BLITAR, BLITARKAWENTAR.JAWAPOS.COM - Angin pantai berembus pelan. Suara ombak dari kawasan Pantai Serang menjadi musik latar di antara percakapan dalam Bahasa Inggris.
Di Pelataran Dikasih Kopi, Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, Jumat (2/10/2026), belajar tidak terasa seperti belajar.
Tawa justru lebih sering terdengar. Warga duduk santai berhadapan dengan sejumlah warga negara asing.
Ada yang mencoba menyusun kalimat Bahasa Inggris, ada pula yang tertawa ketika salah mengucapkan sebuah kata.
Para relawan asing dengan ramah membalas percakapan sambil membantu peserta memperbaiki pengucapannya.
Pemandangan itu menjadi pengalaman berbeda bagi warga Desa Serang. Mereka tidak perlu masuk ruang kelas, membuka buku tebal atau duduk berjam-jam mendengarkan teori.
Cukup datang ke Pelataran Dikasih Kopi dan berani membuka percakapan.
Di tempat itulah belajar Bahasa Inggris sama bule menjadi kegiatan yang akrab, ringan, sekaligus menyenangkan.
Founder Dikasih Kopi, Dita Faisal, mengatakan konsep pembelajaran tersebut memang sengaja dibuat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, peserta akan lebih mudah belajar ketika mereka merasa nyaman dan tidak takut melakukan kesalahan.
“Kami ingin belajar Bahasa Inggris itu tidak membosankan. Jadi suasananya dibuat santai dan langsung praktik dengan orang asing,” kata ibu dua anak tersebut, Jumat (2/10/2026).
Pelataran Dikasih Kopi Jadi Ruang Kelas
Setiap Jumat, Pelataran Dikasih Kopi berubah menjadi ruang belajar terbuka. Lokasinya berada di Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, Kabupaten Blitar, tidak jauh dari kawasan wisata Pantai Serang.
Para pengajar bukan datang dari satu negara saja. Mereka merupakan relawan dari berbagai penjuru dunia, mulai Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Swiss, Spanyol, Peru hingga Afrika Selatan.
Kehadiran mereka membuat proses belajar menjadi pengalaman yang berbeda.
Warga bisa langsung berkomunikasi dengan penutur asing, mencoba kosakata baru dan melatih keberanian berbicara.
Dita menjelaskan, kegiatan tersebut diberikan secara gratis dan khusus diperuntukkan bagi warga desa.
Tujuannya agar kesempatan belajar Bahasa Inggris bisa dirasakan masyarakat tanpa harus memikirkan biaya kursus.
“Yang kami lakukan ini gratis untuk warga desa. Harapannya mereka punya ruang untuk belajar dan berani menggunakan Bahasa Inggris secara langsung,” ujar eks-pembawa berita di televisi nasional.
Pembelajaran pun tidak melulu berisi teori. Percakapan sederhana menjadi bagian utama.
Peserta diajak berani mencoba, sementara relawan membantu ketika ada kata atau pengucapan yang belum tepat.
Kesalahan tidak menjadi sesuatu yang perlu ditakuti. Justru dari situlah proses belajar berlangsung.
Belajar Bahasa, Bertukar Budaya
Namun, cerita di Pelataran Dikasih Kopi tidak berhenti pada Bahasa Inggris. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian program Eco Living yang dikembangkan tim Dikasih Kopi di Pantai Serang.
Para turis dan relawan yang datang juga mendapatkan kesempatan belajar Bahasa Indonesia.
Mereka diajak mengenal kehidupan masyarakat serta budaya lokal melalui berbagai aktivitas.
Mulai belajar memasak makanan khas Indonesia, membatik, merawat tanaman dan pohon, merawat mangrove hingga mengelola kompos dilakukan bersama.
“Jadi sebenarnya bukan hanya tentang Bahasa Inggris. Ada pertukaran budaya dan kegiatan lingkungan juga. Mereka belajar dari masyarakat, masyarakat juga belajar dari mereka,” tutur istri penulis skenario film Nasional, Endik Koeswoyo..
Dari sana, hubungan yang terbangun bukan sekadar antara guru dan murid. Warga Desa Serang belajar Bahasa Inggris dari para relawan.
Sebaliknya, para relawan belajar Bahasa Indonesia dan mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat setempat.
Pada Jumat (2/10/2026), Pelataran Dikasih Kopi kembali menjadi saksi pertemuan kecil lintas negara itu.
Bahasa menjadi jembatan. Pantai menjadi ruangnya. Dan tawa menjadi suasana yang membuat siapa pun merasa diterima.
Di tempat itu, belajar Bahasa Inggris tidak harus selalu berada di balik meja dan papan tulis.
Kadang, cukup duduk santai di pelataran kedai, mendengar suara ombak, lalu memberanikan diri berkata, “Hello.”
Dari satu kata sederhana itu, percakapan pun mengalir. Dan dari percakapan, warga Desa Serang menemukan cara baru untuk mengenal dunia.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.