, Ini 3 Alasan Menurut Primbon Jawa
Meski demikian, lingkungan belajar internasional mempertemukannya dengan guru-guru dari berbagai latar belakang. Dia menganggap para guru bukan sekadar pengajar, tetapi juga teman yang memberikan rasa nyaman selama menjalani proses pendidikan. Dari lingkungan tersebut, dia juga belajar mengenal budaya dan perspektif yang berbeda.
Kini, berkat perjuangan panjang itu pintu cita-cita terbuka. Dia telah diterima di Victoria University of Wellington, Selandia Baru. Sesuai rencana, dia akan memulai pendidikan perguruan tinggi pada 2027 mendatang.
Bagi Anna, keberhasilan tersebut bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru pengalaman selama sekolah internasional membuatnya semakin mandiri dan lebih berani melihat berbagai peluang di masa depan. Dia ingin terus mengembangkan diri dan mencapai versi terbaik dari dirinya.
Baca Juga: Ramalan Weton Jumat Wage 2026: Rezeki Meningkat, Karier Terbuka, tapi Waspadai Tekanan Mental
Anna mengajak anak-anak muda tidak terlalu cepat membatasi kemampuan diri hanya karena merasa belum mampu. Menurutnya, setiap kesempatan layak dicoba. Sebab, keberanian mengambil peluang dapat membuka pengalaman, memperluas jaringan, sekaligus menemukan potensi diri yang sebelumnya mungkin belum pernah disadari.
”Kesempatan tidak datang dua kali. Karena itu, selama ada peluang untuk belajar, berkembang, dan mencoba sesuatu yang baru, tidak ada salahnya mengambil langkah pertama,” tandasnya.(sub/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah