“Pemilu itu pesta demokrasi. Layaknya pesta, semua harus merasa senang dan gembira,” katanya.
Warga asli Kota Blitar ini mengatakan, kontestasi politik 2024 mirip dengan event tahunan yang biasa diikuti oleh masyarakat.
“Jika dianalogikan, (pemilu, Red) seperti lomba balap karung saat momen hari ulang tahun kemerdekaan. Yang ikut lomba bersemangat untuk mendapat hadiah permen, brondong dan gipang (makanan jadul, Red) dan yang melihat lomba ini juga bisa bersorak gembira,” jelasnya.
Pria yang juga calon DPD RI Jatim ini menegaskan, setiap orang bebas memilih calon pada Pemilu 2024.
Namun, hal itu tidak patut diiringi dengan fanatisme yang berlebihan. Apalagi sampai menimbulkan perpecahan dan suasana yang tidak harmonis di tengah masyarakat.
“Jangan sampai ada gontok-gontokan yang tidak perlu, apalagi main fisik. Itu tidak etis,” tegasnya.
Calon Senator Jatim ini juga berpesan agar masyarakat cerdas dalam memilih calon pemimpin dan wakilnya.
“Paling tidak harus memiliki rekan jejak yang baik. Bukan tiba-tiba muncul melalui alat peraga kampanye (APK) yang banyak dipasang di pohon itu,” pungkasnya. (*)
Editor : Agus Muhaimin