BLITAR – Rekapitulasi suara Pemilu 2024 memang belum selesai. Kendati begitu, potensi pergantian atau muncul figur-figur baru di DPRD Kabupaten Blitar bisa menjadi bahan evaluasi partai politik (parpol).
“Ini menjadi indikasi bahwa kerja politik tidak instan. Memberi bantuan saat momen kontestasi tidak membawa dampak signifikan,” ujar pemerhati politik di Blitar raya, David Khumaini.
Menurutnya, tradisi “sedekah” jelang pemungutan suara tidak cocok diterapkan di Blitar Raya. Meskipun masih banyak masyarakat yang tergolong kurang mampu dan demen dengan bantuan jelang coblosan. “Miskin itu tidak melulu soal ekonomi, tapi juga ilmu, jaringan, dan peluang. Mungkin masih ada yang menerima uang, tapi belum tentu itu bisa membeli suara atau pilihan mereka,” katanya soal politik.
Blitar, kata dia, menjadi tempat bersemayam presiden pertama negara ini. Untuk itu, David optimistis di dalam jiwa masyarakat Blitar Raya masih memiliki semangat patriotisme.
“Dekat dengan rakyat adalah karakter yang dibutuhkan,” imbuhnya.
Dia juga mengakui bahwa proses pemilu belum bisa dipastikan. Namun, real count KPU bisa dijadikan indikator atau gambaran awal dinamika politik di Blitar Raya.
Termasuk potensi tumbangnya petahana dan munculnya figur baru yang menjadi wakil rakyat hasil Pemilu 2024.
“Munculnya wajah-wajah baru dan masih banyaknya warga yang memilih partai menjadi bukti nyata.
Masyarakat kita ini sebenarnya jenuh dan bosan dengan janji-janji. Jadi, budaya tandur gati (menanam kebaikan, Red) harus dilakukan,” tegas dia.
David menyesalkan, PDIP sebagai partai yang dinakhodai oleh keturunan Bung Karno memiliki performa yang kurang mantap pada Pemilu 2024 ini.
Menurutnya, partai berlogo banteng ini tidak hanya sebagai leader di Blitar Raya, tapi juga harus menang mutlak seperti pesta-pesta demokrasi sebelumnya.
“Semangat PDIP harusnya lebih berkobar dan bisa menjaga marwahnya di Blitar Raya,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris DPC PDIP Kabupaten Blitar, Supriadi, tidak menampik potensi penurunan kursi di DPRD Kabupaten Blitar.
Kendati begitu, pihaknya juga memberikan apresiasi kepada para kader, caleg, maupun simpatisan yang sudah berusaha optimal untuk memenangkan Pemilu 2024.
“Pada pemilu ini, gempuran untuk PDIP sangat luar biasa, baik itu di pilpres maupun legislatif. Namun harus diketahui pula, bahwa di Kabupaten Blitar, kami masih menjadi juaranya,” ujarnya.
Kuwat sapaan akrabnya menyebut, mesin partai sudah digerakkan sekuat tenaga. Namun, potensi penurunan suara juga harus diakui secara kesatria. Dia juga mengungkapkan, saat ini PDIP sedang melakukan finalisasi pengitungan suara di tingkat kecamatan.
“Jika tidak ada kendala, besok (hari ini, Red) kami selesai penghitungan. Kami akan sampaikan detailnya,” jelas Supriadi.
Pantauan koran ini, progres real count KPU untuk pemilihan DPRD Kabupaten Blitar sekitar 82 persen. PDIP masih unggul dengan perolehan suara sekitar 27 persen atau 142 ribu, disusul dengan PKB sekitar 22 persen atau 117 ribu suara, dan Gerindra dengan perolehan suara sekitar 13 persen. (hai/c1)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila