JAKARTA - Analisis kebutuhan guru SMK menjadi salah satu tahapan penting dalam memetakan kekurangan dan ketersediaan tenaga pendidik di sekolah. Melalui tutorial di kanal YouTube A Project, dibahas cara mengisi data guru berdasarkan jumlah rombongan belajar, alokasi jam pelajaran, status ASN, serta kebutuhan guru produktif, Informatika, Coding dan Kecerdasan Artifisial (KA), hingga bimbingan konseling (BK). Ketelitian dalam mengisi setiap kolom menjadi perhatian utama agar hasil pendataan sesuai kondisi sekolah dan ketentuan yang berlaku.
Data Guru ASN Harus Sesuai Status Kepegawaian
Dalam tutorial tersebut, pemateri menjelaskan bahwa pengisian data guru harus mengacu pada kategori yang tersedia dalam format analisis kebutuhan guru. Kolom guru yang tersedia perlu diisi berdasarkan status kepegawaian sesuai petunjuk pendataan, terutama untuk guru berstatus PNS dan PPPK.
Guru honorer maupun tenaga bakti tidak boleh langsung dihitung sebagai ASN jika format tersebut secara khusus meminta jumlah guru ASN. Karena itu, sekolah perlu memeriksa status kepegawaian setiap guru sebelum memasukkan data.
Kesalahan pada bagian ini dapat memengaruhi hasil penghitungan kebutuhan tenaga pendidik. Jumlah guru yang tercatat lebih banyak atau lebih sedikit dari kondisi sebenarnya berpotensi menghasilkan pemetaan yang tidak akurat.
Selain jumlah guru, sekolah juga perlu memastikan total jam pelajaran setiap mata pelajaran telah dihitung berdasarkan struktur kurikulum dan jumlah rombongan belajar di masing-masing tingkat.
Perhitungan Jam Pelajaran Menentukan Kebutuhan Guru
Pemateri memberikan contoh sebuah SMK yang mempunyai 13 rombel pada kelas X, XI, dan XII. Jumlah tersebut menjadi dasar untuk menghitung kebutuhan jam pelajaran dan memperkirakan jumlah guru yang diperlukan.
Pada mata pelajaran PPKn, misalnya, alokasi dua JP per minggu dikalikan dengan enam rombel kelas X, empat rombel kelas XI, dan tiga rombel kelas XII. Hasilnya adalah 12 JP, delapan JP, dan enam JP, atau total 26 JP per minggu.
Jika guru yang tersedia belum memenuhi kebutuhan berdasarkan perhitungan dan ketentuan yang digunakan, sekolah dapat mencatat kekurangan pada kolom terkait.
Sementara itu, mata pelajaran Matematika dalam simulasi memiliki total 45 JP. Jumlah tersebut kemudian dibandingkan dengan ketersediaan guru dan beban mengajarnya. Apabila terdapat kelebihan guru, penempatan atau penugasan tambahan harus tetap memperhatikan kualifikasi dan aturan yang berlaku.
Baca Juga: Rumah BUMN Blitar Ajari UMKM Pakai AI, 1.498 Usaha Binaan Disiapkan Naik Kelas
Guru Produktif SMK Perlu Dihitung Berdasarkan Program Keahlian
Penghitungan guru produktif memiliki karakteristik tersendiri karena berkaitan dengan program keahlian yang diselenggarakan sekolah.
Dalam contoh program Desain dan Produksi Busana (DPB), pemateri menjelaskan bahwa perhitungan tidak hanya memperhatikan jam pembelajaran produktif utama. Jam mata pelajaran pilihan dan PKWU atau PKK, sesuai struktur kurikulum yang digunakan, juga dimasukkan dalam kelompok produktif terkait.
Sekolah harus memastikan setiap komponen jam pelajaran ditempatkan pada kolom yang benar. Langkah ini penting agar total kebutuhan guru produktif tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah akibat kesalahan pengelompokan.
Penghitungan juga harus dilakukan pada program keahlian lain sesuai jumlah rombel dan alokasi jam masing-masing. Dengan demikian, kebutuhan tenaga pendidik dapat dipetakan berdasarkan karakteristik pembelajaran setiap jurusan.
Pengisian Data Coding dan Informatika Tidak Boleh Keliru
Salah satu poin yang disorot dalam video adalah pengisian kebutuhan guru Coding dan Kecerdasan Artifisial. Pemateri mengingatkan bahwa pencatatan guru harus mengikuti SK dan formasi yang relevan.
Guru Matematika atau Informatika yang menguasai materi pemrograman tidak otomatis dapat dimasukkan sebagai guru Coding apabila status penugasannya tidak sesuai dengan kategori yang diminta dalam format.
Dalam simulasi, kebutuhan guru Coding dihitung berdasarkan alokasi 12 JP. Namun, pemateri juga menjelaskan bahwa ketersediaan formasi dan penugasan guru perlu diperhatikan sebelum data ditetapkan.
Hal serupa berlaku untuk Informatika. Pada contoh yang disampaikan, mata pelajaran tersebut memiliki total 24 JP. Penghitungan kebutuhan dan jumlah guru yang tersedia harus dilakukan secara terpisah dari Coding, sesuai penugasan masing-masing.
Sekolah perlu memeriksa petunjuk resmi terbaru agar pengisian data tidak hanya berdasarkan perkiraan atau kesamaan kompetensi.
Kebutuhan Guru BK Mengacu pada Jumlah Rombel
Guru BK juga menjadi bagian penting dalam analisis kebutuhan tenaga pendidik. Dalam simulasi video, pemateri menggunakan perbandingan satu guru BK untuk setiap lima rombel.
Dengan jumlah 13 rombel, kebutuhan dalam contoh tersebut diperkirakan mencapai tiga guru BK. Jika baru tersedia satu guru, terdapat kekurangan dua orang berdasarkan patokan yang digunakan dalam simulasi.
Meski demikian, sekolah perlu memastikan kembali dasar perhitungan tersebut dengan ketentuan resmi yang berlaku untuk satuan pendidikan masing-masing.
Sekolah Diminta Memeriksa Data Sebelum Dikirim
Secara keseluruhan, pengisian analisis kebutuhan guru SMK membutuhkan pemeriksaan menyeluruh terhadap jumlah rombel, jam pelajaran, status kepegawaian, program keahlian, dan kualifikasi guru.
Sekolah sebaiknya melakukan pengecekan ulang sebelum menyerahkan data kepada instansi terkait. Dengan begitu, hasil pemetaan dapat menjadi bahan evaluasi yang lebih akurat untuk mengetahui kekurangan maupun kelebihan tenaga pendidik.
Baca Juga: Dikira Suara Anak Kambing, Tangisan Bayi Perempuan Ditemukan di Srengat Blitar Gegerkan Warga, Polis
Informasi dalam tutorial tersebut dapat menjadi referensi awal bagi operator dan pihak sekolah. Namun, keputusan akhir mengenai kebutuhan guru tetap perlu mengacu pada format pendataan serta regulasi resmi yang berlaku.
Editor : Maylanni Diana Fitri